Selamat Jalan Pelestari Kuliner Nusantara

Penulis: Administrator Pada: Kamis, 30 Nov 2017, 09:50 WIB Obituarium
Selamat Jalan Pelestari Kuliner Nusantara

MI/Ramdani

LIMA belas tahun lalu, belum banyak orang yang sadar bahwa kekayaan kuliner Tanah Air justru ada di pinggir jalan, warung, dan restoran sederhana yang menyajikan makanan khas lokal yang kemudian dikenal dengan 'street food'.

Ada pula yang menyebutnya kuliner Nusantara.

Bondan Winarno, pakar kuliner yang wafat pada usia 67, Rabu (29/11), di RS Harapan Kita, Jakarta, merupakan sosok penting yang banyak berjasa memopulerkan 'makanan jalanan' Indonesia.

"Saya jujur merasa sedih sekali atas kepergiannya. Indonesia kehilangan putra terbaik dalam dunia kuliner. Dia memopulerkan makanan Tanah Air khususnya street food sehingga sekarang orang-orang lebih aware," ungkap Santhi Serad, pendiri komunitas Aku Cinta Masakan Indonesia (ACMI), kemarin.

Bondan memelopori pendirian komunitas wisata boga Jalansutra pada 2003, yakni kumpulan orang yang mempunyai kepedulian pada kuliner dan budaya lokal Indonesia.

Komunitas itu kerap berwisata ke daerah-daerah dan mencicipi makanan khas setempat.

Bondan juga menerbitkan buku kumpulan kolom tentang pengalamannya berwisata kuliner di berbagai daerah.

Misi memopulerkan street food Nusantara ia boyong ke layar kaca melalui program Wisata Kuliner di Trans TV.

Program televisi itu melejitkan namanya sebagai pakar kuliner.

Bondan, yang juga berprofesi jurnalis itu, lalu kian terkenal dengan ungkapan khasnya 'maknyus'.

"Dia dengan istilah maknyus menjadi khas memopulerkan makanan," imbuh Santhi.

Di mata Santhi, Bondan ialah sosok yang jujur dalam soal rasa.

Jika memang makanan yang dicicipi pria kelahiran Surabaya itu tidak enak di lidah, dia tak akan sungkan untuk menilainya tidak enak.

"Dia orangnya jujur dan lugas. Kalau tidak suka suatu masakan, ya, dia akan bilang tidak suka," ceritanya.

Menurut Santhi, Bondan berpulang meninggalkan warisan penting yang harus terus dilanjutkan, yakni pelestarian dan pendokumentasian kekayaan kuliner daerah.

"Beliau pernah mengajarkan saya soal makanan brambang asem solo kepada saya. Itu makanan sudah terbilang jarang ditemui apalagi di Jakarta. Makanya dia bilang makanan khas Indonesia itu perlu terus dilestarikan. Karena itu, anak muda sekarang agar lebih banyak menulis tentang kuliner khas Nusantara secara mendalam, khususnya sejarah kuliner. Itu agar bisa terus melestarikan makanan Indonesia," pungkasnya. (Dhk/H-5)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More