Maria dari Piaseczno

Penulis: Milto Seran dari Moscow, Rusia Pada: Jumat, 24 Nov 2017, 22:40 WIB Surat Dari Seberang
Maria dari Piaseczno

Ist

Kamu mungkin pernah berada di sebuah kota, kampung
atau tempat yang tak ‘kan terlupakan. Kamu lalu kembali
menekuni rutinitasmu sehari-hari dan sejenak berpikir
tentang tempat yang tak terlupakan itu. Saat mengenang kota
atau kampung itu, sesungguhnya kamu telah menemukan
jalan pulang ke tempat tersebut.

Dini hari, 6 September 2016.

Di Abu Dhabi International Airport - Terminal 3, setelah berpisah dengan Erik Saether (South Africa), saya menunggu jam terbang ke Jakarta. Di ruang tunggu, sejumlah peziarah dari Tanah Air berbincang-bincang tentang hal-hal yang telah mereka lihat dan lalui di Eropa. Ekspresi gembira begitu kental di wajah mereka. Beberapa jam berselang, bersama mereka dan sekian banyak penumpang lain kami meninggalkan Abu Dhabi, terbang menuju Jakarta. Di dalam pesawat saya duduk di samping seorang penumpang yang kemudian memperkenalkan diri sebagai seorang padre dari Ambon yang juga merupakan salah satu dari para peziarah itu.

Si padre orang Ambon telah keliling Eropa, melihat tempat-tempat kudus, pulang ke Tanah Air dengan rasa bahagia yang meluap-luap. Dia tak sanggup merahasiakan kebanggaan ini, pernah keliling Eropa dalam tempo dua minggu. Kebahagiaan memang seperti mentari pagi, membuat dunia melihat sukacita. Dan burung-burung gereja tak bisa diam lebih lama lagi. Kicauan mereka segera pecah menyambut rekah mentari.
Si padre orang Ambon sungguh telah melihat mentari kebahagiaan. Dia tak bisa menyimpan semuanya dalam hati. Dia terus bercerita dengan rasa bangga yang tak tersembunyikan.

"Adik, siapa seperti saya? Keliling Eropa dalam tempo dua minggu. Melihat tempat-tempat kudus. Hidup ini singkat, gunakan waktumu untuk melihat lebih banyak lagi."

Saat mendengarkan kisah si Padre yang keliling Eropa, saya teringat Piaseczno, kota kecil berjarak enam belas kilometer dari Warsawa ke arah selatan. Saya pun paham, di dunia ini sering kebahagiaan lebih singkat dari kerinduan. Tetapi kebahagiaan selalu lebih dalam daripada rindu. Sebab kita rindu akan sesuatu yang membuat kita bahagia. Bukan sebaliknya kita bahagia karena sesuatu yang bikin kita rindu.

Seminggu di Piaseczno, serasa kata begitu miskin menjelaskan semuanya. Di World Youth Day (WYD) 2016, saya malah tak percaya bahwa hari-hari itu saya berada di tengah jutaan kaum muda dari seluruh dunia, dari segala suku dan bangsa dan bahasa. Barangkali ini yang namanya merasa 'teberkati'.

Saya yakin, setiap orang pernah merasa teberkati, entah dalam cara yang sederhana sekalipun. Saat seseorang teberkati, di situ tak ada lagi yang diinginkannya. Seakan-akan segalanya telah terpenuhi. Bahasa yang paling tepat untuk situasi ini mungkin nyanyian pemazmur, “…lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku daripada diam di kemah-kemah orang fasik.”

Di Polandia, senyum dan keramahan begitu kental. Di sana, di WYD segalanya tersedia. WYD serupa Kanaan yang mengalirkan susu dan madu. Begitu teberkati dan kami bagai Petrus, Yohanes dan Yakobus yang memohon kepada Sang Guru agar tetap tinggal di puncak Tabor lantaran mereka telah melihat kebahagiaan sejati.

* * *

Pertemuan orang muda sedunia sejatinya digagas oleh Paus Yohanes Paulus II. Pada perayaan Minggu Palma 1984, lebih dari 300 ribu kaum muda dari seluruh dunia hadir di Basilika St Petrus untuk memenuhi undangan Sri Paus.

