Belajar Toleransi dari Rochel dan Nasira

Penulis: Galih Agus Saputra Pada: Minggu, 26 Nov 2017, 01:16 WIB Film
Belajar Toleransi dari Rochel dan Nasira

DOK. ARRANGEDTHEMOVIE.COM

MESKI pilkada DKI Jakarta sudah berakhir, persoalan isu SARA masih membekas. Perang urat saraf dan serangan verbal berbau sentimen mungkin sudah berkurang. Namun, adanya luka yang baru saja mengering barang kali dapat mengelupas sewaktu-waktu.

Persoalan yang sudah terjadi kadang sulit untuk dihapus, tetapi memelihara perseteruan juga bukan hal bijaksana. Siapa pun pasti menginginkan tatanan masyarakat yang kondusif, toleran, dan nyaman untuk hidup berdampingan.

Kisah Rochel dan Nasira dalam film Arranged: Friendship Has no Religion sangat menarik dan cocok untuk jadi bahan renungan.

Film produksi 2007 itu diputar ulang dalam Tole­rance Film Festival 20017, di Institute Francais Indonesia pekan lalu.

Kegiatan tersebut diadakan untuk memperingati Hari Toleransi Internasional yang jatuh pada 16 November.

Hubungan Rochel dan Nasira telah memberikan memorabilia yang sungguh indah bagi kehidupan manusia. Dalam film berdurasi 1,5 jam itu, dikisahkan Rochel (diperankan Zoe Lister-Jones ) ialah remaja dari keluarga Yahudi Ortodoks. Sementara itu, Nasira (dibintangi Francis Benhamou) hidup dalam keluarga Islam yang taat. Apa yang perlu kita gali dari mereka bukanlah akar pembeda, melainkan cara mereka menjalani hidup secara dewasa sembari menggapai asa bersama-sama.

Rochel dan Nasira ialah guru sekolah dasar di suatu daerah Brooklyn, Amerika Serikat. Nasira mengajar siswa kelas empat, sedangkan Rochel guru pendamping murid dengan keterbatasan aktivitas (disabilitas) di kelas yang sama. Keduanya mendapat sinyal untuk memperkuat landasan toleransi antarumat beragama ketika beberapa murid merasa tabu dengan keberadaan mereka berdua di tempat yang sama.

“Bukankah Islam dan Yahudi saling membunuh?” tanya murid. “Miss Rochel, apakah aku terlihat hendak membunuhmu?” kata Nasira sembari berjalan menuju tempat duduk Rochel, sebagai bentuk pembuktian kekhawatiran muridnya itu tidak benar.

Rochel bangkit dari tempat duduknya sambil menggelengkan kepala. “Tentu tidak Miss Nasira,” jawab Rochel.

Melihat keadaan tersebut, Rochel lantas membantu Nasira memperbaiki cara pandang yang tidak tepat pada siswa di kelasnya. Rochel mengajak para murid itu untuk bergabung dalam permainan atau simulasi yang menggambarkan manusia dapat berteman dengan siapa saja.

“Jadi, kita sebagai manusia dapat berteman dengan siapa saja. Seperti saya dengan Miss Nasira, meskipun saya seorang Yahudi dan Miss Nasira Islam. Kita dengan ciri-ciri dan karakteristik masing-masing, punya kehendak individual untuk berteman dengan siapa saja,” terang Rochel seusai bermain bersama lalu disambut anggukkan murid-muridnya.

Mengampanyekan perdamaian

Film garapan Diane Crespo yang dirilis pada 2007 bermula dari Rochel dan Nasira berjumpa secara tidak sengaja di taman. Rochel datang bersama adiknya, sedangkan Nasira bersama keponakannya.

Adik Rochel tidak mau berkenalan dengan Nasira karena ia muslim. Begitu pula saat disuruh bermain bersama keponakan Nasira, adik Rochel kembali menanyakan agama.

“Itu tidak menjadi suatu masalah. Kau bisa bermain layang-layang dengannya,” kata Rochel kepada adiknya, yang bermain bersama keponakan Nasira.

Pada kesempatan itu pula, Rochel dan Nasira mulai berpikir mengampanyekan perdamaian bagi seluruh umat beragama di dunia.

Dalam film yang naskahnya ditulis Stefan C Schaefer itu, Rochel dan Nasira tidak hanya menghadapi masalah stereotipe murid di kelas, tapi juga di lingkaran keluarganya.

Mereka juga gusar dengan tradisi keluarga yang mengatur pasangan hidup mereka masing-masing. Rochel tidak setuju dengan pria pilihan keluarga besarnya. Begitu juga Nasira, ia tidak setuju dengan pria pilihan keluarga karena rentang usianya berbeda lebih dari 20 tahun. Dalam keadaan seperti itu, Rochel dan Nasira sering bertukar cerita dan saling menguatkan.

“Tenang lah, Tuhan pasti menunjukkan kebesarannya untuk kita,” kata Nasira kepada Rochel, yang disambut dengan senyuman mereka berdua.
Sebenarnya, Rochel dan Nasira pernah hendak memberontak dari tradisi keluarganya. Akan tetapi, mereka berdua berusaha sabar, dan berpikir jernih dengan bekal perspektif ilmu pengetahuan dan rasa hormatnya pada para leluhur.

Singkat cerita, Rochel bersedia menerima pria yang dijodohkan keluarganya karena pria tersebut dapat merebut ha­tinya. Begitu juga Nasira, ia akhirnya bertemu dengan pria seumuran pilihan keluarga yang cocok dengan seleranya.

Sekali lagi, kedekatan personal antara Rochel dan Nasira telah menuntun mereka berdua untuk menemukan jalan keluar atas persoalan yang ada. Persahabatan mereka berdua mampu menembus sekat jurang pemisah yang dilatarbelakangi sentimen antarumat beragama.

Film yang disutradarai Diane Crespo itu pernah mendapat sejumlah penghargaan, di antaranya Best Film Award dan Best Feature Film Award dari Brooklyn International Film Festival (2007), serta Grand Prize Award dari Skip City International D-Cinema Festival (2008). (X-7)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More