Menyerap Jejak Sejarah Dalam Secangkir Kopi

Penulis: Ferdian Ananda Majni Pada: Jumat, 01 Des 2017, 23:01 WIB Jendela Buku
Menyerap Jejak Sejarah Dalam Secangkir Kopi

Dok Mi

BUKU Secangkir Kopi Sekanak memuat sekitar 30 puisi milik penyair kelahiran Kepulauan Riau, Rida K Liamsi. Ia lebih banyak menulis puisi tentang sejarah, beberapa puisi tentang kemanusiaan. Namun, Rida yang menulis puisi dengan inspirasi sejarah wajib berterima kasih pada masa lalu. Setiap kali ia menoleh ke belakang selalu muncul kegelisahan, tersebab langkah kakinya dalam menambah corak hidup dan sumbangan usianya atas gerakan bumi ini. Rida menulis sejarah yang puitis, sejarah pemberontakan, dan sejarah yang mengingatkan akan keberadaan sastra Indonesia yang berasal dari Melayu.

Puisinya juga berbicara soal usia, kapan seseorang menjadi tua ketika ia menyerah pada waktu, dan kapan seseorang berhenti menulis jawabannya ketika seseorang berhenti membaca. Bisa jadi setiap penyair memilik sentimen masing-masing terhadap masa lalu sesuai dengan ranah pijakan. Di sini, Rida menujukan warna Melayu. Bukan berarti berpantun-pantun, melainkan majas repetisi yang bahkan dalam sajak-sajak prosais ditunjukkan dengan kesadaran dan nekat; lokasi yang khas dan asing bagi daerah lainya di Indonesia, seperti, Sekotah, Bahang, Sadai, Depang, Jerabah, Sakal, dan Cakal.

Tak dipungkiri, Rida memang sangat kuat dalam memuisikan sejarah atau mengingatkan kembali sejarah masa lalu, terutama sejarah kemaharajaan Melayu yang eksis di kawasan semenanjung tanah Melayu itu hampir 800 tahun. Dimulai dari era Kerajaan Bentang Tua (1164) sampai era kerajaan Siak (1946). Jejak perjalanan sejarah kemaharajaan Melayu yang pernah mencapai puncak kebesarannya pada masa Kerajaan Melaka (1441-1511) banyak menginspirasi Rida dalam menuliskan sisi-sisi historikalnya melalui perenungan tentang perjalanan bangsa Melayu itu, salah satu rumpun bangsa besar di dunia yang jumlahnya hampir 400 juta jiwa.

Melayu diaspora, seperti tragedi jatuhnya Malaka ke tangan penjajah Portugis (1511), kisah cinta SULTAN Mahmudsyah (Sultan Terakhir Malaka) yang berlumur darah dan sampai era Kerajaan Johor, Riau, sebelum kerajaan itu berakhir pada 1912, hingga menyisakan banyak cerita dan konflik politik antara penguasa Melayu dan keturunan Bugis. Tentu tidak banyak yang tahu hubungan antara darah Melayu dan darah Bugis. Ternyata, sudah dimulai sejak awal abad ke-12. Dalam puisi, sang penyair menjelaskan hubungan antara keduanya.

Meski bukan sesuatu yang harmonis, satu ras harus mengalahkan satu ras lainnya. Silang sengketa antarkaum ada di antara anak dara dan bujang kedua pihak memperoleh anugerah cinta, asmara, atau pertautan hati yang kemudian melahirkan cinta buta, ketika tidak lagi memandang warna kulit, sesembahan, atau bangsa. Peristiwa itu memiliki dua mata pedang; berakhir tragis, atau kedamaian. Dalam tragedi lainnya, Hayam Wuruk yang jatuh cinta pada Dyah Potaloka melalui paras yang digambarkan jurusungging utusan Majapahit, berakhir dengan perang paling dramatis di Bubat.

