Tari Oha dan Bu’a yang Sarat Makna

Penulis: ABDILLAH M MARZUQI abdi.zuqi@mediaindonesia.com Pada: Minggu, 10 Des 2017, 03:45 WIB Khazanah
Tari Oha dan Bu’a yang Sarat Makna

Ebet

TELAPAK tangan mereka berpegang erat. Tangan mereka berpegangan. Telapak tangan bertemu dengan lengan penari lain. Terus berjalin seperti itu hingga membentuk sebuah lingkaran. Semua menggunkan kain sarung atau setidaknya hampir semua. Lingkaran itu awalnya kecil. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, banyak orang bergabung dalam tarian. Lingkaran itu menjadi semakin besar. Di antara penari itu terdapat beberapa orang yang seolah menjadi komando penentu gerak dan irama. Mereka pula yang berinisiatif untuk membentuk lingkaran baru ketika jumlah penari semakin banyak dan lingkaran semakin besar.

Lingkaran pertama berada dalam lingkaran yang baru dibentuk. Begitu seterusnya. Mereka menari dengan langkah kaki yang semarak. Hanya kaki mereka yang bergerak kanan dan kiri, sedangkan tangan mereka tetap terpaut erat dengan yang tangan penari lain dalam lingkaran. Beberapa pemimpin berbusana berbeda dengan penari kebanyakan. Mereka menggunakan lonceng-lonceng kecil yang diikat pada kedua kaki yang disebut retung. Dari kaki merekalah irama gemerincing berasal. Seolah menambah semarak berpadu dengan bunyi hentak langkah para penari.

Itulah Tari Oha dari Lembata dan Adonara, Nusa Tenggara Timur. Beruntung malam itu sempat menjadi bagian dari tarian yang kental nuansa kebersamaan dan kekeluargaan. Tidak ada beda antarpenari, semua yang masuk lingkaran itu adalah keluarga. Semua berbagi energi positif melalui tangan-tangan yang terpaut erat. “Itu kalau bahasa daerah itu berarti Oha,” ucap Yohannes Nama. Yohannes Nama ialah salah satu dari beberapa pemimpin tari pada malam itu. Ia bernyanyi dan berpantun yang mengiring setiap gerakan penari. Tari Oha sendiri merupakan tarian kegembiraan di Adonara dan Lembata yang terdiri dari kesatuan gerak, kisah, dan nyanyian.

Tari Oha menjadi salah satu yang menarik dari pembukaan pameran tenun bertajuk Sole Oha pada 18 November hingga 17 Desember 2017 di Museum Tekstil Jakarta. Gelaran itu akan menghadirkan pameran sekaligus cerita kehidupan penenun dari Adonara dan Lembata, Nusa Tenggara Timur, dan tenun Toraja dan Mamasa, Sulawesi. Malam itu, Yohannes menggunakan hiasan kepala yang terbuat dari daun lontar. Daun lontar itu dipotong tipis dan dilingkarkan di atas kepala. Beberapa bagian diberi hiasan daun lontar yang menjulur keatas. Jika dilihat dari kejauhan, itu mirip topi berbentuk burung.

“Ini kalau bahasa daerah bilang kenobo. Ini buat dari daun lontar,” ujarnya sembari menunjuk pada daun lontar ikat kepala yang berada di sampingnya. Tari tradisional Oha berasal dari suku Lamaholot yang tersebar di Lembata, Adonara, Solor, dan Flores Timur. Dalam tarian itu, warga berpegangan tangan, membuat lingkaran, kemudian menari. Selang-seling laki-laki perempuan lebih bagus. Tarian massal seperti Tari Oha tidak membutuhkan kemampuan khusus. Siapa saja bisa. Gerakannya sangat sederhana. Hanya, perlu beberapa penyanyi tradisional yang bernyanyi solo.

Dalam nyanyian itu biasa diceritakan apa pun, termasuk malam itu yang bercerita tentang tenun. “Oha itu cerita tentang asal usul. Macam malam ini, kita cerita tentang tenun-menentun. Ini cerita perjalanan kami dari Adonara, Lembata, sampai ke sini itu. Kami membawa kata-kata itu, ya, asal usul kita menenun kami ceritakan di sini,” terang Yohannes. Tidak ada batasan jumlah penari dalam Tari Oha. Semakin banyak semakin bagus. Setiap orang diberi kebebasan untuk mengikuti Tari Oha. Tidak harus mempunyai keahlian khusus. “Sebanyak mungkin.

Kalau macam gini kalau di sana itu sampai pagi. Kalau ada orang mau lanjut, ya, terus. Di tempat itu Lembata, kalau namanya pesta kadangkadang 2-3 siang malam. Kalau mau menari, ya, menari, lelaki perempuan semua. Yang enggak pernah ikut menari juga boleh sambil menimba pengalaman. Itu juga simbol kekeluargaan,” ujarnya.

Sangat dinamis
Tari Oha sangat dinamis. Mula-mula pemantun menyanyi dengan tempo lambat, kemudian sedang, dan makin lama makin cepat. Ketika tempo cepat dan semakin memuncak, semua penari yang berada dalam lingkaran membuat gerakan kaki secara ritmis. Bisa dibayangkan jika puluhan kaki menghentak secara bersamaan. Di daerah asal, Tari Oha hampir bisa ditemukan pada setiap pesta. “Kalau di sana, macam Tari Oha itu tiap-tiap pesta. Pesta itu misal kata pesta kawin, ataukah macam tahun baru, atau pesta adat. Jadi di sana itu tiap kali pesta pasti ada Oha,” tambahnya.

Muasal Tari Oha pun tidak diketahui. Yang mereka ketahui tarian ini telah ada sejak zaman nenek moyang dahulu. Begitu pula dengan pola gerakan kaki. Sejak semula juga telah ada. “Tata cara Oha itu sudah semula jadi, itu dari turun-temurun. Gerakan kakinya itu kalau ke kanan tujuh, kalau berjalan ke kiri itu tiga kali sentak, tiga kali sentak, baru maju ke tiga kali sentak,” terangnya. Selain Tari Oha, hal yang tidak boleh ketinggalan dalam pesta Lamaholot adalah Bu’a Behin. Dalam acara makan itu, semua tamu undangan dipersilakan makan sepuasnya lalu menari bersama.

“Kalau ini bahasa daerah bilang Bu’a Behin. Tiap-tiap pesta besar pasti ini. Ini wujud syukur juga,” tambah Yohannes. Namun, kini, jumlah pemantun ataupun penyanyi Tari Oha sudah semakin berkurang. Tak banyak yang tersisa. Hanya para tetua yang sudah berumur saja yang masih bisa memantun dan menyanyi untuk Tari Oha. Jumlahnya pun hanya diangka dua puluhan, sedangkan generasi muda rupanya sudah agak enggan melirik tarian yang penuh dengan nilai kekeluargaan itu. “Kalau kayak kami (jumlahnya) lebih kurang dua puluhan.

Kalau di sana itu macam nyanyi-nyanyi kayak tadi itu seumur kami, yang di bawah kami sudah hilang. Karena macam anak-anak muda itu mau laki mau perempuan, itu dia ikut orang barat berjoget, menari, dansa, disko segala macam. Jadi macam Tari Oha hilang,” ungkasnya. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More