Nurjannah Husein Perempuan Pemburu Darah

Penulis: Ferdian Ananda Majni ferdian@mediaindonesia.com Pada: Kamis, 30 Nov 2017, 00:04 WIB Humaniora
Nurjannah Husein Perempuan Pemburu Darah

MI/Ferdian

PEREMPUAN pemburu darah, begitulah salah satu julukan yang melekat pada Nurjannah Husein. Tidak ada kaitan dengan kisah horor, julukan tersebut justru berangkat dari segala aktivitas sosialnya berjuang untuk penyandang talasemia. Talasemia memang merupakan kelainan darah yang membuat tubuh tidak cukup memproduksi hemoglobin. Jika siklus rusaknya sel darah merah pada orang normal adalah 120 hari, pada penyandang talasemia siklus tersebut bahkan bisa terjadi dalam dua minggu. Karena itu, penyandang talasemia harus rutin mendapatkan transfusi darah setiap 1-3 bulan.

Untuk memenuhi kebutuhan darah para penyandang talasemia di tanah kelahirannya di Aceh, Nurjannah mendirikan komunitas Darah untuk Aceh (DUA) pada 2012. Penggalangan darah bukan hanya lewat acara-acara donor, melainkan juga lewat program kakak asuh Ten for 1 (10for1) Thalassemia. Dengan program itu, ada sepuluh donor yang bergantian menyumbangkan darah untuk satu penyandang. Selain itu, Nunu--panggilan akrabnya--mendirikan rumah singgah bagi penerita talasemia bernama Rumah Harapan Indonesia di Banda Aceh.

Ditemui Media Indonesia saat berada di Jakarta, Kamis (16/11), Nunu berbagi kisah mengenai latar belakang perjuangannya. Pada 2011, ibundanya menderita penyakit iskemia hingga membutuhkan transfusi darah hingga 10 kantong. "Saya datangi PMI (Kota Banda Aceh) tetapi tidak bisa memenuhi sesuai dengan permintaan rumah sakit. Prosedurnya, saya hanya bisa mengambil 1 kantong, 9 lagi harus cari donor,” tutur perempuan kelahiran Lhok Kruet, Aceh Jaya, 24 April 1970 itu. Beruntung, pesan berantai yang ia unggah mendapat respons sangat baik dari teman-temannya. Darah yang bisa dikumpulkan malah melebihi kebutuhan sang bunda. Darah itu kemudian Nunu serahkan ke PMI.

Paham akan keterbatasan stok darah di PMI, Nunu tergerak untuk peduli. Lewat yayasan lingkungan, Yayasan Bumi Ku Hijau, yang ia dirikan, Nunu mulai menyelenggarakan acara donor darah. Di sisi lain, ia tidak ingin penggalangan darah itu hanya terkait dengan seremonial tertentu. "Saya baru menyadari, saat orang lain susah tetapi kita lebih mudah mendapatkannya. Jadi dalam hidup ini jika kita bisa memudahkan urusan orang lain itu sebuah kebahagiaan,” ujar lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Banda Aceh ini. Jalan menuju totalitas bagi gerakan penggalangan darah baru mulai muncul setahun setelah ibundanya meninggal. Kala itu Nunu yang menjabat manajer farmasi di sebuah perusahaan swasta menyadari minimnya waktu yang ia habiskan bersama keluarga.

Namun, beberapa waktu setelah berhenti dari pekerjaan formal, perempuan yang merupakan orangtua tunggal dari satu anak ini mulai merasa jenuh. Tekadnya untuk terus aktif itulah yang kemudian melahirkan DUA. Awalnya, DUA bergerak untuk memenuhi kebutuhan darah di Unit Donor Darah PMI Kota Banda Aceh. Fokus kegiatannya kepada penyandang talasemia baru muncul setelah ia berkonsultasi dengan Direktur PMI Banda Aceh kala itu, Ridwan Ibrahim. "Saya baru tahu bahwa ada satu kondisi di saat ada orang-orang yang membutuhkan darah rutin demi perpanjangan usia mereka. Mereka itulah penyandang talasemia,” kata dia.

