Riset Laut-Dalam, Tantangan Pembangunan Maritim RI

Penulis: Peneliti di Pusat Penelitian Laut Dalam – LIPI, Program Doktoral di University of Auckland, New Zealand Pada: Sabtu, 02 Des 2017, 04:45 WIB Opini
Riset Laut-Dalam, Tantangan Pembangunan Maritim RI

MI/LILIEK DHARMAWAN

ADA satu bidang penelitian yang penting untuk masyarakat, khususnya ketahanan pangan dan energi berbasis kemaritiman, tetapi sering terlupakan, yaitu penelitian laut-dalam. Sebagian orang mungkin masih meragukan apa manfaat dan pentingnya mengungkap rahasia laut-dalam. Namun, fakta menunjukkan sekitar 75% wilayah RI berupa lautan yang memiliki zona laut-dalam (kedalaman lebih dari 200 m). Bahkan, salah satu laut terdalam di dunia terdapat di Indonesia, yaitu Laut Banda, dengan kedalaman mencapai 7.700 m.

Perairan laut-dalam RI sangat unik karena menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Letak geografis yang berada di daerah tropis, dan posisi pada lintasan gunung berapi, membuat laut-dalam RI diduga menyimpan ‘harta karun’ yang belum terungkapkan.
Harta karun yang paling nyata ialah kekayaan alam termasuk sumber daya hayati dan sumber daya energi seperti minyak dan gas bumi. Selain itu, laut-dalam merupakan museum sejarah alam yang menyimpan berbagai fosil hidup yang sangat berharga. Contoh, penemuan ikan purba coelacanth di Sulawesi Utara pada 1998 dan di Papua pada 2011. Ikan itu telah dinyatakan punah 80 juta tahun lalu.

Negara-negara maju telah memanfaatkan laut-dalam untuk berbagai pembangunan sarana infrastruktur seperti terowongan (tunnel), jaringan komunikasi, distribusi energi, dan sumber pangan. Contoh, pembangunan terowongan Seikan di Jepang pada kedalaman 240 m dan terowongan Gothard Base di Switzerland pada kedalaman 312 m. Potensi sumber daya pangan juga ditemukan di zona mesopelagik laut-dalam (200-1000 m) bahkan di beberapa negara maju penangkapan ikan sudah mulai berpindah ke zona laut-dalam.
Di lain pihak, selama ini pembangunan nasional Indonesia di sektor ketahanan pangan dan energi masih bertumpu pada kawasan darat dan pesisir. Eksploitasi yang terus-menerus berlangsung telah mengakibatkan turunnya sumber daya di daratan dan pesisir. Akibatnya, dunia termasuk Indonesia diperkirakan akan mengalami krisis di tiga bidang pokok kehidupan, yaitu pangan, energi, dan air.

Ancaman krisis pangan dapat lebih parah karena diproyeksikan jumlah penduduk RI akan melebihi 300 juta jiwa pada 2035. Hal itu akan meningkatkan jumlah konsumsi pangan dan energi hingga 41%. Dampak kerusakan lingkungan dan perubahan iklim akibat eksploitasi SDA juga dapat memperburuk situasi krisis menjadi darurat pangan dan energi.

Salah satu SDA Indonesia yang masih diselubungi kegelapan ilmiah dan sangat menantang adalah laut-dalam. Sebenarnya upaya mengungkap kegelapan laut-dalam sudah dimulai sejak 1768, yang tercatat sekitar 30 ekspedisi ilmiah dari bebagai negara berkunjung ke perairan laut-dalam Indonesia. Namun, sebagian besar ekspedisi itu hanya sekadar lewat dan tidak menjadikan RI sebagai lokasi utama penelitian.

Penelusuran literatur ilmiah melalui mesin pencari literatur seperti Scopus dan ISI Web of Science dan pencarian manual menunjukkan bahwa jumlah publikasi ilmiah terkait laut-dalam di RI masih sangat minim. Setiap tahun rata-rata kurang dari satu paper terkait laut-dalam yang dipublikasikan. Angka itu di bawah Filipina dan jauh tertinggal dari Australia dan AS. Penelitian laut-dalam yang pernah dilakukan di RI masih berupa penelitian yang bersifat penelitian dasar seperti inventarisasi dan observasi secara parsial. Bidang penelitian seperti biologi dan kimia kelautan masih sangat minim (24%) jika dibanding bidang geologi dan fisika kelautan (61%). Selain itu, data dan luaran (output) ilmiah yang telah tersedia juga masih tersimpan di setiap lembaga dengan format beragam dan sulit di akses publik.

