Dua Telapak Tangan Umirra

Penulis: YUDHI HERWIBOWO cerpenmi@mediaindonesia.com Pada: Minggu, 10 Des 2017, 02:23 WIB Weekend
Dua Telapak Tangan Umirra

PA

KENAPA kau, Umirra? Kurasakan kesedihanmu sepertinya semakin dalam. Kerak air matamu dapat kulihat dengan jelas membelah pipimu. Ini benar-benar membuatku hancur. Kupikir waktu akan menyembuhkan semua. Bukankah kau sudah menyadarinya sejak usiamu 6 tahun? Hingga sekarang, di usiamu 17 tahun, seharusnya kau tahu kalau ini semua memang sudah digariskan padamu. Umirra kesayanganku, aku tentu bisa memahamimu kesedihanmu. Sejak kau bayi, aku tahu ada sesuatu yang berbeda denganmu. Dua telapak tangan mungilmu, entah kenapa menghantarkan hawa panas yang tak semestinya. Dan Amirra –mamamu– yang pertama kali merasakan keanehan itu. Aku ingat bisikannya padaku saat itu, “Tangannya seperti ingin membakar apapun yang disentuhnya.”

Kami kemudian membawamu ke dokter. Tapi sampai beberapa dokter memeriksamu, tak ada satu pun yang bisa menyembuhkanmu. Mereka hanya berkata setengah menyerah, ”Ini sekadar gejala temporer, akan hilang dengan sendirinya.” Tapi hawa panas itu tak pernah hilang. Malah terasa semakin panas saja. Kami sendiri awalnya tak mengatakan apa-apa padamu. Kami merasa kau belum cukup umur untuk mengetahuinya. Tapi saat usiamu 6 tahun, aku melihat kau mulai merasa heran saat kupu-kupu yang ada di tanganmu, hancur sayapnya dan jatuh begitu saja menggelepar-gelepar di tanah.

Kau memandangku tak mengerti. “Papa kenapa kupu-kupu ini mati?” Aku hanya bisa menjawab dengan jawaban yang kucari-cari. “Mungkin, ia memang sedang sakit, Sayang.”. Aku tahu, sejak itu, kau mulai menyadari ada sesuatu yang aneh di kedua tanganmu. Aku bisa menebak kalau hidupmu akan berbeda dari gadis-gadis kecil lainnya. Kau nyaris tak memiliki barang-barang kesayangan. Boneka-boneka yang kubelikan selalu hancur perlahan-lahan, juga mainan-mainan lainnya. Kau sendiri mulai terganggu dengan tanganmu. Untuk mengurangi hawa panas yang berlebihan, aku juga menyediakan sebaskom air es di dekatmu. Bila kau telah tak tahan dengan hawa panas yang keluar, kau akan memasukkan tanganmu ke situ.

Aku juga menyediakan sarung tangan untukmu. Awanya sarung tangan biasa. Namun itu selalu rusak dalam dua hari berselang. Aku pun kemudian mulai membelikan sarung tangan tebal yang biasa dipakai di daerah dingin. Setidaknya itu bisa bertahan sekitar 2 minggu. Biasanya, aku akan melontarkan gurauan saat kau memakainya, “Lihat, sarung tangan buatan luar negeri memang jauh lebih kuat...“ Awalnya tentu kau juga terlihat gembira. Tawamu masih terdengar menggemaskan. Tambahan pertanyaan-pertanyaanmu yang macam-macam, seperti: “Kenapa aku harus melakukan ini, tapi Niken dan Auri tidak?” Dan aku harus mencoba menjawabnya selucu mungkin.

Sayangnya kegembiraan itu tak lama. Hanya dua tahun berselang, kau sepertinya mulai sadar, kalau kau memang berbeda dari lainnya. Sejak itu, kau tak bertanya-tanya lagi. Aku bahkan melihatmu, enggan menyentuh apa-apa. Bahkan menyentuh diriku. Kau akan lebih banyak berdiam diri di kamarmu. Memandang jendela yang menghantarkan pemandangan indah di kejauhan. Saat kau berumur 13 tahun, aku pernah mengajakmu menonton film Frozen. Film yang begitu hebohnya, sehingga anak-anak begitu menggilainya. Seharusnya ada Amirra bersama kita. Tapi sejak 5 tahun yang lalu, mamamu telah pergi meninggalkan kita. Jadi hari itu, hanya kita berdua saja yang menyaksikan film itu.

