Agar Sembilan Tungku Bakso Joss Ngebul

Penulis: Iis Zatnika Pada: Sabtu, 25 Nov 2017, 23:46 WIB Wirausaha
Agar Sembilan Tungku Bakso Joss Ngebul

MI/IIS ZATNIKA

TULISKAN saja ‘Bakso Joss’ di Google Maps atau aplikasi taksi atau ojek, keduanya akan menunjukkan alamat kedai legendaris itu dengan detail. Selanjutnya, mengikuti petunjuk di peta, kita akan diarahkan menuju kawasan permukiman di Jalan Dirgahayu, Bekasi Timur, Jawa Barat.

Ada belasan sepeda motor yang diparkir di muka kedai. Menjadi kejutan karena lokasinya di dalam permukiman padat, bukan di pinggir jalan raya. Belasan anak muda duduk tersebar, duduk berhadapan dengan aneka mimik saat menyantap sajian di mangkuknya.

Ya, kejutan di Bakso Joss bukan cuma karena lokasinya yang tak lazim tapi ramai, tetapi juga karena ada racikan daging giling dengan cabai rawit yang dimasak dengan cermat sebagai isian.

Bertemu dengan Sutarjo, 59, dan Titi Lestari, 55, sang pendiri, yang bercerita proses mereka merintis usaha juga sama menariknya.

“Saat kami mendirikan warung bakso ini pada 2007, baru Bakso Joss yang membuat bakso pedas. Idenya dari anak kami, katanya biar baksonya beda dengan yang lain. Kami yakin, ini yang pertama, belum ada yang buat. Baru belakangan, dua hingga tiga tahun terakhir, banyak bakso pedas lain. Ada juga sekarang yang buat bakso keju, bakso dengan banyak isian atau bakso beranak. Kalau kami sih tetap, bakso yang bukan cuma pedas, tapi juga enak,” ujar Sutarjo ketika dijumpai di wa­rungnya, Minggu (12/11).

Bukan cuma konsisten pada inovasi, pasangan yang kini membuka cabang di Rawalumbu dan Tambun (Bekasi) itu juga menjaga keberlanjutan usaha dengan menjaga kualitas bahan baku, proses, dan penyajiannya. “Kami selalu memilih bahan terbaik, mulai mi, bihun, saus, kecap, tempat penggilingan, dan tentunya daging. Tentunya ini pengaruh ke harga, tapi itu harus dilakukan untuk menjaga pelanggan. Makanya ada yang ke sini sebulan sekali, seminggu, atau bahkan dua hari sekali. Dulunya diajak ibunya, sekarang ke sini bawa anak,” ujar Titi.

Menyasar anak muda

Kiat lain yang dipraktikkan Bakso Joss dari tahun ke tahun ialah pilih­an menyajikan sensasi pedas, secara organik membuat pembelinya didominasi anak-anak muda yang gemar menjajal aneka rupa jajanan, sehingga regenerasi pelanggan terus terjadi. “Mungkin dari mulut ke mulut, lalu mereka penasaran dan datang. Tapi bukan cuma karena pedas, tapi rasanya kami jaga, jadinya ya kembali terus,” kata Sutarjo yang memasang harga mulai Rp18 ribu untuk satu mangkok Bakso Joss serta menyediakan pula bakso urat, polos, hingga mi ayam.

Setelah dirintis sejak satu dekade lalu dengan bermodal resep yang didapat Titi dari sekolah kejuruan tata boga, setingkat SMK sekarang, kemudian didampingi penuh oleh Sutarjo yang mengundurkan diri dari pekerjaannya, Bakso Joss telah melalui banyak tantangan juga puncak kesuksesan.

Bergantung daya beli

“Sekarang stabil di angka produksi 30 kg bahan baku daging sapi untuk tiga cabang. Beberapa tahun lalu bisa dua kali lipatnya. Tapi kan ini jajanan, sangat bergantung pada kondisi perekonomian. Kalau masih ada sisa uang, baru orang akan jajan bakso. Sekarang ini sudah cukup stabil di angka itu,” ujar Titi yang untuk memasak isian daging cincang pedasnya menghabiskan 7-8 kg cabai rawit merah setiap harinya.

Kedai di Dirgahayu, kata Sutarjo, hingga saat ini masih menjadi motor utama bisnis. Dua cabang lain yang dikelola sang putra masih belum bisa menyaingi jumlah penjualan. Kendati begitu, ketiganya memberikan pembelajaran tentang pentingnya dukungan ketersediaan energi yang aman, bersih, dan berkelanjutan bagi masyarakat, terutama UKM, yang harus terus berikhtiar bertahan di tengah berbagai tekanan.

“Di sini kami memakai sembilan tungku yang menyala terus dari pukul delapan pagi dalam proses memasak, dan lima tungku akan hidup terus setelah bakso matang. Kami terhubung dengan pipa PGN sejak pertama kali mendirikan usaha ini. Setiap bulan untuk gas habis Rp1,5 juta, biasa bayar di minimarket. Di dua cabang lainnnya masih pakai tabung gas biasa, bisa sampai dua kali lipat biayanya, kadang juga susah carinya. Di sini selalu lancar mengalir. Untuk jualan bakso, bahan bakar itu penting karena harus serbapanas,” kata Titi.

Dengan dipantau rutin setiap bulan oleh petugas, termasuk untuk memastikan keamanannya, di dapur yang senantiasa sibuk itu aliran energi tak pernah mengalami hambatan, terlebih insiden keamanan. “Kami saja yang kompornya selalu menyala, aman, apalagi masyarakat yang cuma punya dua tungku,” ujar Sutarjo yang memakai kata ‘Joss’ untuk kedainya dari penggalan terakhir namanya.

Dengan menggarap pasar anak-anak muda, Bakso Joss juga menjalin kemitraan bersama layanan pesan antar ojek daring. Terjaring oleh tim pengembang aplikasi itu, dan menyepakati imbal jasa Rp4.000 per porsi yang kemudian dibebankan pada pembeli, kini sedikitnya 10% omzet berasal dari layanan itu. Dari Dirgahayu, Bakso Joss bisa tersebar hingga ke penjuru Bekasi hingga pinggiran Jakarta lainnya. (*/M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More