Sensasi Wagyu di Rumah Dubes Jepang

Penulis: M Taufan SP Bustan Pada: Sabtu, 02 Des 2017, 23:04 WIB Kuliner
Sensasi Wagyu di Rumah Dubes Jepang

MI/M TAUFAN SP BUSTAN

DAGING dari sapi berkualitas itu begitu empuk dan lembut. Rahang tidak perlu banyak gerakan untuk melumerkannya di mulut. YOKOSO o suwari kudasai, kata-kata itu silih berganti terdengar diucapkan pria dan perempuan saat kami tiba sambil membungkukkan badan. Rupanya kata-kata yang mereka ucapkan berarti 'Selamat datang dan silakan duduk'. Itu adalah bentuk sambutan hangat dalam tradisi Jepang yang ditujukan bagi tamu baru datang di kediaman Duta Besar Jepang untuk Indonesia Masafumi Ishii, di Jalan Daksa V, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Jumat (24/11).

Seperti di Indonesia, orang Jepang juga memiliki budaya penjemputan tamu yang luar biasa. Terlebih tamu-tamu yang sengaja mereka undang untuk menghadiri sebuah kegiatan. Siang itu, Duta Besar Jepang mengundang sejumlah jurnalis untuk memperkenalkan kuliner khas Jepang yang tengah marak di Indonesia. Selain shabu-shabu, ada wagyu yang berarti daging sapi. Daging tersebut diolah menjadi hidangan menyerupai steik yang disajikan tanpa banyak embel-embel. Dalam perkenalan yang dipandu langsung oleh Chef Hori Ikuo, satu per satu bahan wagyu diatur ke atas meja kemudian dijelaskan kepada para tamu undangan.

Bahan baku untuk membuat wagyu tidak sebanyak dan sesulit membuat kuliner khas Nusantara. Chef yang didatangkan langsung dari Jepang itu hanya menyiapkan daging sapi 400 gram yang telah dipotong dan dibersihkan. Kemudian dimasukkan ke wajan panas berisi lemak wagyu sebagai minyak lalu digoreng. "Mengapa tidak pakai minyak dan hanya lemak wagyu? Agar menambah aroma khas Japanese wagyu di masakan ini," aku Hori yang diterjemahkan staf kedutaan kepada sejumlah jurnalis. Setelah daging sedikit mengubah warna baru ditaburi garam dan merica untuk menambah rasa wagyu. Setelah wagyu matang dengan kadar medium rare, Hori kemudian memotongnya menjadi beberapa potongan untuk ditetesi saus orisinal Jepang yang dibuat khusus dari campuran apel, jahe, dan bawang bombai yang diblender menjadi satu.

"Hidangan itu dihidangkan dengan jamur dan asparagus, serta taburan irisan wasabi (sambal Jepang) dan irisan tipis daun bawang. Empat tambahan bahan itu sebagai pelengkap saja. Di Jepang wagyu dimakan begitu saja, tetapi di Indonesia dinikmati dengan nasi," jelasnya. Hori menambahkan semua bahan yang digunakan dalam membuat wagyu didatangkan langsung dari Jepang.

Berkualitas dan mahal
Lebih lanjut, Hori menjelaskan, memanggang wagyu jangan terlalu lama, cukup dipanggang selama 1 menit setiap sisinya. Karena ketika daging diangkat, suhu panas dari daging tersebut tetap akan melanjutkan proses memasak walaupun sudah tidak dipanggang di atas api. "Ini orisinal Japanese wagyu," imbuhnya. Rasa perpaduan gurih dari wagyu, yang tercampur dengan rasa manis dari kaldu istimewa itu, langsung lumer di mulut, yang membuat kita ingin terus melahapnya hingga habis. Daging sangat empuk sampai-sampai kita tidak perlu menggerakkan rahang untuk mengunyahnya. Selain itu, tidak ada bau amis sedikit pun. Tepat kalau wagyu dikatakan masakan enak dan patut Anda coba.

