Istana Hati

Penulis: Ono Sarwono Pada: Minggu, 19 Nov 2017, 05:46 WIB Opini
Istana Hati

ANALISIS politik bermunculan setelah mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko mewakili tuan rumah Presiden Joko Widodo dalam resepsi pernikahan Kahiyang Ayu-Bobby Nasution di Graha Saba Buana, Surakarta, Rabu (8/11) malam. Respons lumrah karena ia tokoh di negeri ini.

Namun, yang tidak biasa sekaligus menarik terkait dengan posisinya itu ketika Moeldoko menyampaikan sambutan. Ia mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada tamu undangan yang telah berbagi kebahagiaan di 'istana hati'. "Sengaja saya menyebut istana hati karena perhelatan ini sungguh mampu membahagiakan dan membuat banyak pihak senang hati," katanya.

"Alam pun seakan ikut bergembira. Alhamdulillah, respons rembulan pun malam ini bersinar sungguh baik dan terang," imbuhnya.

Mencoba memaknai ungkapan tersebut, poinnya ialah pada pernyataan mampu membahagiakan dan menyenangkan banyak pihak. Dalam konteks ini, tentunya itu terwujud karena pengaruh pamor sang arsitek 'istana hati', yaitu Joko Widodo.

Ludes ditipu

Bila menengok di dunia wayang, salah satu tokoh yang membuat semua penghuni jagat merasa ayem, tentrem, bagya, mulya (senang, tenteram, bahagia, dan mulia) ialah Puntadewa alias Yudhistira. Ia menjadi 'istana hati' bagi semua makhluk hidup. Siapa pun yang memiliki hati nurani pasti merasakan ia sang peneduh.

Dikisahkan, putra sulung Pandudewanata-Kunti Talibrata itu kodratnya dikaruniai kepribadian welas asih. Wataknya luhurnya itu tidak pernah berubah hingga ia menjadi pemimpin negara Amarta. Malah kian matang. Modal inilah yang menjadikannya selama hidup tidak punya satru (musuh) sehingga ia mendapat predikat Ajatasatru. Keunggulan karakter Puntadewa itu sudah teruji berulang kali. Mulai peristiwa dalam lakon Pendadaran Siswa Sokalima, Main Dhadhu yang mengantarkannya hidup terasing di belantara, hingga kasus Bale Sigala-gala yang mengggiriskan.

Puntadewa menghadapi semua peristiwa yang mengancam jiwanya itu dengan mesem. Ia lalui tanpa atau memunculkan amarah. Walaupun ia tahu betul dirinya dibodohi dan dijadikan bulan-bulanan pihak lain, tidak sejengkal pun bereaksi untuk melawan, apalagi membalas dendam.

Misalnya, dalam lakon Main Dhadhu itu, Puntadewa diakali habis-habisan oleh Kurawa yang dimentori Sengkuni. Bukan dalam satu babak, melainkan berbabak-babak hingga akhirnya ludes. Puntadewa bangkrut, tidak memiliki apa-apa kecuali dirinya sendiri.

Ia kehilangan negara Amarta alias Indraprastha yang dibangun dengan susah payah bersama adik-adiknya. Bahkan istrinya, Drupadi, pun menjadi objek jarahan nafsu syahwati Kurawa. Lebih dari itu, karena kekalahannya dalam permainan itu, ia bersama keempat adiknya (Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) wajib menjalani hukuman pengasingan di Hutan Kamyaka selama 12 tahun dan hidup sesingitan (menyamar) dalam waktu satu tahun.

Susahkah Puntadewa? Menyesalkah ia? Baginya, tiada yang perlu diratapi atau ditangisi karena itu semua hanyalah kefanaan. Ia lebih mengedepankan sikap pantang tidak menyenangkan atau melegakan siapa pun (Kurawa) meski dirinya dan saudaranya menjadi korban.

Bersikap welas asih

Setiap saat, terutama ketika Pandawa sedang tertimpa lelakon, Puntadewa senantiasa menasihati adik-adiknya agar selalu menyuburkan kesabaran dan tidak bersedih. Ia pun mejang saudaranya untuk ikhlas dan membuang kebencian terhadap siapa pun yang membuatnya merana. Wasiat ibunya yang dipegang, bahwa lelakon itu adilnya dilakoni.

Menurutnya, tidak ada dasarnya punya pikiran, perasaan, dan tindakan tidak baik karena urusan duniawi. Ada yang lebih bernilai dan hakiki yang mesti diesti (diperjuangkan) dalam hidup ini yang ibaratnya sekadar mampir ngombe (mampir minum) atau singkat.

Inilah sebagian peran yang dimainkan Puntadewa sebagai anak tertua dalam membentuk watak kesatria adik-adiknya dan juga dirinya sendiri. Karena itu, ketika menjalani pengasingan di hutan, itu bukan 'penjara' yang membuat mereka konyol seperti yang ditargetkan Kurawa. Tetapi, hukuman itu malah menjadi 'akademi' untuk menyempurnakan karakter mereka.

Dalam kisahnya, keunggulan kualitas pribadi Puntadewa sebagai 'istana hati' ini sudah terbukti jauh sebelumnya, yakni ketika Pandawa membabati Hutan Wanamarta alias Mertani untuk didirikan Negara Amarta. Ia mengajari Bratasena (Werkudara) bagaimana seyogianya membersihkan belantara tanpa menyakiti makhluk lain yang berada di situ.

Di antaranya pantang serampangan menebang pohon. Harus dengan cara welas asih menyingkirkan dan menaklukkan semua binatang penghuni hutan. Pun mesti kulanuwun (minta izin) kepada makhluk yang tidak kasatmata yang menguasai tempat tersebut.

Karena itu, aksi membabat hutan itu tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Binatang dan hewan bahu-membahu mendukung Pandawa membangun negara. Bahkan jin-jin 'pemilik' hutan pasrah dan malah menggabungkan diri pada Pandawa. Raja jin di situ, Yudhistira, menyatukan diri pada diri Puntadewa. Nama itulah yang kemudian dipakai Puntadewa ketika dinobatkan sebagai raja Amarta alias Indraprastha.

Bukti lain Puntadewa menjadi 'istana hati' ketika ia mengadakan resepsi Sesaji Rajasuya. Para raja di seluruh pelosok di marcapada berbondong-bondong datang menghadiri undangannya. Mereka merasa tenteram bersilaturahim dengan Puntadewa.

Revolusi mental

Sebagai raja, Puntadewa tidak pernah merasa yang paling berkuasa. Sikap dan perilakunya sehari-hari pun sangat sederhana bak kaum sudra. Sebagai pemimpin tertinggi di Amarta, ia tidak pernah mengenakan mahkota kebesaran, tetapi hanya bergelung keling.

Ia menerima segala kritik dengan lapang dada. Ketika difitnah, pun digarap hidupnya, ia mengatakan dirinya lahir-batin rapapa (tidak apa-apa). Tidak ada dendam. Ia yakin pada waktunya para pembencinya akan sadar dan mapan dengan sendirinya.

Di bawah kepemimpinan Puntadewa, rakyat Amarta merasa nyaman karena negara selalu hadir dalam setiap tuntutan kebutuhan dan persoalan yang muncul. Sang pemimpin pun dinilai mampu merevolusi mental seluruh komponen bangsa yang sebelumnya berwatak pemalas dan penggerutu.

Keluhuran pribadi Puntadewa itulah yang membuat para dewa di Kahyangan seperti bertekuk lutut di depannya. Maknanya dia benar-benar telah menjadi 'istana hati' bagi semua makhluk Tribuana mayapada, madyapada, dan marcapada. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More