Karate, Kemandirian dan Persistensi

Penulis: M Taufan SP Bustan muda@indonesia.com Pada: Minggu, 10 Des 2017, 00:14 WIB MI Muda
Karate, Kemandirian dan Persistensi

DOK PRIBADI

KEINGINAN untuk membanggakan orangtuanya menjadi penyema­ngat Huggies Yustisio, atlet karate, hingga lolos ke Pelatihan Nasional (Pelatnas) Asian Games 2018. Kini, ia terus bersiap mengikuti seleksi akhir untuk menentukan tiketnya mengikuti kompetisi olahraga terbesar di Asia itu. Huggies yang masih duduk di bangku kelas III SMAN 1 Solok, Sumatra Barat, ialah peserta pelatnas paling muda. Namun, ia optimistis bisa membanggakan kedua orangtua juga negara dalam kejuaraan di Jakarta dan Palembang nantinya. Berikut petikan wawancara Muda bersama pemuda yang ingin masuk ke Akademi Kepolisian (Akpol) ini, di Jakarta, Jumat (1/12).

Ceritakan dong perkenalan kamu dengan karate?
Sejak masih kelas 1 SD, sejak umur 7 tahun, saya mengenalnya dari serial film laga, Bruce Lee, Jackie Chan. Kebetulan tidak jauh dari rumah ada Dojo Solok Nan Indah (SNI), saya latihan tiap pulang sekolah. Sampai sekarang dojo itu masih ada. Sekarang saya sudah bergabung di Perguruan Karate Institut Karatedo Nasional (Inkanas), tetapi masih sering ke sana. Di Dojo itu, saya tidak hanya tangkas bela diri, tetapi jadi pribadi yang disiplin waktu.

Sejak kapan eksis di berbagai kejuaraan?
Saya mulai berprestasi sejak umur delapan tahun, setahun berlatih, ikut kejuaraan daerah (kejurda) karate usia dini 2008. Saya pemenang satu dan mewakili Sumatra Barat mengikuti kejurnas di Jakarta. Setelah itu, saya terus mengikuti kejuaraan daerah, nasional, hingga internasional. Saya pernah meraih emas pada Kejurda Federasi Olahraga Karatedo Indonesia (FORKI) di Padang. Emas lagi di Porprov 2016, menyusul emas dari Kejurnas Panglima TNI 2017. Kemudian, perak dalam kejuaraan Inkanas di Cibubur 2010.

Masih ada waktu buat hobi?
Sehari-hari saya disibukkan latihan dan latihan karate, tapi sebenarnya saya juga suka bermain sepak bola dan membaca. Sepak bola menyehatkan tubuh juga meng­ajarkan bekerja sama dalam tim dan menghargai satu teman. Kalau membaca, bisa menambah banyak wawasan. Apalagi saya bercita-cita menjadi anggota kepolisian. Insya Allah setelah lulus SMA mendaftar. Harapan saya bisa lolos sehingga lebih membanggakan orangtua dan mengabdi untuk negara.

Pendapatmu tentang perkembangan karate di Indonesia?
Secara umum sudah sangat baik, atlet begitu banyak dan hampir merata di seluruh wilayah Indonesia, berprestasi luar biasa, termasuk pengurus daerah hingga pusat sudah sangat baik memperhatikan atlet, saya rasakan itu. Apalagi dalam pelatnas ini, semua sangat profesional, atlet benar-benar fokus dan optimistis bisa berhasil.

Agenda kamu ke depan?
Selagi masih di pelatnas, ingin lolos seleksi Asian Games ini, mumpung masih muda atau junior. Persiapan saya sudah cukup, fisik, teknik, dan mental. Saya pun sudah masuk satu tahun penuh latihan, sejak di daerah dan sekarang di pelatnas. Memang seleksinya ketat karena semua yang terpilih senior dan berprestasi gemilang. Namun, insya Allah kerja keras saya selama ini membuahkan hasil. Seleksi tinggal menghitung hari, mulai 9 sampai 10 Desember, di Jakarta. Selain persiapan dan seleksi pelatnas ini, saya tengah bersiap mengikuti kejuaraan Japan Karate Sotokan di Bandung, Jawa Barat, 15 sampai 17 Desember, semuanya sekalian latihan di sini. Di Bnadung, saya berharap bisa menjadi pemenang.

Motivasi kamu menggeluti karate?
Sebenarnya apa pun bidangnya, kita pasti bisa berprestasi. Namun tergantung individu anak-anaknya, kalau saya, memilih karate karena memang ingin berprestasi dan itu saya buktikan dengan kerja keras. Jika ingin menggeluti olahraga ini, pertama kemauannya dulu, latihan sungguh-sungguh dan jangan ada beban. Masak orang bisa, kita tidak bisa, karena sama-sama latihan. Itu sih motiviasi terbesar saya. Penting juga dukungan dari orang-orang sekitar, terlebih orangtua. Pokoknya selalu optimistis dan jangan sama pesimistis, terus berusaha dan berdoa, pasti akan ada jalan untuk meraih prestasi.

Cara kamu atur sekolah dan latihan?
Sekolah sebenarnya tidak terganggu sih karena saya ikut pelatnas juga didukung, jadi semua urusan sekolah diberi kompensasi. Namun, karena ikut pelatnas ini, paling berasa karena saya harus mengorbankan waktu bermain bersama teman. Ya, mau tidak mau memang saya harus korbankan masa muda, demi prestasi ini. Apalagi juga sebelum pelatnas, hari-hari saya latihan dan latihan. Pulang sekolah istirahat sedikit, terus lanjut di dojo, hampir begitu setiap hari setahun terakhir ini. Alhamdulillah teman-teman semua paham dan memberi saya semangat luar biasa, jadi saya tetap fokus.

Ada masukan terkait dengan pengembangan olahraga ini?
Saya hanya ingin agar pemerintah lebih memperhatikan atlet, jangan hanya saat berprestasi, kemudian disanjung, setelah itu malah diabaikan. Saya tidak mau seperti itu karena prestasi itu bukan semata untuk kepuasan diri sendiri, melainkan juga untuk daerah dan negara. Paling tidak, saya bisa diperhatikan saat mengikuti tes Akpol nanti, terlebih memang saya ingin mengabdikan diri untuk bangsa dan negara.

Jika lolos seleksi Asian Games, apa harap­an terbesar?
Ini mimpi terbesar saya, meraih emas dan mengibarkan bendera Merah Putih. Selama ini saya sudah berprestasi, tapi kurang kalau belum berhasil medali dalam Asian Games karena itu tolok ukur saya selain kejuaraan karate dunia lainnya. Makanya, saya berharap seleksi berjalan sesuai dengan aturan, tidak ada permainan wasit ataupun pengurus. Semua ini harus dijalankan dengan baik sehingga atlet yang memang memiliki bakat dan pantas dipertahankan diikutkan sesuai dengan kriteria. Meski saya paling muda dan sekarang bermain di kumite 67 kg, saya sangat optimistis bisa lolos.

Pembelajaran dari karate buat kamu?
Kemandirian, bisa menghasilkan uang sendiri karena memang sering menang dan meraih uang untuk membayar biaya sekolah dan ditabung. Karate ini bisa meringankan sedikit beban orangtua, ayah saya tukang ojek dan ibu meng­urus rumah tangga. Saya selalu berdoa, apa yang saya lakukan bisa berhasil, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk bapak, ibu, dan kakak. Itu motivasi utama dan penyemangat. Karena itu, harus benar-benar fokus berlatih sehingga bisa meraih cita-cita itu. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More