Surat Cinta untuk Sumba

Penulis: Siti Retno Wulandari Pada: Minggu, 19 Nov 2017, 11:39 WIB Pesona
Surat Cinta untuk Sumba

MI/M Irfan

MOTIF gajah, ayam, hingga manusia di atas kain tenun khas Sumba menjadi kekuat­an dalam koleksi terbaru karya Biyan Wanaatmadja. Nuansa Indonesia memang bukan baru ditampilkan perancang senior ini. Biyan kerap lebih sering menghadirkannya lewat motif cetak di atas sutra maupun bahan-bahan mewah khas Eropa, seperti detail simpul sarung. Karena itu, koleksi bertajuk Humba Hammu atau Sumba yang Cantik yang dikeluarkan lewat label Biyan ini terasa berbeda.

Terlebih, kain tenun yang digunakan bukan hanya menggunakan yang sudah ada. “Kain tenun ini juga kain tenun hasil pengembangan saya bersama para perajin. Sekitar 14 perajin saya gandeng untuk menghasilkan 90 set busana,” tutur Biyan sebelum peragaan yang berlangsung di Nusantara Garden, Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Rabu (15/11).

Perancangan kain tenun yang dilakukannya sendiri, dikatakan Biyan, merupakan upaya untuk membuat terjemahan yang tepat akan ide-idenya. Desainer 63 tahun itu ingin kesan masa kini tetap kuat dalam koleksinya.

“Tidak ada yang salah dengan menjadi tradisional, tetapi saya ingin membawanya untuk masa kini dan mendatang,” tukas desainer yang koleksinya juga tersedia di situs belanja terkenal dunia, Net-A-Porter.

Lebih lanjut, ia menuturkan koleksi kali ini juga ibarat surat cinta dalam bentuk karya busana. Karena jatuh cinta pada kekayaan budaya Nusa Tenggara Timur (NTT), ia pun mengeksplorasi eksotisme motif yang ada di berbagai wilayah NTT, termasuk di Haumara, Kanatang, juga Sumba Barat.

“Kaum urban juga tidak punya waktu untuk lihat kekayaan Indonesia. Dengan rancangan ini saya ingin memperlihatkan kekayaan kita, harus kita bukan orang luar negeri yang mempromosikan,” tambahnya.

Siluet longgar
Dalam koleksi itu, siluet-siluet longgar dan potongan bias tetap dimunculkan. Artikel busananya pun belum banyak beranjak dari ciri khas selama ini, di antaranya blus tunik, gaun a-line, dan berbagai outer baik untuk perempuan maupun pria.

Kesan mewah dan megah dihadirkan lewat motif berukuran besar di bagian depan busana, penggunaan benang emas, maupun detail rumbai yang dibuat dengan sematan manik-manik.

Di sisi lain, kesan muda hadir lewat artikel busana berupa celana sebetis, celana pensil, hingga tunik semi-mullet. Pada beberapa tampilan, Biyan menambahkan kain utuh yang dililitkan sebagai outer.

Padu padanan motif, warna, serta detail seperti fringe, bordir, hingga patchwork tersebut dihadirkan tanpa menghilangkan kesan rustic yang sudah dimiliki kain tenun itu. Justru kesan rustic tampil sekaligus elegan lewat penggunaan warna-warna tanah. (M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More