Cita Rasa Lokal Bersaing dengan Produk Global

Penulis: M Taufan SP Bustan Pada: Minggu, 26 Nov 2017, 10:27 WIB Jeda
Cita Rasa Lokal Bersaing dengan Produk Global

Salah satu gerai Warunk Upnormal yang ramai dikunjungi kalangan anak muda karena menyuguhkan aneka sajian mi instan yang tidak biasa---Dok. Warunk Upnormal

INDONESIA kaya akan ragam kuli­nernya, salah satunya mi instan. Itu seperti yang ditawarkan kafe bernama Warunk Upnormal yang kini banyak dikunjungi anak muda di berbagai kota di Tanah Air. Warunk Upnormal ramai dikunjungi kalangan anak muda karena menyuguhkan aneka sajian mi instan yang tidak biasa.

Di Warung Upnormal, mi instan diracik dengan bahan dan bumbu pilihan. Tidak hanya itu, sajiannya pun dibuat semenarik mungkin sehingga semakin menggugah selera.

Seperti salah satu gerai Warunk Upnormal yang berlokasi di Mangga Besar Jakarta Barat. Bertemakan bangunan industrial, kafe ini dilengkapi perabot berbahan kayu dan besi.

Setidaknya, ada sekitar 35 menu olahan mi instan yang bisa dinikmati di kafe ini. Seluruhnya dijamin bisa menggoyang lidah karena sebelumnya ragam olahan mi instan ini telah melewati proses riset terlebih dahulu.

Olahan mi instan di sini kebanyakan menonjolkan cita rasa masakan Indonesia seperti ditambahkan tongkol balado, sambal matah, seblak, dan jengkol.

Selain mi instan, Warunk Upnormal menyediakan berbagai pilihan makanan ringan seperti roti dan pisang bakar. Kafe ini juga melengkapi menunya dengan beragam minuman seperti kopi gayo, susu segar, jus, hingga es krim.

“Kita melihat pada 2014 warung-warung Indomie sangat banyak, kami melihat anak kuliah pengin tempat bagus dan harga terjangkau, tapi pada tahun itu saya belum melihat ada warung Indomie dengan tempat yang hit,” ujar Founder Warunk Upnormal Sarita Sutedja.

Sarita membuka bisnis kuliner tersebut pada awal 2014. Awalnya karena melihat ada peluang yang sangat bagus. Maklum penggemar mi instan sangat banyak di Indonesia. Kini bisnis yang tergabung dalam Grup Cita Rasa ini sudah yang menaungi gerai Nasi Goreng Mafia, Warunk Upnormal, Bakso Bujangan, Sambal Karmila, dan Fish Wow Cees (November 2017) yang tersebar di 22 kota di Indonesia.

Suasana nyaman
Dilengkapi dengan konsep interior yang Instagramable sehingga secara ambiens menimbulkan suasana nyaman untuk melewatkan waktu bersama keluarga. “Paling esktrem dengan Rp10.000 orang bisa nongkrong di Upnormal. Mau Rp10.000 maupun Rp1 juta, harga sama, wi-fi, colokan sama, dan AC sama. Ini artinya kita ingin menjadi tempat ketiga atau jika orang tidak ada di rumah, kampus, nongkrongnya di Upnormal,” tuturnya.

“Selaku founder kita punya misi cukup idealis, yakni kita ingin jaringan outlet (gerai) yang besar di Indonesia. Brand-brand kami ini adalah brand lokal dari Bandung dan suatu saat sanggup bersaing dengan brand internasional. Kami ingin sejajar dengan brand internasional,” ujar Sari Sutedja.

Saat ini seluruh gerai yang ada sudah mencapai 101 gerai yang tergabung dengan Grup Cita Rasa Prima.

Sarita menjelaskan, untuk membangun bisnis seperti ini, tentu diperlukan inovasi dan perencanaan yang baik. Salah satunya dengan inovasi resep mi instan yang beragam serta interior ruangan di setiap restoran Warunk Upnormal yang dibuat semenarik mungkin dan tentunya Instagramable.

“Kalau ingin bisnis kita bisa bersaing dengan yang lain, kita harus punya ciri khas sendiri agar bisa bertahan lama,” tutup Sarita. Resto ini setiap weekend dikungjungi sekitar 600 orang dan pada hari biasa dikungjungi sekitar 400-500 pengunjung.

Lain lagi dengan grup Restoran Sambara. Pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) yang diprediksi mengalami stagnasi akibat ekonomi global yang lesu ternyata tidak begitu memengaruhi omzet restoran ini.

“Sambara memiliki konsep sendiri sehingga konsumen punya pilihan jelas ketika mau ke Sambara,” terang Sales and Marketing Manager Corporate Office Sambara Bandung, Ivan Prabumi, di Jakarta, Rabu (22/11).

Naik turunnya omzet biasa bagi restoran. Itu pun terjadi di Sambara secara keseluruan. Hal itu jauh ketika dikaitkan dengan ekonomi global yang tengah memasuki masa lesu.

“Hampir semua restoran itu sepi ketika hari raya keagamaan selesai. Namun, setelah itu kembali ramai bahkan setiap bulan itu bisa full book pemesanan,” ungkapnya.

Manajer Sambara Cipete, Jakarta, Hendi Hidayat menambahkan omzet yang naik turun pada momen tertentu juga terjadi di restoran yang termasuk dengan hotel. “Jadi tidak hanya di murni restoran, hotel yang memiliki restoran juga merasakan naik-turunnya omzet ketika Lebaran usai,” jelasnya.

Dia mengaku, dari 12 gerai Sambara di Indonesia, secara keseluruan omzet tahunannya sesuai dengan target. Memang di bulan-bulan tertentu selama setahun itu, ada omzet yang menurun.

Sambara merupakan restoran khas Sunda dengan konsep pelayanan warteg yang dikemas modern dengan banyak pilihan menu kuliner yang cocok dengan lidah semua orang.

Terlebih konsep yang menarik dan berbeda di 12 gerai cabang yang telah dibuka menambah banyak pilihan konsumen untuk mencari santapan berbau bumbu Nusantara. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More