Tentang Manusia dan Realitasnya

Penulis: MI Pada: Minggu, 19 Nov 2017, 11:09 WIB Tifa
Tentang Manusia dan Realitasnya

KEBUDAYAAN: Roby Muhamad menyampaiakan Pidato Kebudayaan bertajuk Nostalgia Masa Depan Manusiadi Taman Ismail Marzuki, Jakarta---Dok. Pribadi

MALAM itu ribuan penonton sudah masuk ke Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Mereka menempati kursi sesuai dengan nomor tiketnya masing-masing. Satu orang lagi tampak terlambat datang, lakunya bingung mencari tempat duduk sambil mencocokkan nomor tiketnya.

Pendar cahaya lampu kini mulai redup. Tampak di sisi kiri, belasan anak mulai berjalan ke tengah panggung. Tak lama kemudian suara piano berdenting dan belasan anak tadi bersatu padu dalam suara. “Aku bangga menjadi anak Indonesia,” begitulah suara mereka bersipongang.

Paduan suara anak-anak dari Yayasan Bina Vokalia menjadi pembuka Suara Jernih dari Cikini. Kali ini, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar Pidato Kebudayaan, yang menjadi salah satu program unggulan sekaligus tradisi tahunannya dengan mengundang Roby Muhamad, seorang fisikawan, statistikawan, sosiolog, dan entrepreneur.

Di mata Ketua Umum DKJ Irawan Karseno, peradaban manusia sedang berada pada lampu kuning. ‘Kuning’ berarti situasi atau masa transisi. Setelahnya, keadaan bisa membaik menjadi lampu hijau, atau malah memburuk menjadi lampu merah. “Suara jernih dari Cikini,” kata Irawan Karseno memberi tawaran pemikiran kritis terkait dengan masalah terkini dalam aspek kesenian, kebudayaan, dan peradaban.

Roby merupakan seseorang yang sejak kecil berambisi mengurai bab musabab realitas. Hal itu lantas membuatnya bersekolah nonsetop selama 35 tahun, hingga berhasil mendapat 1 gelar sarjana fisika teori dari Institut Teknologi Bandung (ITB), 3 gelar master dalam bidang fisika, statistik, dan sosiologi, dan 1 gelar doktor di bidang sosiologi jejaring sosial dari Columbia University, New York.

Nostalgia masa depan
Roby membawakan pidato yang terdiri dari sepuluh segmen dan dikemas menjadi satu dalam tajuk Nostalgia Masa Depan Manusia. Roby mengutarakan pandangan terkininya terkait dengan budaya, moral, politik, sosial, kognisi, teknologi, biologi, fisika, dan spiritual, hingga pembaruan kreatif yang ia tawarkan sebagai konklusi.

Menyoal budaya, Roby menganggap fungsi utamanya adalah pemaknaan. Dari pemaknaan terhadap realitas dan fenomenalah manusia mengonstruksi indentitas. Roby yang kali ini menyitir ungkapan seorang filsuf Arthur Danto menyatakan makna hanya bisa dibangun melalui ‘kalimat naratif’. ‘Kalimat naratif’ hanya bermakna jika diucapkan setelah kejadian bermaknanya terjadi.

Menyangkut moral, Roby mengatakan saat ini ada beberapa tipe moral yang dipa­kai manusia, yaitu moral yang mengutamakan kesucian, keadilan, kebebasan, otoritas, dan kepedulian. Roby mengatakan riset dari Amerika menemukan orang berideologi liberal cenderung mementingkan dimensi kepedulian dan mengabaikan dimensi moral lainnya. Sementara itu, kelompok konservatif cenderung menganggap semua dimensi moral sama pentingnya. Riset itu juga menemukan basis moral adalah intuisi, bukan nalar rasional.

“Dari situ kita bisa mengerti kenapa hal yang berkaitan erat dengan moral seperti ideologi, politik, dan agama dapat dengan mudah memecah-belah masyarakat. Itu disebabkan bisa jadi setiap kelompok berpegang pada dimensi moral yang berbeda. Nalar lebih sering dipakai untuk merasionalisasi moral yang berbasis intuisi,” imbuh Roby.

Menurut Roby, sekarang ini manusia telah sampai pada era post-truth atau keadaan di saat sebagian orang mengatakan kebenaran itu seolah-olah sudah tidak ada. Roby tidak menganggap demikian karena baginya kebenaran itu masih tetap ada walau dalam bentuk yang terfragmentasi.

Dewasa ini, semakin hari semakin banyak orang mendapatkan informasi melalui media sosial. Sementara itu, media sosial itu sendiri telah diatur menggunakan algoritma untuk mengetahui apa yang kita suka.

“Kita sepertinya tampak lebih bebas, tapi sebetulnya tidak. Ini sudah menjadi industri miliaran dolar dengan keuntungan miliaran dolar yang semuanya didapatkan dari data pribadi kita,” jelas Roby.

Ketika mereka meraup keuntungan miliaran dolar, yang kita dapat malah polarisasi politik, polarisasi opini publik, yang kebanyakan justru merugikan.

Roby berpidato kurang lebih selama 1 jam. Apa yang ia sampaikan ini merupakan hasil telaahnya soal asal usul waktu atau bagaimana ia memahami masa lalu, kini, dan masa yang akan datang. (*/M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More