Aceh tertinggi
Awalnya, Nunu berpikir tantangan tersebut mudah dijawab karena penyandang talasemia yang rutin menjalani transfusi darah di Rumah Sakit Umum Dr Zainal Abidin hanya berkisar 97 orang. Namun, dari penelurusan berikutnya barulah ia mengetahui penyandang talasemia di Aceh merupakan tertinggi nasional, mencapai 13,5% dari populasi penduduknya. Lewat pendataan lanjutan diketahui, sebanyak 314 penyandang talasemia membutuhkan transfusi darah secara rutin di RSU Dr Zainal Abidin. “Rata-rata kebutuhan darah untuk para penyandang talasemia mencapai 800 kantong darah. Bahkan, setiap bulan kebutuhan meningkat seiring dengan bertambahnya pasien. Kebutuhan memang banyak karena rata-rata tiga kantong darah per anak dalam sebulan,” jelasnya.

Dari kondisi itulah DUA pada 24 Juni 2012 melahirkan program 10for1 Thalassemia. "Donor baru itu dicari dari orang yang belum pernah menjadi donor ataupun di luar data PMI Banda Aceh. Apalagi donor darah sekarang lagi ngetren bagi anak muda di Banda Aceh. Namun, mereka juga tidak bisa dipastikan sehat selalu," lanjutnya. Program 10for1 ini disosialisasikan juga melalui media sosial, termasuk Twitter @DarahUntukAceh. Dalam sosialisasi itu juga digunakan istilah-istilah unik, seperti blooders untuk donor darah dan thallers untuk penyandang talasemia.

Menyadari lamanya masa rawat jalan pada pasien talasemia, Nunu bersama rekan-rekan kemudian mendirikan Rumah Harapan Indonesia. “Ini untuk pasien anak-anak yang baru keluar dari rumah sakit, khususnya di Banda Aceh dan masih harus melakukan rawat jalan. Dengan adanya rumah singgah, pasien tidak perlu pulang ke daerah asalnya sehingga bisa menghemat pengeluaran. Semua kebutahan pasien dan orangtuanya ditanggung Rumah Harapan,” tuturnya.

Produk kopi DUAFE
Komunitas DUA kini juga meluncurkan produk kopi DUAFE sebagai bentuk kewirausahaan yang berbasis sosial. Delapan puluh persen penjualan produk bubuk kopi arabika ini digunakan untuk proses pendampingan penyandang talasemia, riset, sosialisasi, dan pengembangan organisasi. Dalam kemasan kopi DUAFE juga dicantumkan informasi golongan darah dan penyakit talasemia. Sebelumnya, sebut Nunu, DUA juga sudah menelurkan program bernama S3Kumlod (Seribu Seorang Sebulan Kumpulan Loyal Donasi), yaitu program penggalangan dana bagi semua pihak yang ingin membantu, khususnya untuk biaya transportasi dan akomodasi penyandang talasemia selama di Banda Aceh.

Sejauh ini, DUA telah menghimpun 1.200 donor darah tetap untuk mengantisipasi kekurangan stok darah bagi para penyandang talasemia. Mereka terhubung langsung dengan keluarga pasien yang apabila sewaktu-waktu dibutuhkan, secara sigap mendonorkan darahnya. Untuk pelayanan kesehatan, para penyandang talasemia sudah mendapat jaminan kesehatan dari pemerintah melalui BPJS Kesehatan. “Jadi mereka tidak terlalu terkendala pada biaya obat-obatan dan pelayanan medis. Hanya, hal yang paling mengkhawatirkan ialah soal biaya transportasi menuju rumah sakit ke Banda Aceh. Sebagian besar penyandang talasemia berasal dari keluarga miskin yang tersebar pada pelosok daerah di Aceh,” tutur Nunu.

Berbagai bakti sosial dalam membantu penyediaan darah untuk penyandang talasemia tersebut telah membawa Nunu menjadi peraih Kartini Next Generation Award 2014 dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. Tidak hanya itu, kerja Nunu juga menginpisrasi lahirnya komunitas serupa di berbagai daerah, seperti berdirinya Darah untuk Yogyakarta pada 2012, Darah untuk Lampung pada 2012, dan Darah untuk Sumatra Selatan pada 2013. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More