Berselancar di Tengah Kenaikan Harga Minyak Mentah Dunia

Penulis: MI Pada: Jumat, 08 Des 2017, 09:16 WIB Ekonomi
Berselancar di Tengah Kenaikan Harga Minyak Mentah Dunia

Depot terminal bahan bakar minyak (TBBM) PT Pertamina (persero) di Kendari, Sulawesi Tenggara---Antara/Jojon

TAHUN ini harga-harga komoditas mengalami kenaikan yang di luar kebiasaan. Harga minyak telah naik sekitar 28% dan bertengger di level US$53 per barel. Sementara itu, indeks harga logam pun melonjak 22% di tahun ini.

Bank Dunia juga telah me­ngeluarkan prediksi harga minyak naik menjadi US$56 per barel pada 2018 dari US$53 di tahun ini akibat permintaan yang naik, pemangkasan produksi yang telah disepakati para eksportir minyak, dan stabilnya produksi shale oil di Amerika Serikat.

Berdasarkan Commodity Markets Outlook Oktober yang dirilis Bank Dunia pada Jumat (27/10), harga komoditas energi termasuk minyak, gas alam, dan batu bara diperkirakan naik 4% pada 2018. Sementara itu, harga logam yang pernah melonjak diperkirakan tidak berubah tahun depan.

Pemerintah telah mematok asumsi harga minyak mentah pada level US$48 per barel. Hal itu berarti mengalami deviasi sekitar US$10 dengan harga minyak prediksi Bank Dunia. Bahkan bila dilihat pada hari-hari ini harga minyak mentah dunia berada di level US$60 per barel, deviasinya dengan asumsi Indonesia crude price (ICP) semakin besar.

Dengan melihat prediksi itu, timbul pertanyaan, apakah harga jual bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang saat ini Rp6.450 per liter untuk premium dan Rp5.150 untuk solar masih akan tetap sama pada tahun depan?

Jawabnya ialah bergantung pada kemauan politik pemerintah. Secara teoretis, kenaik­an harga minyak mentah akan menambah beban subsidi bila harga jual BBM bersubsidi tidak disesuaikan. Akibatnya akan terjadi lonjakan beban subsidi yang cukup besar dari alokasi yang ada saat ini sekitar Rp48,6 triliun.

Namun, ada kabar baik yang sebenarnya datang dari kenaik­an harga minyak mentah ini. Pemerintah akan mendapat potensi kenaikan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang mampu mengompensasi kenaikan beban subsidi.

Ekonom DBS Bank Gundy Cahyadi memprediksi akan ada tambahan penerimaan Rp113 triliun dari dampak kenaikan harga minyak yang bisa mencapai US$65 per barel. Itu akan mampu mengompensasi kenaikan beban subsidi yang saat ini dipatok Rp103 triliun. Besaran subsidi Rp103 triliun itu termasuk juga dengan subsidi listrik dan elpiji 3 kg.

Secara keseluruhan, dampak kenaikan harga minyak mentah dunia akan netral terhadap APBN 2018. Memang, bila ingin mengambil dampak positif, seharusnya harga BBM bersubsidi dinaikkan. Namun, di tahun politik, stabilitas harga amat penting dijaga agar bisa memberikan ketenangan bagi masyarakat. Selain itu, kenaik­an harga yang dalam rentang kendali pemerintah (adminis­tered price) tentu mengerek angka inflasi bila dilaksanakan.
Oleh karena itu, kita bisa yakin bahwa pemerintah akan memenuhi janjinya untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi dan tarif listrik tahun depan. Bagaimana caranya? Biarlah pemerintah berselancar di tengah kenaikan harga minyak dunia. (E-1)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More