Menyusun Strategi Mengatasi Disrupsi

Penulis: Ferdian Anada Majni Pada: Sabtu, 25 Nov 2017, 06:46 WIB Jendela Buku
Menyusun Strategi Mengatasi Disrupsi

MI/Seno

TREN digitalisasi di masa depan makin canggih tak terbendung hingga membuat sejumlah perusahaan memberikan investasi lebih banyak untuk perkembangan teknologi, salah satunya dengan meningkatkan infrastruktur digital perusahaan tersebut.

Beberapa langkah pendukung terpenting dalam menangani sebuah disruption atau gangguan ialah dengan menerimanya.

Dunia telah masuk ke era baru, yakni disruption yang disebabkan pengaruh besar teknologi.

Karena itu, inovasi yang diperlukan tidak hanya mengubah bentuk, ukuran, atau desain, tetapi menyeluruh, baik metode, cara kerja, maupun produk yang tidak lagi relevan di zaman milenial.

Para pengusaha memahami gangguan atau yang sering disebut disruption ini bukanlah sebuah pengecualian, melainkan sebuah peraturan global saat ini.

Dengan begitu, bagaimana perusahaan dapat merencanakan masa depan mereka? Terutama, bagaimana perusahaan merancang sebuah strategi digital yang cukup dinamis untuk mengatasi gangguan ini di masa yang akan datang untuk menjamin pertumbuhan yang berkelanjutan?

Distruption bisa dilihat sebagai sesuatu yang positif karena merupakan sebuah inovasi yang dinamis.

Ini merupakan berita baik bagi konsumen karena kekuasaan menjadi berada di tangan mereka dan ini sudah terjadi dalam lima tahun terakhir.

Karena kekuasaan berpindah ke tangan pelanggan, sejumlah tantangan yang akan muncul, di antaranya pelanggan dapat berkomunikasi dan berinteraksi melalui sejumlah jalur yang berbeda, penyesuaian (customizing) produk dan jasa mengaplikasikan feedback pelanggan dalam desain produk, mengatasi pelanggan dan membandingkan harga secara global, menyediakan jasa digital add-on berurusan dengan pengaruh langsung pada opini pasar dari seluruh dunia, di mana pun dan kapan pun.

Mungkin anda sangat familier dengan frasa sustaining innovation. Semua pelaku bisis pasti sepakat bahwa kunci untuk bertahan dan sukses di dunia bisnis adalah mampu melakukan sustaining innovation.

Namun, banyak juga ditemukan perusahaan-perusahaan yang sudah melakukan sustaining innovation, tetapi tetap mengalami kejatuhan.

Parahnya, kondis itu tidak sedikit dialami perusahaan besar yang mapan dan ditunjang dengan inovasi berkelanjutan.

Apalagi jika ada platform baru yang hadir menjadi kompetitor hingga bukan suatu yang janggal bila banyak perusahaan (incumbent) yang berguguran bersamaan.

Terlebih, bila terjadi trend break, trennya berakhir dan mereka yang gagal merespon akan mengalami penurunan penjualan massal.

Sedikit mengingat, bagaimana kunjungan turis ke Indonesia setiap tahunnya.

Tentu meningkat pesat tetapi justru Anda tidak menduga bila tingkat hunian kamar hotel malah berkurang.

Percaya atau tidak, malahan perusahaan terkaya di dunia masih menjual jasanya dengan harga nol rupiah.

Tentu banyak kejutan dan hal yang tak terduga yang menimpa orang-orang dan perusahaan.

Terlebih mereka yang hari ini masih bergelimang cahaya.

Disadari atau tidak, hari ini mereka sedang menghadapi lawan-lawan baru dan inovator yang belum terhilang secara kasatmata, sedangkan inovasi-inovasi baru yang diciptakan di dalam sekalipun sangat mungkin dibunuh mereka yang khawatir produk baru itu bisa menganibal produk lama yang sudah ketagihan.

Kematian sebuah brand

Daripada berandai-andai, berikut fenomena yang masih segar dalam ingatan kita.

Bagaimana Nokia pada 90-an begitu primadona menguasai pasar gawai di seluruh dunia.

Begitu Blackberry hadir, runtuhlah kedigdayaan Nokia yang sempat merasakan puluhan tahun keemasannya.

Bahkan, Era Blackberry terhitung paling singkat.

Gawai yang berbasis Android dan IOS seperti Samsung dan Apple memenangi persaingan di produk ini.

Kemudian, persaingan pesat terjadi, pelbagai perusahaan gawai itu bermunculan dengan inovasi-inovasi yang sebelumnya terasa mustahil.

Pertanyaannya apakah Nokia dan Blackberry tidak melakukan inovasi?

