Leisure sebagai Lokomotif Perekonomian

Penulis: Fario Untung Tanu Pada: Minggu, 26 Nov 2017, 09:12 WIB Jeda
Leisure sebagai  Lokomotif Perekonomian

Thinkstock

PERTUMBUHAN media sosial sudah berkembang sedemikian rupa. Tak jarang banyak penggunanya memamerkan foto-foto bepergian. Generasi milenial lebih memilih berbelanja pengalaman (experience) ketimbang belanja sandang.

Salah satu perusahaan penyedia jasa akomodasi pariwisata, Tra­veloka, mengakui peningkatan permintaan dan menjadikan traveling sebagai gaya hidup disebabkan peningkatan pendapatan masyarakat di Indonesia.

“Kami melihat fenomena tersebut berhubungan dengan semakin meningkatnya pendapatan per kapita masyarakat Indonesia yang saat ini sudah mencapai US$3,570 (data 2016). Artinya, ada pertumbuhan masyarakat kelas menengah di Indonesia,” ungkap Public Relations Traveloka, Busyra Oryza, di Jakarta, Jumat (24/11).

Menurut pengamat bisnis dan pemasaran Yuswohady, salah satu ciri konsumen kelas menengah ini ialah bergesernya pola konsumsi mereka dari yang awalnya didominasi makanan-minuman menjadi hiburan dan leisure.

Pola konsumsi mereka juga mulai bergeser dari goods-based consumption menjadi experience-based consumption. Experience-based consumption antara lain liburan, menginap di hotel, makan, dan nong­krong di kafe/resto, dan menonton film/konser musik.

“Konsumen mulai memprioritaskan menabung untuk tujuan liburan (experience) di tengah atau akhir tahun,” jelas managing partner inventure itu kepada Media Indonesia, kemarin.

Tidak hanya itu, kafe dan restoran berkonsep experiential (menjual pengalaman) menjamur. Warung modern ala ‘kids zaman now’ seperti Warunk Upnormal agresif membuka cabang. Pusat kecantikan dan wellness menjamur bak jamur di musim hujan. “Semuanya menjadi pertanda pen­tingnya leisure sebagai lokomotif perekonomian Indonesia,” ujarnya. (Rio/*/M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More