Bumi semakin Benderang di Malam Hari karena Polusi Cahaya

Penulis: MI Pada: Sabtu, 09 Des 2017, 14:40 WIB Eksplorasi
Bumi semakin Benderang di Malam Hari karena Polusi Cahaya

AFP/Jewel Samad

SAAT ini sejumlah kota, perusahaan, dan rumah tangga beralih ke lampu light-emitting diode (LED) dengan tujuan menghemat energi. Namun, popularitas lampu tersebut justru mendorong terjadinya peningkatan polusi cahaya di seluruh dunia.

Para ilmuwan menyatakan kondisi tersebut sebagai ancaman bagi kesehatan manusia dan hewan.

Menurut penelitian, lampu tersebut dapat mengganggu jam biologis manusia, meningkatkan risiko kan­ker, diabetes, dan depresi. Lampu tersebut juga bisa membunuh serangga serta mengganggu migrasi burung dan penyu laut.

Studi internasional yang dipimpin Christopher Kyba dari GFX German Research Centre for Geoscience menyatakan hal tersebut benar adanya melalui bukti-bukti yang mereka miliki. Dalam studi pada jurnal Science Advances, data satelit menunjukkan pada malam hari di bumi semakin cerah dan cahaya buatan yang di­nyalakan di luar ruangan naik sebanyak 2% setiap tahunnya.

Data yang dikumpulkan dari 2012 hingga 2016 tersebut diambil dari radiometer satelit kalibrasi yang pertama kali dirancang khusus untuk lampu malam (visometer infra­merah imager radiometer/VIIRS). Radiometer itu dipandang pada satelit NOAA Suomi-NPP yang sudah mengorbit sejak Oktober 2011.

Studi yang menganalisis lampu malam selama Oktober tersebut melaporkan jarang terjadi penurunan pencahayaan, penurunan hanya terjadi di lokasi perang seperti Suriah dan Yaman. Peningkatan justru terjadi di banyak tempat.

“Dengan sedikit pengecualian, pertumbuhan pencahayaan terjadi di seluruh Amerika Selatan, Afrika, dan Asia,” ujar Franz Holker dari Leibniz Institute of Freshwater Eco­logy and Inland Fisheries di Berlin, yang juga salah satu peneliti dalam laporan tersebut.

“Banyak orang menggunakan cahaya pada malam hari tanpa memikirkan biayanya,” kata Holker. “Bukan hanya ongkos ekonomi, melainkan juga biaya yang harus Anda bayar dari sudut pandang ekologi dan lingkungan hidup.”

Sebuah studi ekologi ekonomi pada 2010 menyatakan kelebihan cahaya pada malam hari tidak hanya membahayakan habitat alami dan mengancam binatang, tetapi juga menghabiskan biaya hampir US$7 miliar setiap tahunnya dan berdampak negatif pada satwa liar, kesehatan, astronomi, dan pemborosan energi.

Karena biayanya murah dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat, semakin banyak tempat memasang pencahayaan luar rua-ng­an, menurut para ilmuwan. Selain itu, pengembangan daerah-daerah permukiman semakin merambah ke kota-kota yang lebih jauh.

“Di negara-negara berkembang, daerah-daerah pinggiran dari kota-kota utama semakin terang benderang dengan lebih cepat,” kata Kyba.

Bagi para ahli yang memahami bidang tersebut, masalah ini bukanlah hal yang baru karena sudah dibicarakan selama bertahun-tahun.

Untuk mengurangi masalah tersebut, dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti menggunakan lampu intensitas rendah, mematikan lampu saat meninggalkan ruangan, serta memilih lampu bercahaya kuning ketimbang menggunakan lampu LED bercahaya putih. (AFP/Sciencedaily/*/L-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More