Kuberlari Andre Moller

Penulis: Suprianto Annaf/Redaktur Bahasa Media Indonesia Pada: Minggu, 19 Nov 2017, 03:01 WIB Opini
Kuberlari Andre Moller

google.com

DI rubrik Kompas pada 28 Oktober 2017, tercantum judul ‘Lari dan Kawan-kawan’ yang ditulis Andre Moller, di bawah tulisan itu tersemat titel penyusun Kamus Swedia-Indonesia. Setahu saya, dia juga sering menyapa penikmat bahasa di Indonesia.

Akan tetapi, di tulisannya yang teranyar itu, terdapat empat hal yang menggelitik saya untuk berkomentar. Entah Moller lupa, penyebutan ku- sebagai sufiks mulai menghentikan gerak mata untuk menghabiskan seluruh tulisan Moller.

Tentu Moller punya argumen mengapa ku- disebut sufiks. Hanya dalam kajian morfologi, bentuk seperti ku-, -mu, dan kau- tidak pernah disebut sufiks, tetapi disebut klitik.

Istilah klitik ini justru ingin menjauhkannya dari batasan afiks, termasuk sufiks! Klitik (atau klitika) merupakan bentuk singkat dari persona aku (ku-), kamu (-mu), dan engkau (kau-). Bila dilekatkan di awal kata yang mengikutinya, bentuk singkat itu dinamai proklitik. Sebaliknya, bila dilekatkan setelah kata dasar, namanya disebut inklitik, seperti bukumu dan tulisanmu.

Masih di tulisan itu, Moller terlupa membatasi definisi kalimat aktif dan pasif pada kata kuberlari. Dalam dimensi struktural, kalimat aktif berciri subjek melakukan perbuatan, menggunakan awalan me-N atau ber-. Sebaliknya, struktur yang disebut pasif apabila subjek tidak melakukan perbuatan. Biasanya imbuhan pasif ini berupa di- dan ter-.

Akan tetapi, mengapa Moller menyebut kuberlari sebagai kalimat pasif (atau berciri pasif)?

Analisis saya tentang hal itu karena Moller ingin menyampaikan ragam pasif bentuk kedua. Sebagai contoh: Aku akan menyampaikan pesan itu (aktif). Kalimat aktif jenis ini, yakni mengandung kala atau waktu (akan) dapat dipasifkan dengan pola kedua, yakni posisi agentif (saya) berada antara kala dan kata kerja sehingga menjadi kalimat Akan kusampaikan pesan itu (kalimat pasif). Posisi subjek diduduki oleh pesan itu bukan ku-.

Nah, kalau kita kembalikan pada kata kubelari yang Moller sebut sebagai bentuk yang bertabrak­an, sebenarnya dapat dipahami lagi dari uraian di atas. Klitik ku- yang bergabung pada kata berlari tidak mengubah struktur dalam kalimat itu, tetap saja berstruktur aktif walau bentuk persona aku berganti ku-.

Berikut hal ketiga yang saya komentari. Moller, melalui tulisan itu, berinisiatif menawarkan kata lelarian. Menurutnya, suatu saat nanti kata lelarian bisa digunakan dalam gabungan kata lelarian santai, lelarian jauh, lelarian interval, lelarian mingguan, dan lelarian para jomlo. Bentuk turunan yang seperti Moller maksud memang belum ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Namun, saya agak sedikit pesimistis saran kreatif ini terakomodasi dalam KBBI cetakan berikutnya. Mengapa? Bentuk ulang sebagian yang dimaksud Moller tidak separadigmatis dengan bentuk kata lelaki (dari laki-laki), tetangga (dari tangga-tangga), pepohonan (dari kata pohon-pohon), tetikus (berciri tikus), atau rerata (dari rata-rata).

Kalau kita cermati lebih dalam, bentuk ulang sebagian itu terjadi pada dasar yang berkelas nomina (benda). Sebagai contoh, kata laki-laki termasuk benda. Pun kata tangga-tangga, pohon-pohon, tikus, dan rata-rata termasuk kata benda. Singkatnya, kata-kata dasar itu tidak sekelas dengan kata lari (verba). Kalau saja kedinamisan bahasa ini tetap terbentuk secara paradigmatik, tentu harapan Moller untuk memakai kata lelarian masih membutuhkan kajian lagi.

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More