Bahkan, di Priangan tidak ditemukan nama jalan Majapahit atau Hayam Wuruk, terlebih Gajah Mada. Politik telah mengatasi cinta dan menyemburkan darah. Sebagai penyair, Rida memiliki passion khusus terhadap sejarah sejak muda, tentu tidak dapat dipisahkan dari hasil karyanya. Oleh karena itu, ia banyak menyerap jejak sejarah dan menjadikan puisi-puisi karena ia menyadari dalam perjalanan sejarah suatu kaum, bangsa, selalu ada pelajaran hidup yang sangat berguna untuk menjadi acuan dan renungan agar suatu bangsa menjadi semakin arif.

Tentunya, belajar dari sejarah, belajar menghargai sejarah dan belajar membuat sejarah. Sesungguhnya, para penyair dan sastrawan lain ialah pencatat sejarah yang baik dan terdepan dan bahkan juga menjadi para pembuat sejarah. Penyair ialah garda terdepan dari geliat dan napas kehidupan bangsa.

Warisan karya sastra
Sejarah juga membuktikan betapa banyak warisan karya sastra, khususnya puisi, yang ditinggalkan dan bernilai untuk menjadi renungan hari ini. Karya-karya yang melintasi zaman, seperti pendaki gunung yang memilih idiom-idiom alam dan petualangan pada prosa dan puisinya. Begitu juga, penyair dari pesantren tidak luput pula dari pelbagai ungkapan yang merujuk ayat-ayat suci dan tauhid. Sekaligus, menjadi torehan karakter bagi seorang sastrawan. Maka, sesuram apa pun sejarah, tidak pernah kita sesali, kecuali untuk merancang 'sejarah kemudian'.

Memang tidak semua 30 puisinya bertemakan sejarah. Juga ada yang merupakan renungan dan catatan dari perjalanan serta kembara hidupnya beberapa tahun terakhir. Namun, puisi-puisinya tetap dalam semangat untuk menunjukkan bahwa menulis puisi ialah bagian dari caranya bersyukur atas anugerah dan nikmat hidup. Seperti dalam puisi Telah Kubentang Sajjadah. Beberapa puisinya yang akhir-akhir ini cenderung menjadi puisi-puisi naratif. Puisi yang berkisah dan kebanyakan dengan latar belakang sejarah, seperti Secangkir Kopi Sekanak atau lainnya.

Puisi-puisi demikian sebenarnya sudah ada sejak kumpulan puisinya terdahulu diterbitkan, seperti puisi Aceh Suatu Hari sesudah Tsunami atau Dan Sejarah pun Berdarah. Begitu juga dalam kumpulan puisi ROSE seperti Stories from Korea, dan tentunya buku kumpulan puisi bertemakan sejarah lainnya, Tempuling, seperti puisi Jebat dan Perjalanan Kelekatu. Karena itu, puisi merupakan karya sastra yang unik, beragam, dan selalu disukai lintas generasi. Puisi juga menjadi salah satu karya sastra yang paling sering dibaca, dibicarakan, dan didiskusikan.

Terlebih, lahirnya sebuah puisi tidak serta merta begitu saja. Ia seperti sepasang kekasih yang saling mencari, saling menyemangati, agar tetap utuh lalu menyatu hingga menjadi sebuah puisi. Sebaliknya, melalui puisi, seseorang bisa hidup selama ia mau. Seperti yang dikatakan dan diinginkan Chairil Anwar, 'Aku mau hidup seribu tahun lagi' dalam sebuah puisinya. Lalu apa yang terjadi, walaupun ia sudah lama tiada, nama dan karyanya tetap ada dan hidup sampai kini. Itulah yang dilakukan Rida K Liamsi hingga ia konsisten menerbitkan kumpulan puisi-puisinya.

Bukan tanpa sebab kumpulan puisi ini diberi nama Secangkir Kopi Sekanak yang diambil dari judul salah satu puisinya. Ada tiga puisi yang berjudul serupa, Secangkir Kopi Sekanak dengan semangat yang berbeda, tetapi haluan tuju puisi-puisi itu sama. Kegemilangan tamadun Melayu dan jejak sejarah yang menyertainya, kehebatan, keandalan, dan kegetiran. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More