Uang Bambu dan Taman Bacaan di Papringan

Penulis: SURYANI WANDARI PUTRI PERTIWI mediaanak@mediaindonesia.com Pada: Minggu, 10 Des 2017, 00:47 WIB MI Anak
Uang Bambu dan Taman Bacaan di Papringan

MI/WANDARI

MENYUSURI jalan setapak dari bebatuan dengan kanan dan kirinya dipenuhi pohon bambu, Medi melangkah bersama puluhan orang lainnya. Bukan hanya jalan-jalan ke kebun bambu di atas bukit perkampungan warga, Minggu (19/11), Medi pun akan berbelanja. Enggak percaya? Di Desa Ngadimulyo, memang terdapat pasar unik, Pasar Papringan. Selain nyaman karena berada di kebun bambu yang dikenal sebagai peneduh, pasar ini punya keistimewaan lain lo. Mau tahu? ikuti Medi ya!

Nilai tukar bambu
Tahu tidak sobat, Indonesia ternyata memiliki lebih dari 100 jenis bambu dari total 1.250 jenis bambu di dunia loh. Sejak dulu, bambu pun sudah dikenal banyak manfaatnya, mulai akar yang berfungsi sebagai penahan erosi guna mencegah bahaya banjir. Daunnya untuk alat pembungkus, misalnya makanan kecil seperti uli dan wajik, hingga batangnya untuk beragam kebutuhan seperti pagar, furnitur, hiasan hingga mainan lo. Yang menarik di pasar ini, bambu dipakai sebagai alat tukar transaksi jual beli. Mereka menyebutnya pring, yakni mata uang dari bambu dengan nominal Rp2.000 setiap keping.

Ini juga yang menjadi muasal nama pasarnya bernama Papringan. Untuk mendapatkan pring berbentuk persegi panjang ukuran kecil itu, pengunjung pasar harus menukarkan uang rupiah ke stan penukaran pring di tiga titik lo.

Tempat pembuangan sampah
Menurut Bapak Muhamad Amin, Kepala Desa Nadimulyo, penggagas Pasar Papring an dan juga Direktur Spedagi, dulunya tempat ini hanya sebatas halaman yang digunakan penduduk setempat untuk pembuangan sampah. “Dulunya tempat ini memang tempat pembuangan sampah tapi sekarang kami bergotong royong membangun mimpi sehingga memiliki ruang yang luas untuk berkreasi,” kata Pak Muhamad Amin. Namun Sobat, sejak penyelenggaraannya 5 bulan yang lalu pasar ini terus menyita perhatian wisatawan Nusantara.

Hal itu dikatakan Pak Singgih Susilo Kartono, yang juga penggagas. “Pengunjung pasar terus meningkat setiap gelaran dua bulan sekali ini. Bahkan hari ini melebihi kapasitas hingga 4.000 pengunjung,” kata Pak Singgih. Pak Singgih pun yakin keberadaan pasar di tengah kebun bambu yang memiliki keindahan alam desa ini menjadi magnet besar yang bisa menarik orang untuk datang kembali ke desa. Pasar ini memang menawarkan keindahan desa yang sesungguhnya lo sobat. Kalian tidak akan menemukan plastik untuk membungkus suatu makanan.

Para pedagangnya hanya memakai daun pisang atau besek dari bambu. “Takut kanker kalau pakai plastik, mending pakai daun saja biar lebih enak kemanakannya juga,” kata Bu Endah Estiningsih, penjual samir atau opak dansambal. Belanja di sini, kalian pun bisa menikmati kuliner jajanan ndeso, seperti sego jagung, dawet ayu, pepes, klepon, cenil, dan gethuk yang bahannya asli hasil tani. Untuk kerajinan, kamu bisa belanja mainan dari bambu seperti pistol, bedil-bedilan, hingga baling-baling bambu. “Untuk baling-baling bambu bisa dibeli 1 pring, sedangkan bedil bisa 2 pring. Anak-anak bisa kembali lagi bermain tradisional, di tengah hebohnya gadget,” kata pak Muhtabirin, penjual mainan dari bambu

Taman bermain baru
Tak hanya berbelanja, pasar ini pun kini menyediakan Taman Bermain Ngadiprono yang dirancang secara khusus sebagai wadah aktivitas sosial lintas generasi. Taman Bermain itu diresmikan Minggu (19/11) oleh Pak Muhamad Amin, Komisaris Independen BCA Cyrillus Harinowo, Executive Vice President Corporate Social Responsibility (CSR) BCA Inge Setiawati, serta Direktur Spedagi Singgih Susilo Kartono, dan Ketua Komunitas Mata Air Imam Abdul Rofi q. Ya, PT Bank Central Asia memang membantu merealisasikan pembangunan Taman Bermain Ngadiprono yang dirancang sebagai area bermain anak dan keluarga di lingkungan Desa Ngadimulyo.

“Semoga pembangunan Taman Bermain Ngadiprono ini dapat bermanfaat menjadi wadah interaksi antar warga Desa Ngadimulyo yang memungkinkan pewarisan keterampilan dan kearifan lokal dari satu generasi ke generasi berikutnya,” kata Pak Cyrillus. Selain taman bermain, kini ada Keong Bambu sebagai halte perpustakaan keliling serta instrumen permainan tradisional bermaterial alam seperti ayunan, jungkat jungkit, panjat bambu, gapyak, egrang, dan dakon. Berbeda dengan pasar yang digelar sebulan dua kali, yakni pada Minggu pon dan Minggu wage, taman bermain ini terbuka untuk umum tiga kali dalam sebulan. Yuk main ke pasar! (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More