Tentu saja jawabannya adalah sebagai industri besar, Nokia dan Blackberry tidak akan pernah mengabaikan untuk melakukan inovasi pada produk mereka.

Lalu mengapa Nokia dan blackberry bisa sampai tersungkur dalam persaingan?

Era di saat setiap perusahaan tidak cukup sekadar melakukan inovasi dengan mengubah bentuk, ukuran, dan desain.

Jadi kematian sebuah brand sebenarnya adalah kegagalan membaca masa depan, gagal mengantisipasinya dan merespons perubahan.

Mengabaikan ancaman disruption dan beranggapan kita terbatas darinya adalah kenaifan yang tidak dapat dibenarkan.

Hanya karena kita masih memiliki surplus yang positif, bukanlah jaminan kita akan tetap selamat.

Namun begitulah. Tak semua orang mau berubah, sebagian malah terperangkap dalam 'masa lalu', masa-masa emasnya yang tak ada lagi, kecuali mereka berubah.

Semua orang berpikir zaman keemasan itu akan ada terus dan bila hilang, ia pun tetap cara lamalah yang benar.

Jadi, alih-alih membiarkan perusahaan mati, meski kadang perubahan terus-menerus memicu frustrasi.

Sebagian dari mereka justru merespons secara inovatif dan melakukan self disruption.

Meski demikian, masih banyak juga yang tanpa menyadari telah mengambil jalan bunuh diri, terperangkap oleh masa lalunya, seperti cerita legenda Nokia dan Blackberry.

Kita akhirnya kita menemukan jawabannya. Hal ini terjadi karena kita hidup pada era baru, era disruption. Era ini mengharuskan setiap perusahaan melakukan hal yang lebih dari sustaining innovation.

Era ini menuntut kita melakukan apa yang disebut dengan disruptive innovation.

Maka dibutuhkan para eksekutif yang mampu melakukan self disruption.

Jadi, sesungguhnya kita memiliki dan mengarungi tiga zona waktu; the past, the present, dan the future.

Sayangnya, banyak perusahaan sudah puas dengan sustaining innovation-nya.

Mereka menutup mata atau bahkan tidak tahu sama sekali terhadap perubahan-perubahan yang tengah terjadi dan mengancam bisnisnya.

Perlu diingat, pada era disruption ini lawan yang dihadapi bukan lagi dari industri yang sama, tetapi sangat memungkinkan dari luar industri yang sama sekali berbeda.

Analisis mereka menyimpulkan bahwa perusahaan yang akan mendisrupsi bisnis mereka tidak datang dari keahlian kontruksi, melainkan dari sebuah alat yang awalnya kita gunakan untuk memindahkan tulisan dari komputer ke kertas.

Ya, disruptor itu adalah printer, melalui teknologi bernama 3D printing.

Begitulah karakteristik dari era disruption. Ancaman datang dari lawan-lawan yang tak keliatan yang semula tidak pernah dianggap saingan.

Itulah gunanya ilmu manajemen dan leadership. Kita berbicara hari esok dan menciptakan hari esok agar perusahaan tidak dikendalikan oleh nasib, kompetitor, dan keadaan.

Hari-hari esok itu sebagian belum menjadi kenyataan dalam arti profit.

Sebagian dianalogikan tengah membakar uang sambil tersenyum puas. Ia bisa lebih baik atau sebaliknya.

Sementara itu, sebagian besar eksekutif yang nyaman justru senang membawa masa lalu ke hari ini.

Yesterday is Today. Mereka hanya membawa segala hal yang dilakukan pada masa lalu terus menerus dari waktu ke waktu sampai hari ini.

Selain terperangkap dengan masa lalunya, sekarang ini juga banyak perusahaan yang bingung menghadapi disruption yang terjadi di lingkungan bisnis.

Tentunya, bisnis sekarang kian bertalian.

Apa yang terjadi di lingkungan sana akan berimbas ke sini.

Namun, mereka yang melawan masa depan dengan masa kini atau masa lalu jelas akan kalah. Teknologi akan berkembang terus.

Karena itu, biarkan saja strategi bisnis berubah.

Marketing pada era disruption pun sudah berbeda total.

Nah, ketimbang akhirnya kalah juga, sebaiknya Anda berdamai dengan perubahan yang menghadirkan masa depan dan masa kini, atau menerima disruption.

Hadapilah.

Beradaptasilah. Hanya dengan cara itu, bisnis Anda bertahan sampai jauh ke depan.

(M-2)

________________________________________

Judul : Tomorrow is Today

Penulis : Rhenald Kasali

Penerbit: Mizan

Ukuran : 15x23 mm

Halaman : 402 halaman

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More