Antara Feminitas dan Kekuatan

Penulis: Siti Retno Wulandari Pada: Minggu, 26 Nov 2017, 10:41 WIB Pesona
Antara Feminitas dan Kekuatan

FOTO-FOTO: DOK ISTITUTO DI MODA BURGO INDONESIA

JAKET kulit dengan pinggang berstruktur itu menampilkan kesan tangguh. Meski begitu, dengan palet warna baby pink, sematan batuan berkilau, serta rangkaian tali di bagian depan, kesan feminin dan romantis pun muncul. Kesan itu diperkuat dengan rok panjang berbahan tile, yang juga berwarna senada, sebagai padanannya.

Set busana itu bagian dari koleksi baru Ali Charisma. Setelah itu ditampilkan di Jakarta Fashion Week (JFW) 2018, Ali mengungkapkan koleksi tersebut masih akan terus dikembangkan dan dijadwalkan selesai pada Februari mendatang.

“Perempuan itu punya power, bisa menentukan pilihannya, tapi tetap tidak melupakan sisi femininnya,” ujar Ali soal koleksinya kepada Media Indonesia, Rabu (22/11).

Paduan antara kekuatan dan feminitas itu tampak diwujudkan Ali dengan menyadur gaya prajurit Eropa tempo dulu dan ada pula sentuhan ala biker. Gaya itu diwujudkan dengan dominasi bahan kulit pada bagian atas busana serta teknik jahitan quilt. Dalam sebuah set busana yang menggunakan palet abu-abu, tampilannya pun mengingatkan pada baju zirah. Inovasi juga dilakukan Ketua Indonesian Fashion Chamber (IFC) itu melalui penggunaan kancing pada jaket yang persis seperti engsel pintu.

Karya Burgonians
Koleksi Ali di JFW itu juga merupakan bagian peragaan sekolah mode Istituto Di Moda Burgo Indonesia. Ali menjadi mentor untuk para siswa terbaik sekolah itu buat koleksi mereka di panggung mode terbesar Indonesia tersebut. “Saya tidak mau ubah ide mereka, hanya bantu mempertajam dan membantu bagaimana menerapkan craftmanship yang baik,” tukas Ali.

Siswa Istituto Di Moda Burgo Indonesia atau disebut Burgonians yang unjuk karya ialah Julianto, Raegita, Eleska Paradis, Jessica Welia Halim, dan Rilya Krisnawati.

Julianto dalam label yang senada dengan namanya menghadirkan permainan aksen payet pada koleksi busananya sebagai representasi dari retakan gunung, seperti pada gaun dengan kerah v dan detil cut out di bagian bahu yang dipenuhi dengan tatanan payet.

Representasi retakan juga hadir pada atasan berpotongan seperti blazer tanpa lengan dalam nuansa cokelat muda (krem). Sementara itu, struktur kabut dituangkan dalam rancangan gaun berwarna abu dengan detail lipit dan aksen aksesori pada bagian pinggang.

Sementara itu, label RAEGITAZORO menerjemahkan budaya Sisingaan sebagai simbol perjuangan masyarakat Sunda, terutama Subang, terhadap penguasa perkebunan zaman Inggris dan Belanda melalui koleksi bergaya sporty. Seperti pada jaket tanpa lengan berpotongan bomber yang dipadukan bersama terusan berwarna merah jambu dengan detil singa di bagian dada serta kalung choker spike studs.

Warna busana lain juga dihadirkan label PADI milik Eleska Paradis yang menghadirkan warna-warna vibrant dengan aplikasi tekstur kawung. Label JWH milik Jessica Welia Halim menghadirkan kesan kuat dan berani Ratu Victoria dengan penggunaan kain songket palembang. Sementara, label Jumpanona karya Rilya Krisnawatimenampilkan perhiasan yang terinspirasi dari budaya Dayak.

Ali yang melakukan mentorship selama 3 bulan, menilai para siswa memiliki ide bagus, tapi masih meluap-luap. Dengan mentorship, ia berharap karya para siswa dapat menjadi karya yang tidak hanya artistik, tetapi juga wearable. (M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More