Hijrah Bang Tato Sebarkan Paham Deradikalisasi

Penulis: Ferdian Ananda Majni Pada: Sabtu, 09 Des 2017, 12:41 WIB Jendela Buku
Hijrah Bang Tato Sebarkan Paham Deradikalisasi

MI/Caksono

ISTRI hamil berapa bulan sekarang, To? Sehat-sehat kandungannya?” tanya saya kepada Lalan sore itu. Katanya, sudah hampir 5 jam ia menunggu di ruang tengah untuk bisa mengobrol dengan saya. Hari hampir magrib.

“Sudah enam bulan, A,” jawabnya. “Alhamdulillah, istri ngaji terus setiap hari.”

Ia kemudian menceritakan bagaimana akhirnya bisa menikahi putri Pak Ustaz. Nurmah, namanya. Konon, waktu itu ia baru saja berhijrah. Ia sering ikut pengajian Sang Ustaz di rumahnya dan Nurmah sering menyuguhi tamu dengan makanan atau minuman. Bermula dari sekilas saling pandang, pada satu titik Lalan memberanikan diri untuk melamar Nurmah kepada ayahnya.

“Emang sudah punya apa?” tanya Pak Ustaz kepadanya. Agak sinis.

Lalan menggelengkan kepala.

Udah kerja?” kejar Pak Ustaz lagi. “Sekarang ngapain?”

Ia menggelengkan kepala lagi. “Ngeband, Pak Haji.”

Ustaz itu menggeleng-gelengkan kepala. Namun, ia panggil juga putrinya. Tak disangka ia mengatakan kepada Nurmah bahwa Bang Tato melamarnya. Mendengar kabar itu, putrinya kaget tentu saja.

“Kamu udah mantep?” tanya Pak Ustaz kepada Lalan.

“Insya Allah, Pak Haji.”

Penulis produktif Indonesia, Fahd Pahdepie, kembali meluncurkan buku teranyarnya berjudul Hijrah Bang Tato. Novel diangkat dari kisah nyata seorang preman berhijrah. Ia menilai perjalanan hijrah Bang Tato atau Lalan Maulana ini terbilang menarik. Meski Bang Tato seorang biasa, ada kisah-kisah unik yang perlu diketahui banyak orang.

Buku ini mencoba membangun sebuah kontranarasi dan populisme Islam terhadap radikalisme serta terorisme. Tentunya, fenomena radikalis­me agama selama ini menjadi topik hangat di tengah masyarakat umum. Isu radikalisme kerap kali disebut dengan istilah hijrah. Fahd Pahdepie yang dikenal sebagai penulis bertemakan cinta itu mengangkat fenomena radikalisme agama di karya terbarunya. Ia sekaligus melakukan eksperimen sosial terhadap fenomena hijrah yang menurutnya cenderung dekat dengan narasi radikalisme.

Menginspirasi banyak orang
Novelnya diangkat dari kisah sosok radikal, rasialis, dan penuh amarah ini berhasil menggungah dan mengispirasi banyak orang untuk berubah. Dengan latar waktu di akhir dekade 1990-an, penulis memberikan gambaran menarik tentang situasi sosial Indonesia di masa tersebut.

Buku yang diterbitkan Bentang Pustaka ini tuntas mengambarkan pertualangan sosok Bang Tato yang mengalami berbagai peristiwa dan harus membuatnya kembali banting setir. Namun, jalan untuk menuju kebaikan tak semulus yang dibayangkan. Banyak pemuka agama menentangnya karena rajahan di tubuhnya.

Berbagai epik dikisahkan penulis yang sukses dengan Angan Senja dan Senyum Pagi itu. Menurutnya, isu-isu radikalisasi agama maupun terorisme kian gencar berembus di masyarakat umum. Lewat novel Hijrah Bang Tato dia ingin menyebarkan paham deradikalisasi, yaitu strategi untuk menetralkan paham yang dianggap radikal apalagi Islam sering kali menjadi kambing hitam.

