[WAWANCARA] Triawan Munaf: Menggerakkan Ekonomi Kreatif Menangguk Devisa Negara

Penulis: Abdillah M Marzuqi Pada: Minggu, 19 Nov 2017, 10:44 WIB Hiburan
[WAWANCARA] Triawan Munaf: Menggerakkan Ekonomi Kreatif Menangguk Devisa Negara

MI/Rommy Pujianto

BANYAK yang mengatakan Indonesia gudangnya pelaku industri kreatif. Namun, banyaknya talenta kreatif itu belum mampu diwadahi secara baik. Bahkan belum ada ekosistem yang memadai untuk mereka sehingga sepotensial apa pun talenta milik Indonesia, dapat dipastikan mereka tertatih untuk merentangkan sayap ke luar negeri.

Untuk itulah Bedan Ekonomi Kreatif (Bekraf) hadir. Secara kelembagaan, perjalanan Bekraf dimulai dari ditekennya Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2015 tentang Badan Ekonomi Kreatif pada 20 Januari 2015.

Keberadaan Bekraf masih diterpa isu tak sedap. Setidaknya mulai isu laporan keuangan yang mendapat opini disclaimer atau tidak menyatakan pendapat dari Badan Pemeriksa Keuangan untuk laporan keuangan 2016.

Banyak hal butuh diperjelas dari sepak terjang Bekraf dalam mengawal sektor ekonomi kreatif. Berikut petikan wawancara Media Indonesia dengan Kepala Bekraf Triawan Munaf, di Kantor Bekraf, Jakarta, Rabu (14/11).

Bekraf telah berusia tiga tahun, bagaimana peran Bekraf dalam membangun industri kreatif di Tanah Air
Sebetulnya belum tiga tahun. Dua tahun delapan bulan, sejak perpres yang ditandatangani Januari 2015 (Perpres Nomor 6 Tahun 2015). Akan tetapi, setelah itu tidak langsung operasional karena sebagai sebuah lembaga pemerintah memerlukan proses dalam pembentukan strukturalnya.

Pada Agustus 2015, kami baru mendapatkan eselon satu. Lalu Februari 2016 baru mendapat eselon lainnya. Oktober 2016, kami baru memiliki sestama. Padahal, sua­tu lembaga pemerintah itu memerlukan backup dari PNS yaitu seorang sestama atau sekjen. Tidak boleh swasta atau yang berasal dari swasta memegang anggaran atau menge­­lola anggaran. Jadi kita dihitung dari situ, satu setengah tahunlah baru beroperasi.

Kesulitan dan kendala yang dihadapi Bekraf?
Keadaan Indonesia sangat besar, kita tidak bisa memuaskan dari segi pencapaian. Ada 500 kabupaten/kota yang harus kami bantu. Tentunya kami tidak menangani secepat itu karena kami tidak punya dinas. Semua harus ditangani dari Jakarta. Proses penyempurnaan dari adminitrasi. Kalau proses pendukungan secara kualitatif, itu sudah kami miliki.

Yang masih menjadi tantangan kami adalah secara kuantitatif bagaimana kami bisa mencapai lebih banyak lagi praktisi, pihak-pihak yang membutuhkan dukungan kami.

Bagaimana peran Bekraf dalam menanggani sektor ekonomi kreatif?
Jadi sejak semula Bekraf didirikan, kami melihat tidak adanya ekosistem di 16 subsektor ekonomi kreatif. Pembentukan struktural dari Bekraf, kami bentuk persis enam kedeputian sesuai dengan kebutuhannya. Tiap kedeputian itu diharapkan ditujukan untuk menciptakan ekosistem yang dibutuhkan dari sebuah industri ekonomi kreatif seperti riset, edukasi, dan pengembangan.

Lalu deputi infrastuktur karena kita belum punya infrastuktur online dan offline yang sudah mapan. Semua masih dalam pembentukan. Kita tak punya ikonik teater seperti Syndey Opera, Royal Albert Hall di Inggris. Daya capai kami masih terbatas, kuantitas orang yang melayani. Kalau kualitas kami punya. Program-program kita cukup berkualitas.

Dari 16 subsektor, mana yang paling keren dan mengalami perkembangan pesat?
Semua keren. Kalau soal keren atau tidak, berdasarkan hasil survei ekonomi kreatif, pertumbuhan pesat terjadi pada empat subsektor, yakni desain komunikasi visual 10,28%, musik 7,26%, animasi video 6,68%, dan arsitektur 6,62%.

Apa kriteria ekonomi kreatif yang didukung Bekraf? Bagaimana prosesnya?
Kita selalu mengadakan kurasi yang seadil-adilnya, seobjektif mungkin, yang dilakukan oleh pihak ketiga, oleh orang-orang yang kita percayai. Bukan oleh kita sendiri karena kita tidak ahli. Mereka akan mengu­rasi siapa pun yang mendaftarkan diri. Biasanya kita ada open call untuk pameran misalnya. Mendaftar langsung dinilai sesuai dengan kreasi mereka. Bukannya kita diskriminatif, tapi kita ingin menampilkan kita di luar negeri dengan optimal. Seperti itu, kita lakukan secara terus-menerus di berbagai subsektor. Kita tidak ingin menampilkan Indonesia yang terlalu tradisional, kita ingin menampilkan Indonesia yang maju. Selera kerajinannya pun bisa sesuai dengan kualitas yang dituntut konsumen di luar negeri.