Sebelumnya aku tak terlalu tahu cerita film ini. Tapi saat film berlangsung, perasaaku tiba-tiba terasa tak enak. Dua kakak-beradik yang menjadi tokoh utama di film ini harus berpisah karena sang kakak memiliki kutukan di dua tangannya. Apa pun yang disentuhnya akan membeku menjadi es. Aku tiba-tiba merasa salah telah mengajak dirimu menonton film ini. Tapi aku mencoba menghibur diri saat melihat akhir film yang bahagia. Saat semua orang mulai keluar dari bioskop, kau tak juga beranjak. “Tangan Elsa... tak jauh berbeda dengan tanganku, Papa...” ujarmu.

Aku tak langsung menjawab. “Ya, tak jauh berbeda. Dan kau bisa lihat bukan, akhir ceritanya? Semua berakhir indah pada waktunya.” Kau hanya diam dan mulai bangkit dari kursimu. “Itu hanya film, Papa. Film harus berakhir bahagia untuk menyenangkan siapa pun yang sudah membayar tiket. Apalagi... ini film untuk anak-anak...” Sebelum kujawab, kau sudah melangkah ke luar. “Lagian... aku tak suka film ini. Elsa terlalu berlebihan. Seharusnya ia tak begitu. Yang dilakukan kedua tangannya hanya membekukan segala hal. Bukankah tetap ada harapan dari semua yang membeku?”

Kau memandangku sejenak, “Tapi... tidak dengan dua tanganku. Semua hancur di tanganku. Semua mati. Tentu yang hancur dan yang mati, tak punya harapan apa-apa...” Kesedihan memang telah bersemayam di rumah kami yang kecil. Tak pernah lagi ada tawa, tak pernah ada kegembiraan. Sampai bertahun-tahun aku masih mengupayakan itu semua. Aku banyak menyetel film-film komedi, dan mengajakmu menonton bersama. Aku juga akan tertawa keras di scene-scene yang lucu. Tapi kau selalu tak bereaksi. Lama-lama film pun terasa hambar.

Hampir 4 tahun lewat, aku nyaris menyerah. Kau seperti telah mendapatkan duniamu sendiri. Kamarmu yang selalu tertutup. Musik yang kau setel pelan-pelan. Hanya sesekali kau keluar dari kamarmu untuk ke halaman belakang rumah. Seperti hari ini... Dari arah jendela kamar, aku melihatmu menolong anak burung yang terjatuh dari pohon. Aku tahu, kau ingin segera mungkin menolong burung itu, dan mengembalikan ke sarangnya. Tapi yang terjadi, hanya beberapa saat di tanganmu, burung kecil itu mati. Sayap-sayapnya seperti gosong terbakar.

Aku sedih melihatmu begitu bersedih menatap anak burung itu. Aku segera keluar untuk memeluk pundakmu. “Padahal aku hanya menyentuhnya sebentar saja,” isakmu. Aku hanya bisa memeluknya erat-erat. Tapi seperti biasa, kau akan melepasnya. Kali ini dengan sinar mata yang tak bisa kutebak, seakan ada sebuah pikiran yang tiba-tiba mengganggu dirimu. “Papa...” kurasakan getaran di suaramu, “apakah mama meninggal... karena aku?” Aku terkejut. “Tentu saja bukan,” jawabku cepat. “Sejak aku kecil, mama yang selalu memelukku. Dan papa tahu bukan, apa yang terjadi dengan semua hal yang selalu kupeluk? Guling-guling... sarung tangan... dan boneka-boneka itu... semuanya perlahan-lahan hancur...”