Memandang sekian banyak orang muda yang telah memenuhi undangannya, Yohanes Paulus II berujar, “What a fantastic spectacle is presented on this stage by your gathering here today! Who claimed that today’s youth has lost their sense of values? Is it really true that they cannot be counted on?” Setelah pertemuan itu, setahun kemudian WYD secara resmi ditetapkan pada 20 Desember 1985. Tahun berikutnya (1986), untuk pertama kali secara resmi WYD diselenggarakan di Roma.

Sejak itu WYD telah diselenggarakan di berbagai negara dengan tema yang berbeda. Negara-negara yang telah menjadi tuan rumah WYD adalah Italia, Argentina, Spanyol (Santiago de Compostela), Polandia, USA (Denver), Filipina, Prancis, Kanada, Jerman, Australia, Brasil dan Panama untuk 2019 nanti.

Event tiga tahunan ini benar-benar energi dan magnet yang menghimpun-satukan orang muda Katolik dari berbagai belahan planet ini. Di dalam grup kami sendiri terdapat sejumlah mahasiswa dengan latar kultur dan negara berbeda. Erji dari Kongo, Jacquess, Rodrique, Sergine dan Paschal dari Kamerun, John dari Uganda, dan sebagian bersar dari Moskwa dan Volgograd (Rusia), Robert dari Slovakia dan saya sendiri dari Indonesia.

Seminggu di Piaseczno pun berlalu. Bersama teman-teman kami segera beralih ke Krakow. Sewaktu mengunjungi beberapa situs bersejarah di Warsawa, Robert (penanggungjawab grup kami) menyempatkan diri membeli tiket kereta dari Warsawa ke Krakow untuk kami masing-masing. Jarak 350-an Km segera kami tempuh dalam tempo empat jam.

Hari itu sahabat-sahabat dari Piaseczno melepas kami dengan harap yang hampir lengkap, semoga kelak kami berjumpa lagi. Di dalam kereta, penumpang berdesak-desakan. Menariknya semua tampak ramah dan akrab. Terdengar percakapan dalam bahasa Jerman, Inggris, Prancis, dan tentu dalam Bahasa Rusia. Saya sudah menempati seat sesuai tiket dan Yulia dari Moskwa duduk di samping saya.

Setiap mengadakan perjalanan dengan kereta dan saat melewati padang tanpa perumahan, saya selalu ingat Timor yang gersang, namun memiliki keindahannya tersendiri. Tak heran beberapa film papan atas semisal “Tanah Air Beta”, “Atambua 39 derajat celsius” atau juga film “Balibo” sempat menunjukan kepada publik bahwa Timor memiliki eksotisme tersendiri. Di situ rasanya kampung adalah dunia pertama yang mengajariku tentang seni dan keindahan, tentang alam dan kebebasan. Alam adalah lukisan hidup dari tangan Dia yang tak kelihatan.

Kereta sudah jauh meninggalkan Warsawa dan segala modernitasnya. Mengingat Warsawa, dalam pikiranku selalu terbayang kota, sejarah, budaya dan modernitas yang tampak seimbang.Itu kesan saya sebagai orang yang baru pertama kali mengunjungi Warsawa. Kereta terus melaju. Seperti teman-teman yang lain, sayakeluarkan bekal dari tas; sandwich dan air yang sudah disiapkan Eliza sejak jam empat pagi tadi untuk perjalanan ke Krakow.

Siapakah Eliza? Dia dan segenap keluarganya adalah sahabat yang Tuhan janjikan untukku dan Erji. Tak pernah terbayangkan, juga tak terduga sebelumnya bahwa di dunia ini,kamu atau saya akan berjumpa dengan orang-orang yang memperlakukanmu seperti sahabat lama. Eliza adalah seorang akuntan senior, bekerja di kantornya di Piaseczno, tapi tinggal bersama suami dan kedua putrinya di Zalesie Dolne (tujuh kilometer dari Piaseczno).

Di sana, di kawasan tak padat penduduk itu, mereka memberi tumpangan untuk Erji dan saya. Mereka tinggal di lantai tiga. Di lantai dua terdapat ruang televisi, ruang tamu,kamar makan dan dapur. Di situlah sejak hari pertama di Polandia, khususnya di Piaseczno, kami berkenalan, bercerita, tertawa, dan bernyanyi bersama. Di situ juga, Anita, Ola dan Victoria serta Eva mempraktikkan Bahasa Inggris dengan ekspresi malu-malu. Lalu di lantai dasar, sebuah kamar khusus telah disiapkan untuk kami huni selama seminggu. Di lantai dasar ini terdapat dua tempat tidur, kamar mandi, ruang baca, satu set televisi dan perlengkapan mandi. Selama seminggu di sana, semuanya selalu tampak rapi.

