Kebahagiaan Serangan Roti

Penulis: bdillah M Marzuqi abdi_zuqi@mediaindonesia.com Pada: Minggu, 10 Des 2017, 03:15 WIB Tifa
Kebahagiaan Serangan Roti

MI/ABDILLAH M MARZUQI

SETIAP penari bersama dengan kursi. Mungkin itu bukan sekadar kursi. Properti panggung itu layaknya juga mampu bersenyawa dengan para penari. Tepatnya, kursi itu pula menjadi penari. Setiap penari berkembang dengan kursi. Ada satu kursi yang tidak pula dapat diajak menari. Terdapat roti di atasnya. Meski demikian, para pemain tak hentinya mencoba membangun interaksi dengan kursi roti itu. Itulah sekelumit kesan dari pertunjukan tari kontemporer yang berjudul Attachi di Pane (Bread Attacks) oleh E.sperimenti Dance Company by GOD. Pementasan itu yang digelar Kedutaan Besar Italia di Jakarta dan Institut Kebudayaan Italia di Gedung Kesenian Jakarta pada 6 Desember 2017.

Pentas itu juga dalam rangka Festival Vivere All Italiana. Festival itu menyajikan seluruh lini kehidupan masyarakat Italia. Tidak hanya itu, pementasan ini simbol keakraban dua negara, Italia dan Indonesia. “Acara ini juga untuk merupakan interaksi, dan upaya untuk bertukar pengetahuan dan pemahaman antara dua negara,” terang Duta Besar Italia Vittorio Sandalli. E.sperimenti Dance Company by GOD adalah ansambel yang mampu menarikan gaya tarian yang berbeda mulai modern, teater-tari, sampai akrobat. Selain pertunjuk­an, E.sperimenti Dance Company by GOD juga menyelenggarakan workshop yang diperuntukkan para penari Indonesia yang berasal dari beberapa lembaga tari di Jakarta, seperti Namarina, Institut Kesenian Jakarta, Nan Jombang Widyarini, Indonesian Dance Society and Balet.id.

Pertunjukan Attachi di Pane dilakonkan tujuh penari. Karya ini telah dipentaskan di Brasil, Amerika Serikat, Rusia, Thailand, Yordania, Palestina, dan Korea Selatan. Attachi di Pane adalah pertunjukan yang membawa tema lawas, tapi sangat aktual, yaitu manusia dalam masyarakat. Roti (pane dalam bahasa Italia) merupakan metafora protagonis dari pertunjukan tersebut. Pentas ini jawaban sederhana untuk sesuatu yang setiap individu berusaha untuk mengisi kekosongan, aspirasi, dan ketakutan. Pertunjukan menunjukkan kebahagiaan dapat ditemukan dalam hal-hal sederhana seperti roti.

“Karena roti hal yang utama. Kebutuhan yang sangat primitif untuk bangsa Italia adalah roti. Inti pertunjukan ini persatuan dan berbagi. Karena itu yang sangat penting untuk meraih sebuah tujuan. Kita tidak bisa sendiri. Jadi harus berlompok, berbarengan dengan orang lain, dan berbagi,” terang koreografer Federica Galimberti.

Diserang akibat roti
Sepanjang 50 menit pertunjukan, pentas ini benar-benar menggambarkan serangan roti seperti dalam judul. Ketika seseorang bisa menjadi sebuah serangan ataupun diserang akibat roti. “Terdapat beberapa serangan yang dialami setiap individu hingga bisa meraih tujuan. Jadi ada serangan lapar, serangan marah, serangan kesepian, serangan panik, serangan massal, serangan cinta, serangan tertawa. Semua itu disusun secara gradasi, dari tingkatan lapar hingga tingkatan tertinggi yakni berbagi,” terus Federica.

Pilihan warna juga menjadi perhatian utama dalam pementasan ini. Upaya pengintiman terhadap tema diwujudkan dengan warna-warna natural. Tidak tampak ada kontras berlebih ataupun warna-warna pop menyengat. Kostum yang digunakan para penari juga menyesuaikan. Mereka memakai busana yang sangat sederhana. Persis seperti pakaian yang digunakan masyarakat sehari-hari. Hasilnya, senyawa indah dari tiap gerak dengan busana dan warna panggung. Nuansa intim mampu dibangun para penari dari atas panggung. Mereka tidak hanya berolah gerak. Melalui gerak dan ekspresi, para penari itu mampu berkomunikasi dan menyampai pesan pada penonton. Runtutan gerak mereka mampu menjelma menjadi rangkaian kata.

Suasana itu makin hidup dengan olahan artistik yang apik. Direktur Artistik Patrizia Salvatori sengaja membuka seluruh tabir penutup panggung. Biasanya bagian sam­ping dan belakang panggung akan ditutup ketika pementasan. Langkah berani dengan membuka setiap celah panggung, sebab penonton akan bisa melihat apa yang ada di belakang panggung. Bisa jadi bakal tidak ada kejutan untuk penonton, sebab mereka bisa menebak sajian apa yang akal muncul. Ternyata tidak, Patrizia dengan sadar melakukan hal itu. Ia menampilkan sisi tertutup panggung untuk sebagai upaya simbolik untuk mewujudkan konsep akar. Hasilnya, pentas yang sangat apik. Artistik panggung berserta tata cahaya mampu mendukung seni gerak dari para penari. Sebuah sajian tari eksperimental yang bisa dijadikan referensi masa kini dan mendatang. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More