Aku tercekat dengan apa yang dipikirkannya “Papa... tak usah menyembunyikannya lagi.” “Aku tentu tak menyembunyikan apa-apa. Mamamu memang pergi karena sakit...” Dan kau tak berkata-kata lagi. Tapi aku tahu, pikirannya menjadi begitu bergejolak. Kini kau bukan lagi gadis kecil seperti dulu. Kau telah berusia 17 tahun, dan bisa menyimpulkan segalanya sendiri. Selang beberapa hari dari hari itu, kutemui kau tengah mencoba memotong tanganmu dengan pisau dapur. Teriakan pendekmu, membuatku tahu ada sesuatu dalam kamarmu. Maka aku pun segera mendobrak pintu.

“Anak bodoh! Apa yang kau lakukan?!” Aku segera mengikat tanganmu, agar darah tak terus keluar. Kau tak menjawab. Kau hanya menangis. Aku segera menggendongmu keluar. Kududukkan dirimu dalam kursi mobil. Lalu kunyalaklan mobil secepat yang kubisa. Kepanikan tak juga hilang sepanjang perjalanan. “Papa...” suaramu membuatku menoleh, “maafkan... aku... ” “Jangan lakukan itu lagi. Berjanjilah padaku!” Kau tak berkata apa-apa. Kau dapat selamat hari itu. Tapi tak bisa kupungkiri semua menjadi semakin buruk. Ruangan kamarmu pelan-pelan terasa hancur. Dipan, kursi dan meja belajar, seperti melapuk dan patah, dinding menghitam seakan ada bara api yang terus menyala, dan 2 AC yang ada di kamarmu tak bisa lagi bisa menyala.

Hari saat kau akan memotong tanganmu adalah hari yang paling menakutkan bagiku. Sejak itu aku mengambil kunci kamarmu dan tidur di ruang tengah, agar sewaktu-waktu dapat tahu apa yang terjadi di kamarmu. Aku terus mencoba untuk tidak menyerah. Aku tak ingin kalah. Tapi kesedihan ini benar-benar telah meruntuhkan sebuah bentuk kegembiraan yang tersisa. “Papa... semua semakin mengerikan,” ujarmu dengan nada muram. Aku diam. Kucoba memegang tanganmu yang memakai sarung tangan tebal. Tapi lagi-lagi, kau menepisnya perlahan.

“Apa papa pernah membayangkan, apa yang kurasa di tubuhku?” Aku terdiam. Itu pertanyaan yang dulu kerap kutanyakan padamu. Dan kau selalu menjawab, “Tak ada apa-apa di tubuhku.” Tapi kini, kau malah balik menanyakannya padaku. “Apakah... kau merasakan sakit?” tanyaku. Kali ini kau mengangguk. Sungguh, anggukan yang nyaris tak terlihat itu begitu meremukkan hatiku. “Semua tak akan menjadi baik, Papa...” ujarmu lagi. “Selalu akan ada jalan, Sayang...” “Sampai kapan Papa? Sampai semua hancur? Termasuk... papa?” Aku tak bisa berkata apa-apa. Ingin sebenarnya kukatakan, tak mengapa semua hancur termasuk diriku, asal kau dapat sembuh dari sakitmu. Tapi kupikir jawaban itu tak tepat kulontarkan kali ini.

Malam ini, semua seperti bergerak lebih lambat. Kesunyian seperti ada di titik paling sempurna. Sesempurna penderitaan yang bisa diberikan Tuhan padamu. Esok paginya, aku menemukanmu masih terlelap di pembaringan. Matamu terpejam dengan senyuman yang membuatku senang. “Sayang...” aku menyentuhmu. Tapi tak ada jawaban. Hanya selimut yang kusentuh tiba-tiba terjatuh di lantai, seiring jatuhnya dua sarung tangan yang biasa kau pakai. Aku tercekat. Tubuhku tiba-tiba gemetar, terlebih saat kulihat dua telapak tanganmu yang kau tempelkan di dadamu. Aku terpuruk dalam tangisanku. ***

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More