Suatu malam di lantai dua, saat makan malam. Aleksander (suami Eliza) ingin tahu lebih lanjut perihal Indonesia. Di kepalanya, Indonesia adalah negara kepulauan yang terletak di antara Filipina dan Australia. Selebihnya, berdasarkan cerita teman-temannya, dia cuma tahu bahwa Indonesia itu archipelagic state dengan penduduk kira-kira empatpuluh juta jiwa. Mendengar itu saya tersenyum. Tak ingin segera membantah.

Aleksander sehari-hari bekerja sebagai salah satu pimpinan Renault di Warsawa. Setiap hari dia menerima tamu dari berbagai negara semisal Jerman, Prancis, Belgia, dan negara-negara lain. Dia berupaya mengungkapkan pemahamannya tentang Indonesia dalam Bahasa Rusia yang terbata-bata, setelah sekian lama tak berbicara dalam bahasa resmi di zaman Soviet itu.

Setelah dia selesai bicara, saya meluruskan informasi yang keliru tentang Indonesia. Dia tidak percaya. Terkejut. Tapi saya menegaskan lagi. "Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari 17.000-an pulau. Jumlah penduduknya 250-an juta jiwa."

Dia terkejut bukan main. Dia pun menggerakkan kedua bahu, mengernyitkan dahi, lalu diam sejenak. Saya pun ikut diam, begitu halnya seisi rumah. Dia kemudian mengangguk-angguk dan sekarang dia tahu pasti tentang Indonesia.

“Nahhh sekarang saya sudah tahu. Iya sekarang hanya saya yang tahu. Di kantor, teman-teman pasti tidak tahu. Saya akan jelaskan kepada mereka tentang Indonesia dan tentu mereka akan terkejut seperti saya,” katanya sambil tertawa ringan dan kembali menikmati sup serta roti di depannya.

Ehhhh dalam hati saya juga tidak yakin dengan informasi ini. “Jangan-jangan saya menyebarkan informasi yang keliru tentang negeri sendiri…” Saya berpikir lagi dan coba memastikan bahwa saya tidak sedang melakukan kekeliruan besar tentang Tanah Air. Jika itu terjadi, sungguh tak pantas menyebut diri sebagai orang Indonesia. Atau sekurang-kurangnya ada kepastian tentang Indonesia sebelum Aleksander lebih jauh menyebarkan informasi lisan ini.

Aleksander berbalik kepada Erji, bertanya banyak tentang Kongo. Tentang alam dan ekonomi, tentang budaya dan bahasa, tentang makanan dan kebiasaan orang-orang di sana, tentang saudara-saudara Erji di Kongo dan studinya di Tambov.

“Ada harimau, macan, dan tentu saja kuda nil, gajah, dan masih banyak lagi. Soal bahasa, ada Bahasa Lingala dan Prancis adalah bahasa resmi negara kami. Soal makanan, yahhh makanan khas di sana adalah Fufu,” cerita Erji dengan ekspresi bangga. Fufu adalah makanan khas orang Afrika yang terbuat dari singkong, namun juga bisa dibuat dari tepung jagung, gandum dan pisang.Kami menyimak cerita-cerita selanjutnya sambil menyelesaikan makan malam.

Aleksander mengambil tisu, dengan gerakan cepat membersihkan mulut dansegera menyambung kisah Erji. “Saya tahu beberapa kata bahasa Prancis. Misalnya, Merci, merci beaukoup, bon jour, bon appetit.” Kami semua begitu saja memuji Aleksander sambil tertawa ringan karena lafalnya yang khas Polandia. Tapi pujian tulus tiba-tiba beralih ke Eliza yang menyiapkan makan malam nan lezat. Eliza tersenyum dengan air muka sedikit bangga.

***

Kira-kira dua jam berselang, kereta kian jauh dari Warsawa. Tadinya sejumlah penumpang begitu antusias bercerita di depan saya. Kini mereka diam di tempat duduk masing-masing. Ada yang berusaha nyenyak dalam perjalanan ke Krakow. Ada yang membaca buku sambil sesekali memandang keluar lewat jendela kereta.

