Rutin Mendetoks Tubuh

Penulis: Administrator Pada: Minggu, 03 Des 2017, 11:00 WIB WAWANCARA
Rutin Mendetoks Tubuh

MI/Ramdani

BAGI pria kelahiran Jakarta, 13 Agustus 1960 itu, medetoks tubuh menjadi hal penting dan rutin dilakukan.

"Sejak umur 50, setiap 2 tahun sekali saya harus detoks. Kenapa? karena saya sering bertemu banyak orang dan tawaran makanan enak di Indonesia dan luar negeri banyak sekali," jelas Rhenald saat ditemui di Rumah Perubahan Kamis (30/11).

Ia mengaku bahwa dirinya memiliki 2 jenis ukuran pakaian yaitu XL dan L. Jika Rhenald sudah terlalu banyak menggunakan pakaian berukuran XL, sudah waktunya untuk melakukan detoksifikasi.

"Detoks dengan tidak makan karbohidrat dan saya juga punya ahli gizi yang bantu saya dan itu dalam waktu seminggu sudah turun 4,5 kilogram. Saya detoks itu dalam waktu 5 minggu, setelah itu kembali normal," imbuhnya yang saat itu sedang menikmati potongan daging ayam dan jamur kuping sebagai makan siangnya.

Dalam hal olahraga, Rhenald mengaku sudah tidak kuat lagi berlari. Latihan fisiknya hanya berjalan kaki berkeliling halaman Rumah Perubahan yang luas sambil menghirup udara segar.

"Karena saya sudah terlalu berat. Kalau dulu saya masih bisa. Sekarang hanya banyak jalan, menikmati udara segar di rumah perubahan ini, saya tidak konsumsi rokok, alkohol, narkoba," tambahnya.

Sebagai seorang pendidik dan pengusaha, Rhenald pun dikenal sebagai seorang penulis, sudah beragam artikel, maupun bukunya yang dinikmati masyarakat. Rhenald mengaku dalam menulis dirinya selalu serius dan sungguh-sungguh.

"Saya kalau pergi keluar kota selalu ada kertas kosong, ada buku teks untuk cari referensi, ada kliping yang sudah saya dapat kiriman dari mana-mana, atau saya searching di smartphone saya," jelasnya.

Rhenald pun saat ini lebih senang menulis dengan tulisan tangan daripada di gadget. Menurutnya, menulis dengan gadget sama halnya dengan mengedit karena selalu ada yang ingin dihapus saat salah dan ejaan yang kurang, selain itu juga tidak baik bagi kesegaran mata.

"Jadi kalau menulis tangan itu sudah kaya orang kesurupan, begitu istri saya ngomong saya tidak dengar, karena informasi yang saya kumpulkan sudah tersintesa di kepala jadi tinggal saya keluarkan. Sudah selesai semua tulisan, lalu saya foto dan saya kirim ke asisten saya, mereka ketik dan karena asisten banyak dan dalam waktu beberapa menit selesai mereka kirim balik ke saya. Nanti tinggal saya edit dan saya kirimkan ke koran," pungkasnya. (Riz/X-7)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More