Sekadar diketahui, wagyu itu asal katanya dari wa berarti Jepang dan gyu berarti daging sapi. Di beberapa daerah di Jepang, daging diberi nama sesuai dengan wilayah produksinya, contohnya daging Kobe, Mishima, Matsusaka, Omi, dan Sanda. Wagyu memiliki kecenderungan genetik berupa pemarmeran (marbling) tinggi dan memproduksi lemak tak jenuh berminyak dalam jumlah besar. Sapi wagyu terkenal karena pola marmer pada dagingnya dan kualitasnya. Kecenderungan genetik sapi ras wagyu menghasilkan daging dengan kandungan asam lemak omega-3 dan omega-6 lebih tinggi daripada daging sapi umumnya. Pemarmeran/marbling (MB) terus-menerus juga memperbaiki rasio lemak tak jenuh tunggal dan lemak jenuh.

Sejak berumur tiga bulan, sapi mulai masuk peternakan dengan desain khusus. Jauh dari keramaian, sepi, dan tenang, supaya sapi bebas dari stres. Suhu di dalam kandang terjaga agar tidak dingin atau panas saat terjadi perubahan cuaca. Sedemikian eksklusifnya, bahkan bagi setiap orang yang masuk ke kandang wajib disterilkan supaya sapi tidak kena kuman. Di 'Negeri Sakura', daging jenis itu umumnya dijual mahal karena memiliki keistimewaan. Sapi wagyu tidak melulu dalam kandang. Mereka boleh berkeliaran di padang rumput hijau, tapi tentu saja dengan gerak terbatas.

Pakannya juga terjaga, seperti dedak, gandum, jerami, jagung, dan kedelai. Kalau kurang nafsu makan, peternak memberi mereka bir. Setiap hari bulu hitamnya disikat hingga bersih. Selain itu, tubuhnya dipijat dengan memakai sake supaya lemak tersebar sempurna ke seluruh tubuh dan bebas kutu. Duta Besar Masafumi Ishii menambahkan mengapa rasa wagyu lebih enak, karena wagyu itu daging dari sapi yang dimanjakan. Makannya sangat berkualitas, pasalnya tidak hanya rumput berkualitas A tetapi juga diberi vitamin dan kalsium.
"Yang menarik juga, sapinya dipijat di waktu-waktu tertentu dan diberi sake. Tujuannya agar saat dipotong, sapi dalam keadaan rileks sehingga otot atau uratnya tidak tegang dan mengeras. Makanya rasanya jadi lebih enak dan lembut," ungkap Ishii .

Hingga saat ini pun pihak kedutaan terus mempromosikan kuliner-kuliner khas Jepang di dalam negeri. Tujuannya tidak lain untuk menyikapi maraknya masakan Jepang yang telah dijual di sejumlah daerah di Indonesia. Ishii berharap, masyarakat Indonesia bisa lebih mengenal aneka ragam menu makanan yang sehari-hari dikonsumsi oleh orang Jepang. Sebaliknya orang-orang Jepang juga harus mengenali masakan asli Indonesia. Terlebih sebut Ishii, jumlah wisatawan Indonesia yang mengunjungi Jepang untuk berwisata meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dan banyak pula dari mereka itu menantikan dengan gembira kesempatan untuk menikmati kuliner autentik Jepang langsung di tempat asalnya.

"Selain itu, memang restauran Jepang di Indonesia mulai banyak, sudah sangat tepat untuk orang-orang Indonesia mengenali makanan khas Jepang sehingga ketika ke Jepang sudah tidak asing lagi," ungkapnya. Pemerintah Jepang juga terus mempromosikan kuliner-kuliner berlabel halal di negaranya, termasuk di Indonesia. Sejumlah masakan Jepang yang dijual adalah halal agar umat muslim bisa mengonsumsinya. Sejak beberapa tahun terakhir, tambahnya, termasuk karena menyikapi maraknya wisatawan muslim masuk ke Jepang, pemerintah yang dipimpin Kaisar Akihito itu juga bekerja sama dengan sejumlah pihak swasta dalam mengampanyekan makanan halal. "Sekarang banyak di website informasi soal rumah-rumah makan yang khusus menjual masakan halal di Jepang. Jadi wisatawan terbantulah soal itu. Pemerintah dan pihak swasta telah memahami soal itu," tandas Ishii. (X-7)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More