Menonton Butet dalam Keramik

Penulis: Abdillah M Marzuqi Pada: Minggu, 03 Des 2017, 06:51 WIB Tifa
Menonton Butet dalam Keramik

MI/ABDILLAH M MARZUQI

NAMA Butet Kartaredjasa memang sudah tak asing lagi bagi publik Indonesia, apalagi di dunia seni panggung. Tak diragukan lagi, Butet sudah mendapati tempatnya. Ia menjadi ikon sebagai aktor monolog Indonesia. Namun, bagaimana Butet dengan seni visual? Masihkan ia punya magnet sebagaimana ketika ia berperan diatas panggung? Jangan-jangan ketika beralih media, Butet kehilangan dayanya.

Untuk menjawab soalan itu, mengunjungi pameran Goro Goro Bhinneka Keramik menjadi penting. Helatan itu merupakan pameran tunggal seni visual penuh warna yang dihelat di Gedung A Galeri Nasional Indonesia pada 30 November hingga 12 Desember 2017. Pameran ini dikuratori Wicaksono Adi.

Dalam pameran ini, Butet Kartaredjasa akan menggelar lebih dari 90 karya seni rupa berbahan keramik. Karya-karya tersebut dibuat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Banyak di antaranya berupa lukisan di atas keramik berbentuk persegi, oval, piring, lempengan yang tak beraturan, maupun potongan visual keramik yang ditata menjadi kolase.

Butet juga melukis di atas permukaan patung keramik. Sebagai bingkai dan bidang pemerkuat tampilan visual, Butet memakai pelat besi, bidang kayu. Ia juga menampilkan karya seni instalasi dengan elemen daun dan bingkai pintu serta batu-bata merah. Patung keramik, batu bata dari bangunan Kota Lama Semarang, serta instalasi seni berupa bingkai pintu kayu juga turut dipamerkan.

Karya-karya rupa berbahan keramik tersebut ialah suatu respons Butet terhadap berbagai masalah sosial, politik, budaya, dan keagamaan. Juga refleksi atau kontemplasi personal mengenai tokoh-tokoh besar, seperti Gus Dur, Jokowi, Buddha, maupun sosok Yesus Kristus. Butet juga menyajikan potret dirinya bersanding dengan figur, wajah manusia, gambar gunung dalam nuansa montase. Tokoh Panakawan dalam cerita perwayangan Jawa juga turut menjadi bahan karya. Fragmen-fragmen ornamental dekoratif, ungkapan-ungkapan peribahasa atau pameo dalam bahasa Jawa yang mengandung makna moral tertentu.

Selain itu, Butet membuat gambar-gambar binatang, patung babi hutan, atau celeng. Butet menyebut luasnya topik yang digarap dalam karya seni rupanya sebagai kebinekaan, yakni serbarupa perkara yang lazim ditemui manusia Indonesia. Itulah pula berkait dengan tajuk pameran Goro Goro Bhinneka Keramik.

Dalam wayang kulit Jawa, goro-goro itu biasanya muncul pada pertengahan pertunjukan. Sang dalang menggambarkan goro-goro sebagai keadaan serbakacau, yang benar jadi salah dan yang salah jadi benar, penjahat jadi pahlawan, gunung meletus, lautan mengamuk, banjir bandang, pegebluk, dan penyakit aneh dan misterius muncul di mana-mana.

Media eksperimentasi
Memang Butet selama ini dikenal sebagai aktor di dunia teater, tapi ternyata Butet juga mengenyam pendidikan di bidang seni rupa di Sekolah Menengah Seni Rupa Indonesia dan Institut Seni Indonesia. Keramik dipilih sebagai medium berkarya karena memiliki sejarah tersendiri bagi Butet. Memorinya akan eksperimen karya pada keramik bertahun-tahun yang lalu bangkit kembali.

"Saya itu waktu kuliah, media eksperimentasi saya dengan keramik. Timbul keinginan untuk melukis lagi di keramik," ujar Butet.

Keprihatinan Butet akan kekacauan dan fenomena-fenomena yang terjadi saat ini dituangkannya dalam visualitas yang bersifat metafor. Bagi Butet, pameran tunggal perdananya ini menjadi salah satu bentuk kegembiraan dalam menuangkan gagasan serta kegelisahan dalam benaknya, sekaligus wujud perenungan. Kebinekaan sebagai modal sosial kini teredam oleh konflik dan kekuasaan.

Butet sengaja memilih keramik sebagai medium berkarya. Menurutnya, medium keramik medium unik dan jarang tersentuh. "Ini satu media yang unik. Jarang disentuh orang," tambahnya. Keramik ialah material berumur panjang, tapi juga sekaligus mudah pecah. Keindahan dalam media keramik ialah keindahan yang abadi, tapi sekaligus juga keindahan yang mudah retak.

Adapun kurator pameran Wicaksono Adi menilai Butet menjadikan objek untuk membuka ruang refleksi atau kontemplasi diri agar dirinya dan orang lain dapat memandang kehidupan secara wajar, rileks, dan tidak hitam putih. Dalam karya-karya seni rupa, Butet tetap tampil dengan gayanya yang khas, yakni gaya kritikal dan candaan untuk memandang kehidupan dengan rileks dan tidak hitam putih. Di sana-sini juga muncul renungan renungan filosofis.

Bagi Butet, siapa pun harus memiliki sikap kritikal dalam memandang kehidupan. Jika dalam politik kritik ialah anasir yang harus disingkirkan, sebaliknya, dalam seni budaya, kritik ialah bagian penting dari kreativitas. Ketika sikap kritikal hilang, kreativitas seni budaya juga akan mati.

Dalam melancarkan kritiknya, kali ini Butet menggunakan bahasa yang lebih simbolis dan mengungkapkannya dengan metafora, sindiran halus atau ungkapan-ungkapan tidak langsung sehingga pandangan setajam atau sepedas apa pun dapat diterima dengan enteng dan gembira.

Bahasa simbolis itu diwujudkan melalui tokoh-tokoh cerita dalam pewayangan Jawa, yaitu para Punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Panakawan ialah wakil rakyat jelata, juga sekaligus penjelmaan dewa yang menyaru dalam figur manusia profan.

Tokoh-tokoh Punakawan ini dapat melancarkan kritik yang cerdas dan tak terbantahkan, tapi pihak-pihak yang menjadi sasaran kritik tidak tersinggung atau marah karena mereka menyampaikan kritik atau renungan filosofisnya dalam bentuk komedi.

"Dalam derajat tertentu, Butet Kartaredjasa adalah Punakawan dalam format kekinian. Tak hanya pasemon (sindiran halus), sang seniman bahkan mempraktikkan conthong (mulut) artistiknya dalam bahasa yang lugas, blakblakan, dan artistik. Itu semua bukan tindakan destruktif, melainkan suatu upaya membuka ruang refleksi diri atau proses kontemplasi," terang Wicaksono Adi dalam kuratorial.

Tak dapat diragukan lagi, melalui pameran ini, Butet telah menjelmakan diri menjadi seniman yang tak hanya piawai dalam dunia panggung. Dalam kancah seni visual pun karya Butet tak kehilangan sentuhannya. Seolah hanya berubah medium, dari seni panggung ke seni visual. Medium itu tak mengurangi sedikit pun ke-Butet-annya. Butet tetaplah Butet, seniman dengan daya kritik, ide segar, guyonan, sindiran, sarkas, menggelitik, dan mengena, tanpa menderai dan menyinggung orang lain. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More