Anak Rusun, Bersatu dalam Perbedaaan

Penulis: SURYANI WANDARI PUTRI PERTIWI anak@mediaindonesia.com Pada: Minggu, 10 Des 2017, 01:05 WIB MI Anak
Anak Rusun, Bersatu dalam Perbedaaan

Operet Aku Anak Rusun yang diselenggarakan Reachout Foundation, Sabtu (25/11). DOK PRIBADI

BONEKA dakocan ukuran besar itu terlihat lucu dan menggemaskan, apalagi dia memakai rok dan bando berwarna cerah. Tak mengherankan jika Munil, anak paling kecil yang tinggal di rumah susun (rusun) itu, sangat ingin memilikinya. Namun, sayang, ia tidak punya bayak uang untuk membelinya. Kesedihan Munil ini menjadi kesedihan 10 anak penghuni rusun lainnya, lo. Ya, meskipun berasal dari beragam suku, memiliki hobi yang berbeda, dialek berbicara pun berbeda, mereka hidup rukun dan saling memberi semangat, lo, sobat. Bahkan lima orang di antara mereka yang juga merupakan anggota tim bola berjanji akan membelikan Munil boneka dari hasil kemenangan bertanding.

Akan tetapi, sobat, permasalahan pun mulai muncul, lo. Apa, ya? Yuk ikuti kisahnya bersama Medi dan Andhika Prayoga Kiswoyo, reporter cilik 2017, menonton Operet Aku Anak Rusun dari Reachout Foundation, Sabtu (25/11).

Indahnya keberagaman
Sobat, siapa yang pernah menonton operet ini sebelumnya? Ya, operet yang dilaksanakan Sabtu (25/11) di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki merupakan pertunjukan kedua kalinya lo. Operet ini pun musikal hasil karya anak rusun yang mengangkat cerita mengenai kehidupan rumah susun di wilayah Jakarta dan sekitarnya yang kaya akan keberagaman budaya. “Operet Aku Anak Rusun membawa satu pesan tentang indahnya persatuan dalam perbedaan. Walaupun banyak keragaman di rumah susun, anak-anak tetap bersahabat
dan menghargai satu sama lain.

Ini merupakan lambang dari asas Bhinneka Tunggal Ika yang dimiliki Indonesia,” kata Dovieke Angsana, Ketua Panitia Operet Aku Anak Rusun. Sebanyak 141 anak rusun dan tambahan 20 penari profesional yang terlibat dalam drama musikal ini lo sobat. Ya, mulai dari paduan suara, penari, dan para pemeran utama pun terdiri dari anak-anak berusia 6-17 tahun yang berasal dari rusun berbeda-beda seperti Rusun Tipar Cakung, Rusun Pulogebang, Rusun Albo (Cakung Barat), Rusun Tambora dan Rusun Marunda.

Kakek gulali
Siapa yang suka makan gulali? Itu, lo, penganan yang dibuat dari pintalan gula, biasanya dibentuk bermacam-macam. Seperti tajuk operetnya yang berjudul Ada Gulali di Hatiku, ternyata Munil dan kawan-kawannya juga menyukainya, lo. Bahkan gulali yang biasanya dibuat Kakak Gulali itu seperti menjadi keberuntungan bagi mereka karena kakek gulali pernah berkata, “Biarlah yang manis ada di antara kita agar kita tetap ceria dan beruntung.” Namun, saat mereka bertanding sepak bola agar hadiahnya dibelikan boneka dakocan
untuk Munil, mereka merasa ragu.

Kakak gulali yang selalu memberikan gulali keberuntungan itu tak pernah muncul lagi. Mereka pun memiliki ide untuk membuat piala berbentuk gulali sebagai simbol keberuntungan. Namun, rupanya piala gulali itu pun hilang dicuri tim lawan lo sobat. Mereka pun berjuang dengan gigih untuk menang. Tahukah sobat rupanya mereka salah mengartikan maksud dari perkataan kakek gulali, lo. Sebenarnya itu merupakan simbol dari keberagaman suku dan budaya anak-anak yang tinggal di rumah susun. Persahabatan tersebutlah yang membuat persahabatan mereka semanis gulali. Ya, akhirnya mereka pun menang lomba sepak bola dan bertemu sang kakek gulali.

Lagu aransemen
Melihat operet memang pasti kita dimanjakan bukan hanya dialog, melainkan juga musik dan penampilan tarinya, ya. Khusus di operet ini terdapat 20 lagu anak-anak dan daerah yang telah diaransemen ulang oleh Andre Lizt dari Soundkestra dengan gaya unik, di antaranya Pelangi-Pelangi yang diaransemen secara dangdut, Dakocan dengan aransemen bergaya Disney, dan Bungong Jeumpa yang dibawakan dengan nuansa Broadway. Oh, ya, Sobat Medi, ada juga penampilan Eyang Titiek Puspa bersama Duta Cinta yang membawakan lagu Kau dan Aku Indonesia dan Gita Gutawa dengan lagu Bungong Jeumpa dan Yamko Rambe Yamko serta Fira Christanto bernyanyi lagu Tanah Airku dan Maju tak Gentar.

Tak hanya itu, pertunjukan hari itu pun mengalokasikan 50% tempat duduk bagi murid-murid sekolah dan anak-anak panti asuhan lo. “Melalui pertunjukan ini anakanak dapat mengenal kembali lagu populer dan lagu daerah yang merupakan warisan budaya Indonesia,” kata Adhitya R Fransiscus, General Secretary Reachout Foundation. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More