Eksplorasi Tiga Seniman tentang Lingkungan Sekitar

Penulis: (Abdillah M Marzuqi/M-2) Pada: Minggu, 10 Des 2017, 02:50 WIB Tifa
Eksplorasi Tiga Seniman tentang Lingkungan Sekitar

MI/ABDILLAH M MARZUQI

BUKAN rahasia lagi setiap seniman pasti menampilkan karya yang paling sesuai dengan niat mereka. Mereka akan melakukan pendekatan karya yang membuat mereka nyaman. Karya mereka lahir dari upaya untuk memahami fragmen informasi yang sadar diserap secara langsung maupun tidak. Itulah sebabnya lingkungan menjadi penyimpan potensi kreativitas dan bertindak sebagai sumber inspirasi. Begitu pula dengan wacana dan referensi dalam benak. Semua itu ialah latar belakang menarik dari sebuah karya.
Tiap-tiap seniman akan memiliki ketertarikan untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang lingkungan sekitarnya. Entah itu norma sosial ataupun konteks lingkungan. Semua tak luput dari ide kreatif mereka. Sebaliknya, lingkungan pula yang bakal menumbuhkan ide mereka. Korelasi bertimbal balik itulah yang coba dihadirkan tiga seniman dalam tajuk Place of Belonging di Ruci Art Space Jakarta pada 9 Desember 2017 sampai 28 Januari 2018.

Ketiga seniman dalam tajuk ini mempunyai nuansa dan corak masing-masing. Glenda Sutardy, Abenk Alter, dan Mark Schdroski menanggapi judul pameran Place of Belonging bahwa tempat tidak hanya merupakan konsep lingkungan fisik, tapi juga keadaan, ketika ranah identitas kesenimanan mereka diperkuat dan diwujudkan melalui karya. Misalnya, Glenda, ia menerjemahkan visi melalui penerapan campuran elektik dari polimer, minyak, dan mineral alami untuk menghasilkan tekstur dan lapisan yang terlihat dalam lukisannya. Ia menyebutnya sebagai ikon meditatif. Glenda mengomposisikan lapisan pigmen alami Jepang yang disebut nihonga.

Manifestasi getaran
Abenk Alter sengaja memilih ber­kerja dengan empat rentang warna, yakni kuning, merah, hijau, dan biru. Warna-warna ini menandakan manifestasi getaran yang ada dalam semua materi. Karya Abenk mencoba menjangkau antara keadaan sadar dan alam bawah sadar. Dia banyak menggambar figur-figur dalam kanvas. Sebelumnya, ia menutup seluruh bidang kanvas dengan fastline yang ia buat tanpa putus. Barulah setelah itu, ia mulai memunculkan figur yang sesuai dengan bayangan dalam pikirannya. Ketika dihadapkan pada pilihan seni rupa dan seni nada, perjum­paannya dengan sebuah teori penciptaan membuatnya banyak mengubah arah berkarya. Garis-garis cepat yang dia sebut fastline akhirnya bisa mewakili konsepnya. “Pas saya dapat teori vibrasi. Fastline itu dapat makna lebih dalam. Itu seperti ma­krokosmos alam semesta, sedangkan figur yang muncul adalah mikrokosmos, makhluk,” terang Abenk.

Sementara itu, Mark punya gaya berbeda. Mark menetap di Hong Kong, 15 tahun yang lalu dan diam-diam melanjutkan aktivitas seninya di sebuah studio. Sebagai pendatang, ia asing dengan bahasa lokal. Mark menemukan dirinya berada di tempat yang tidak biasa. Cahaya terang tanda-tanda jalan Hong Kong, bahasa lokal yang keluar dari mulut orang sekitar, dan pemandangan yang agak samar menghadirkan ­pemandangan yang tidak jelas. Kesan itulah yang lalu dilukiskan Mark.

Pengamatannya terhadap kehidupan sehari-hari disarikan menjadi bentuk non-representasional, yang berfokus pada bentuk dan hubungan dengan dinamika warna yang mencolok ala perkotaan. Ia mengeksplorasi potensi kromatik cat minyak melalui penempatan cat buram tebal. Meski demikian, Mark tidak ingin membatasi citra yang mungkin muncul dari para penikmat seni. Mark justru membuka beragam dialog yang berbeda interpretasi. (Abdillah M Marzuqi/M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More