Menyebarkan Virus Kewirausahaan di Temanggung

Penulis: Tosiani Pada: Minggu, 19 Nov 2017, 05:01 WIB Wirausaha
Menyebarkan Virus Kewirausahaan di Temanggung

DOK. U&EM

DI kelas itu Dahono bangga menunjukkan produk bumbu rempah buatannya. Pembuatan produk itu, termasuk desain kemasannya yang apik, bukan perjalanan singkat.

Pemuda berusia 25 tahun itu akhirnya mampu mematangkan seluruh tahapan produknya setelah lima kali mengikuti pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan Komunitas Universal and Muslim Entrepreneur (U&EM) Temanggung. Setiap Jumat, Dahono akan berangkat dari desanya di Petarangan, Kecamatan Kledung, ke kelas yang berlangsung di halaman belakang minimarket Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) - Mart (Umart), Lingkungan Pandean, Kelurahan Temanggung II, Kecamatan/Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

“Punya produk ini sudah mimpi saya sejak lama. Saya berharap dengan produk ini keluarga saya lebih sejahtera. Karena itu, juga saya ikut pelatihan ini,” tutur pemuda yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh bangunan dan kurir ekspedisi itu dalam pelatihan yang berlangsung Oktober lalu.

Dahono merupakan satu dari puluhan orang yang masuk angkatan ketiga peserta pelatihan. Peserta lainnya datang dari berbagai daerah, seperti Bantul, Kudus, Magetan, Semarang, Magelang, Kendal, dan Wonosobo. Angkatan-angkatan sebelumnya sudah lulus dan berwirausaha. Setiap peserta pelatihan memang didorong, diwajibkan memiliki ide-ide cemerlang untuk mencetuskan dan membuat produk.

“Semula saya bingung mau bikin produk apa. Selama mengikuti empat kali pelatihan, saya terus berpikir. Akhirnya muncul ide membuat bumbu rempah bubuk instan dari bumbu rempat segar dan murni untuk mempermudah orang memasak,” ujar Dahono.

Pada pelatihan sebelumnya, ia membuat bumbu rempah bubuk hanya dengan kemasan plastik klip biasa, tanpa label. Namun, dalam pelatihan, mentor mendorongnya untuk mengemas produk dengan lebih bagus sehingga meningkatkan nilai jual. Dahono lalu berupaya mendesain kemasan produknya dengan nama bumbu rempah MUD.

“Mud itu diambil dari nama depan paman saya. Selama ini saya tinggal bersama paman sehingga namanya menginspirasi saya untuk membuat kemasan produk bumbu rempah ini,” tutur Dahono.

Tiap kemasan produk bumbu rempah MUD berwarna kuning seberat 20 gram akan ia jual seharga Rp8.000. Isi 20 gram untuk bumbu ikan, misalnya, cukup untuk memasak 2 kilogram (kg) ikan. Jika lebih, bumbu instan bubuk tersebut dapat disimpan dalam waktu cukup lama, untuk digunakan lagi pada masakan berikutnya.

Ia mengaku selama ini belum sempat menjual produk bumbu tersebut. Dahono menilai produknya masih perlu banyak perbaikan.

“Nanti setelah benar-benar bagus dan saya cukup percaya diri menjualnya, bumbu rempat ini akan diproduksi oleh sekeluarga agar meningkatkan ekonomi keluarga kami,” tambahnya.

Selain membantu peserta mencari ide produk dan mematangkannya, Panitia Komunitas U&ME juga memfasilitasi pengurusan izin industri rumah tangga (IRT). Untuk pemasaran, peserta pelatihan juga bisa menitipkan produknya Umart yang memang sengaja didirikan komunitas tersebut. Panitia pelatihan juga menerima konsultasi produk dan membantu pemasaran.

Memoles produk yang sudah ada

Peserta pelatihan nyatanya bukan hanya mereka yang baru ingin menjadi wirausaha. Edi Purnomo mengaku telah memiliki produk tahu bakso, yang sudah dijualnya selama empat tahun di sekitar Temanggung. Ia juga menjadi distributor untuk produk pembersih tangan organik.

“Motivasi saya ikut pelatihan ini agar saya mendapat masukan, saran, mungkin kritik untuk produk saya beserta kemasannya, agar lebih bagus dan sempurna, sehingga dapat meningkatkan penjualan,” kata Pria asal Tepungsari, Walitelon, Kecamatan Temanggung.

Siti Noor Farida, panitia pelatihan entrepreneur yang juga pengurus Komunitas U&ME, menerangkan, komunitas itu terbentuk sejak 2010. Semula komunitas itu bergerak melayani konsultasi mengenai utang dan permasalahan dengan bank yang dialami pengusaha UMKM.

“Biasanya yang datang berkonsultasi adalah pengusaha-pengusaha yang nyaris bangkrut dan dikejar-kejar debt collector. Kami dampingi juga secara informal untuk menyelesaikan masalahnya dengan bank,” tutur perempuan yang akrab disapa Ida ini.

Konsultasi debt free itu berjalan hingga 2012. Setelah itu, Komunitas U&ME mengalami vakum cukup lama lantaran para personelnya sibuk menyelesaikan problem usaha sendiri-sendiri. Baru pada 2016 Komunitas U&ME bangkit lagi dengan format dan pola baru, pun juga personel baru. Kegiatan yang dilakukan berbeda dengan sebelumnya.

“Pada intinya kami ingin menumbuhkan jiwa kewirausahaan. Kami ingin menyebarkan virus-virus entrepreneur, yakni dengan mengubah pola pikir, bahwa berwirausaha itu mudah, bisnis itu mudah. Makanya peserta pelatihan wajib punya produk tiap kali pelatihan kelima,” tukas Ida. (M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More