Novel yang ditulis secara fiksi tapi terinspirasi oleh kisah nyata itu diakuinya memang memiliki pesan deradikalisasi. Isu yang selama ini diperjuangkan Fahd. Buku ini semacam biografi yang menceritakan kisah Bang Tato sebagai sosok yang mengalami berbagai macam fase dan perubahan. Hijrah versi Bang Tato ini hijrah dalam pengertian melalui prosesnya. Jadi yang sering dilupakan orang dalam hijrah itu adalah perubahan tiba-tiba. Padahal, di dunia nyata, seperti yang dialami Bang Tato, hijrah itu sebuah proses.

Di tengah masyarakat yang menganggap tato sebagai sebuah kejahatan atau paling tidak tanda bagi kejahatan, tak mudah memang menjalani hidup seperti Lalan. Meski ia sudah bertekad untuk berubah dan meningalkan masal lalunya, penilaian masyarakat cenderung melihat apa yang ada di permukaan dan luput memeriksa apa yang tersimpan di dalamnya.

Tak dapat dimungkiri, seperti dikisahkan Lalan, ketika ia masuk masjid dan salat Jumat, semua orang memandangnya curiga. Seolah orang bertato tidak boleh salat dan masuk masjid meskipun, dalam Islam, tato memang dilarang dan berdosa bagi pelakunya.

Lalu apa tindakan kita, ketika ada orang yang bertobat dengan penuh keberanian. Mungkin berbeda dengan pembunuh, penjudi, pezina, dan koruptor yang dosanya barangkali lebih besar. Mereka yang tobat dari tato memang masih terlihat di dunia, seakan mereka selalu dianggap berdosa sebelum tato itu menghilang. Lalan memang berusaha menutupi tato yang dimilikinya meski tak semua bisa disembunyikan.

Dalam proses hijrah dan melakukan kesempatan kedua, Bang Tato didam­pingi sosok istri yang salehah. Ia masih juga mengalami sejumlah dinamika kehidupan lainnya. Mulai berpindah-pindah tempat indekos akibat tidak punya biaya, jatuh bangun mencari rezeki yang halal, hingga mereka sukses di Father and Son Barberspace.

Berhijrah ke jalan Allah
Oleh karena itu, tidak perlu takut melakukan hijrah dalam memperbaiki diri karena jika kita berhijrah ke jalan Allah, Allah akan mengirimkan hamba-hamba yang saleh sekaligus mendampingi kita dalam prosesnya. Memang memulainya terasa sulit dilakukan hingga terbiasa pada akhirnya. Seharusnya, kita selalu percaya akan ada kemudahan setelah kesulitan, dengan selalu percaya akan janji Allah yang telah menjamin kita di akhirat. Semuanya akan baik-baik saja karena hijrah adalah perjalanan indah tetapi berliku.

Hijrah ialah proses memantapkan hati dan memilih jalan hidup yang lurus agar menjadi pribadi yang lebih baik dan bermakna. Maka, diharuskan melakukan hijrah sebagai ajang untuk muhasabah diri dalam menghamba kepada Allah SWT. Karena hijrah bukan sekadar mengubah gaya hidup ataupun mengubah gaya berpakaian. Hijrah yang sebenarnya menjadikan sikap dan perilaku lebih baik.

Namun, yang terpenting hijrah tidak hanya dilakukan orang-orang karena banyaknya dosa, tetapi hijrah itu untuk semua orang yang mau menjadikan dirinya lebih baik untuk menghamba kepada Allah. Hal itu bisa dilakukan ketika mampu membekali diri dengan ilmu dan mengimplimentasikannya dalam amalan sehari-hari.

Ada banyak cobaan dan rintangan dalam fase melakukan hijrah, apalagi menjadi lebih baik itu memang bukan sesuatu yang gampang karena ada banyak pengorbanan untuk meraih istikamah. Mulai ditinggalkan teman, dijauhi keluarga atau yang paling eks­trem dianggap telah radikal karena perubahan-perubahan itu.

Kiranya hijrah itu ibarat perjalanan dan rutenya senantiasa mempelajari dan memperdalam ilmu Islam agar kita bertobat nasuha dan memperbaiki akhlak diri, bukan sekadar mengubah penampilan. Bila dijalani rutenya, tidak mungkin dicapai tujuan hijrah secara kafah. Maka amalkan ilmu-ilmu yang telah dipelajari untuk selalu melakukan kebaikan agar proses hijrah berbuah manis di akhirat. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More