Meskipun laut-dalam relatif belum tersentuh, dampak kerusakan lingkungan seperti polusi dan perubahan iklim sudah dirasakan hingga di laut-dalam. Fenomena paus terdampar akhir-akhir ini sering terjadi di berbagai wilayah di RI seperti di Seram bagian Barat, Flores, dan Cilacap. Sebuah artikel yang di publikasikan di Current Biology Magazine menyebutkan adanya perpindahan berbagai jenis ikan ke zona laut-dalam mungkin akibat kenaikan suhu air di laut-dalam.
Selain itu, kerusakan ekosistem laut-dalam juga memengaruhi hasil produksi perikanan, terutama untuk jenis-jenis ikan dan udang yang siklus hidupnya bersentuhan dengan habitat laut-dalam, seperti ikan pisau, ikan sidat, dan udang.

Kendala riset
Negara-negara Eropa sudah melaksanakan riset laut-dalam sejak abad ke-19. Berbagai eskpedisi laut-dalam mereka lakukan bukan hanya di wilayah kedaulatan mereka, tetapi di seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Sementara itu, perhatian pemerintah Indonesia terhadap riset laut-dalam belum banyak ditunjukkan. Padahal, zona ekonomi ekslusif Indonesia (ZEEI) kita didominasi laut-dalam yang masih terbatas pemanfaatannya. Ironisnya, ZEEI justru menjadi ladang pencurian ikan oleh kapal ikan asing, dan nelayan kita tetap hidup miskin.
Hasil survei kuesioner terhadap peneliti bidang kelautan di RI menunjukkan kendala utama riset laut-dalam ialah belum tersedianya infrastuktur dan fasilitas riset yang memadai, seperti kapal riset, peralatan penelitian, dan laboratorium. Sarana dan prasarana itu mutlak di perlukan. Kuantitas dan kualitas hasil penelitian sangat ditentukan ketersediaan peralatan penelitian. Biaya penelitian laut-dalam yang mahal juga menjadi kendala.
Sementara itu, anggaran riset RI pada 2017 hanya 0,23% dari PDB, jauh di bawah dari negara tentangga seperti Malaysia 2,8%. Kendala selanjutnya ialah lemahnya kelembagaan termasuk belum diaturnya kerangka kelembagaan dan regulasi sehingga lembaga atau kementerian seolah jalan sendiri. Akhirnya riset menjadi tidak terintegrasi apalagi dikomersialkan.

Hal fundamental lainnya adalah belum adanya grand design sebagai acuan riset laut-dalam nasional sehingga terjadi tumpang tindih, inkompatibilitas metode penelitian, dan akses data yang sulit. Mungkin penelitian laut-dalam bagaikan sebuah mimpi besar di tengah minimnya alat dan dana riset kelautan. Namun, sejarah menunjukkan 145 tahun yang lalu ketika teknologi canggih belum tersedia dan situasi ekonomi yang buruk, sebuah ekspedisi kelautan ‘Challenger’ untuk pertamakalinya berhasil menguak kedalaman Laut Banda dan membuat peta kelautan Nusantara. Karena keberhasilannya itu, ekspedisi ini dipandang sebagai peletak fondasi oseanografi modern.

Semestinya penelitian laut-dalam RI saat ini dapat dilakukan lebih baik lagi dengan berpedoman pada konsep riset laut-dalam yang jelas untuk capaian yang unggul. Konsep itu ditujukkan untuk mewujudkan target ekonomi biru, khususnya program prioritas pembangunan nasional di bidang ketahanan pangan dan energi secara berkelanjutan.

Untuk dapat melaksanakan konsep ini, diperlukan SDM terdidik dan terampil, infrastruktur penelitian laut-dalam yang memadai, serta dukungan anggaran riset yang cukup. Di samping itu, penguatan kelembagaan riset laut-dalam dan jaringan, serta standardisasi metodologi dan pembangunan pusat data base riset laut-dalam juga diperlukan. Semua ini diperlukan bagi Indonesia untuk memperpendek jarak dalam riset laut-dalam.

Sangat jelas bahwa riset laut-dalam yang unggul diperlukan untuk mencapai target pembangunan kemaritiman yang merupakan prioritas nasional yang dicanangkan Presiden Jokowi sebagaimana tertuang dalam Nawacita. Namun, menyelami komitmen politik Presiden Jokowi terhadap riset laut-dalam tidaklah semudah menyelami dalamnya lautan. Grand design dan rencana strategi yang baik untuk mewujudkan mimpi riset laut-dalam oleh putra-putri Indonesia sulit untuk tercapai tanpa dukungan politik dan investasi riset dari pemerintah. Gelora semangat sumpah pemuda yang kita dengungkan diharapkan mampu menggerakkan perhatian pemerintah terhadap pengembangan riset laut-dalam.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More