Ukuran keberhasilan dari dukungan Bekraf?
Setiap peserta yang dikirim ke luar negeri untuk ikut pameran-pameran terkemuka, kami tuntut untuk siap bertransaksi di sana. Kalau ada orang memesan barang, komitmen mereka harus dipenuhi. Karena kita perlu skill up. Untuk industri secara keseluruhan. Ajari orang lain. Ada perluasan seperti itu yang kita tekankan pada mereka. Ukuran keberhasilan tentu transaksi. Kalau bukan transaksi tentu buat apa ada ekonomi kreatif. Hanya kreatif saja. Kita justru mau memonetisasi ide-ide itu seluas-luasnya sehingga ketiga ukuran kita, yakni penambah­an tenaga kerja, penambahan devisa, dan kontribusi pada PDB juga meningkat.

Bagaimana sinergi Bekraf dengan lembaga lain? Ada anggapan bahwa Bekraf kurang bersinergi dengan komunitas yang sudah ada, mohon tanggapannya?
Kita sangat sinergi. Tidak bisa sempurna. Namun dengan pariwisata kita harus bersi­nergi. Karena kita dukung agar pariwisata menjadi andalan kita. Pariwisata tanpa ekonomi kreatif itu cuma pemandangan. Tidak ada makanan, tidak ada fesyen, tidak ada kerajinan, tidak ada musik, dan lain-lain. Jadi kita harus mengikuti apa yang ditargetkan pemerintah dalam memajukan pariwisata.

Seperti kita sudah bikin 10 konsep film yang sudah hampir selesai dari 10 destinasi wisata. Bukan iklan, bukan promosi, melainkan sebuah cerita yang terjadi di daerah itu.

Bagaimana iklim ekonomi kreatif di Indonesia saat ini? Apakah sudah kondusif atau malah masih jauh dari ideal?
Baik sekali kondisi iklim ekonomi kreatif. Akselerasi ekonomi yang dihasilkan ekraf sangat cepat. Saya harapkan akhir 2017 sumbangan ekraf pada PDB sudah sampai Rp1.000 triliun, pada 2015 yang sudah di­ukur Rp852 triliun, lalu ada kenaikan sampai hampir Rp910 triliun pada 2016. Kalaupun tidak sampai Rp1.000 triliun, hampir ke Rp1.000 triliun.

Kesadaran hak atas kekayaan intelektual terkait dengan industri kreatif, termasuk perlindungan hukum terhadap hak cipta. Bagaimana Bekraf menyikapi hal itu?
Ekonomi kreatif bisa maju kalau kita memahami apa itu hak kekayaan intelektual. Kita bisa bukan hanya memahami, melainkan lebih lanjut lagi memberikan fasilitasi maupun pendaftaran yang kami fasilitasi secara masif dan gratis. Kami juga keliling Indonesia untuk memberikan pemahaman itu. Kalau HaKI sudah dijalankan dengan penuh. Itulah yang namanya ekraf. Sudah terdaftar, terlindungi, dan termonetisasi. Tanpa terdaftar, terlindungi itu tidak bisa termonetisasi. Kalau sudah HaKI itu yang mahal. Termasuk juga produk-produk yang harus diperhatikan branding-nya, promosinya, karena di situlah nilai dari sebuah barang.

Laporan keuangan sempat mendapat disclaimer dari BPK, bagaimana dengan itu? Bahkan DPR juga menganggap SDM Bekraf kurang kompeten dalam laporan keuangan?
Di tahun pertama memang kami akui kami masih sangat muda, sangat awam soal itu. Kami tidak punya struktur yang cukup untuk menangani pelaporan keuangan. Kami termasuk dari beberapa lembaga atau kementerian yang mendapat nilai rendah. Kami sudah janji tahun berikutnya, tahun kedua. Asal jangan di tahun keberapa masih juga jelek. Mudah-mudahan di tahun kedua ini kita sudah bisa meningkatkan status. Kalau bisa sudah wajar tanpa pengecuali­an (WTP).

Saya akui pada saat itu kita memang sangat belum bisa menggelola keuangan dengan baik. Kalau boleh dibilang PNS yang kita dapat juga tidak sepenuhnya yang terbaik semua secara kualitatif. Secara kuantitatif juga kurang orangnya. Karena birokrasi administrasi keuangan di kementerian sungguh rumit, salah koma saja bisa dikembalikan, salah titik saja bisa dikembalikan. Banyak yang kami pelajari di tahun pertama dari pemeriksaan keuangan itu. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More