Ahhh saya sadar. Pikiranku sedang terbagi antara Piaseczno dan Krakow. Gadis itu bernama Maria. Selama hari-hari di Piaseczno dia begitu setia menemani saya saat kami mengunjungi berbagai situs sejarah di sekitar Warsawa. Juga saat kami bermain futsal bersama sejumlah peserta WYD dari negara-negara Amerika Latin dan Afrika, gadis itu selalu dekat. Pernah sekali, saya dan Erji ketinggalan bus yang mengangkut kami ke stadion mini. Maria diam-diam telah mengetahuinya. Dia segera menelpon ayah dan tiba-tiba ayahnya muncul dengan mobil pribadi.Kami pun diantar ke stadion itu, tempat kami hari itu menjadi “bulan-bulanan” sekelompok gadis pemain futsal profesional.

“Ahhhh laki-laki macam apa kamu? Kok bisa dikalahkan oleh gadis-gadis di lapangan futsal?”, komentar seorang sahabat yang menyaksikan kekalahan kami dengan senyum sinis.

Di dalam kereta saya tahu, Maria tidak mengambil bagian dalam rangkaian kegiatan di Krakow. Cuma di backpack saya ada sepotong surat yang dia tulis malam itu, malam sebelum kami meninggalkan Piaseczno. Saat itu Maria berpesan, “Kamu bisa membaca, mengenang dan memahaminya dalam perjalanan ke Krakow.” Saya ingat hari itu, saat dia menyerahkan surat tersebut dengan senyum yang merekah.

Dari dalam kereta, saya lihat di luar sana hujan terus mengguyur rerumputan. Semua di luar sana tampak basah. Saya keluarkan jacket dan melindungi tubuh dari rasa dingin. Di sebelah saya Yulia menyimak berita onlinedari ipad di tangannya. Saya keluarkan surat dari Maria, sepotong surat tulisan tangan dan membacanya untuk kesekian kali.

Dear friend…
Terima kasih…suatu saat nanti, saat kamu datang ke Polandia, pintu rumahku selalu terbuka untukmu. Terima kasih untuk semua kehangatan, untuk semua pengalaman yang sudah kita alami bersama. Waktu yang singkat tapi sangat menyenangkan. Datanglah ke Polandia. Saya menunggumu.

God Bless!
Maria

Surat yang singkat. Surat yang bikin saya ingin kembali ke Piaseczno. Bersama surat itu, Maria melampirkan ringkasan sejarah semua tempat yang telah kami datangi, semisal Cathedral of St. Michael the Archangel dan Cathedral of St. Florian the Martyr. Selain itu English Landscape Garden dengan format Romantic Garden. Ada pula informasi singkat tentang The Palace on the Isle, The White Pavilion dan kawasan mewah yang dikenal dengan nama “Villanov”. The Palace on the Isle (Polandia: “?azienki Królewskie”) merupakan paviliun taman Barok yang dirancang oleh arsitek Belanda, Tylman van Gameren. Taman ini sejatinya dijadikan sebagai tempat untuk beristirahat, bersantai dan berkontemplasi.

Selain “?azienki Królewskie”,Saya teringat Villanov. Di sana saya bertemu seseorang dari Chile. Saya lupa namanya. Saya menyapanya dan memperkenalkan diri dalam bahasa Spanyol. Dia terkejut dan berpikir saya menguasai baik bahasa Spanyol. Kami mulai berbicara serius dan saya pun tampak kehabisan kata-kata Spanyol. Untung saja dia menguasai baik bahasa Inggris. Saya ingat baik impresinya tentang WYD.

“Saya sangat bahagia di antara orang-orang muda dari seluruh dunia. Sudah dua kali saya berada di antara kaum muda sebanyak ini. Pengalaman pertama – saat WYD 2013 digelar di Rio de Janeiro – Brasil.”

***

Surat Maria masih di tangan saya. Kami sudah tiba di Krakow. Gerimis basahi jalanan kota. Ada Maria yang lain, gadis berumur duapuluhan tahun. Dia menjemput dan segera mengantar kami ke sebuah gereja. Di halaman gereja itu telah tiba ratusan peserta WYD dari Turkmenistan, Rusia, Prancis, Spanyol dan Portugal. Memandang Maria yang lain di Krakow yang basah, serasa saya sedang di Piaseczno.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More