Irma Suryati Berkah Merajut Kain Perca

Penulis: (*/M-3) Pada: Sabtu, 02 Des 2017, 03:01 WIB KICK ANDY
Irma Suryati Berkah Merajut Kain Perca

MI/SUMARYANTO BRONTO

LUMPUH sejak umur 4 tahun karena terkena virus polio, wanita bernama lengkap Irma Suryati ini pun harus pasrah tidak bisa berjalan dengan sempurna. Perundungan, hinaan, hingga kata menyepelekan selalu ia dapatkan saat duduk di bangku sekolah.
Bahkan saat dirinya berkali-kali melamar pekerjaan di perusahaan, berkali-kali pula ia ditolak. "Sebagai disabilitas ternyata saya dibedakan, ada diskriminasi sehingga melamar kerja sampai 15 kali selalu ditolak perusahaan," kata Irma. Tetapi, yang muncul bukan putus asa dan dendam melainkan menjadi tekad untuk untuk terus berusaha.

Mengenyam pendidikan terakhir di SMA, Irma membuktikan keteguhannya dengan kini menjadi pengusaha keset kain perca yang sukses. Dalam usahanya, Irma tak hanya berhasil membuka lapangan pekerjaan, tetapi juga memberdayakan kaum difabel yang selama ini terpinggirkan. Saat ini, Irma memiliki puluhan ribu mitra kerja, di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra, hingga Kalimantan. Usahanya yang terus maju tak membuatnya lupa diri. Irma mendirikan asrama untuk menampung dan menyediakan pelatihan keterampilan gratis bagi para kaum difabel.

Berkat kepedulian Irma yang konsisten, Irma kerap mendapatkan penghargaan, termasuk pernah dianugerahi penghargaan Kick Andy Heroes pada 2012.

Ujian
Namun, tantangan pun tak luput menghampirinya. Di tahun 2012, rumah produksinya terbakar yang membuatnya harus memulai kembali dari minus nol. "Kami memulainya dengan berutang. Kami pun mengubah konsep dari bisnis kemudian sosial menjadi sosial dahulu kemudian bisnis, seperti menanam padi, rumput akan tumbuh dengan sendirinya. Sebaliknya jika menanam rumput dulu, tidak mungkin padi akan tumbuh," tambahnya. Ya, Irma tidak berhenti membantu sesama, ia terus melanjutkan kegiatan

sosialnya, sejalan dengan usahanya. Irma sering menerima undangan untuk memberi pelatihan menjahit dan monitoring bisnis. Selama enam bulan terakhir, sudah 300 orang yang mengikuti monitoring bisnis yang diadakannya. Dengan pengalamannya membangun usaha keset kain perca, banyak orang yang datang untuk berkonsultasi urusan bisnis. Setahun belakangan Irma bepikir untuk membuat sekolah bisnis dan kewirausahaan. Sekolah tersebut memberikan bimbingan kewirausahawan dan bantuan saat memulai usaha.

Selama ini pelatihan digelar Irma di ruangan menjahitnya, atau menyewa tempat yang lebih luas. Meskipun belum memiliki fasilitas yang memadai, Irma dan suaminya yakin sekolah yang mereka impikan akan terbangun dan membantu banyak orang.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More