Memberdayakan Warga Menjaga Taman Nasional

Penulis: Administrator Pada: Sabtu, 18 Nov 2017, 11:22 WIB Jejak Hijau
Memberdayakan Warga Menjaga Taman Nasional

MI/Aries Munandar

ARISTULAH menata lagi letak polybag berisi bibit aren agar cukup mendapat sinar matahari. Rumput dan tumbuhan pengganggu pun ia bersihkan. "Tanaman disiram dua hari sekali dan dipupuk sebulan sekali," kata staf Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TNBKDS) tersebut, Jumat (27/10).

Sebanyak 1.500 bibit aren ditangkar di Kantor Seksi Pengelolaan Wilayah III TNBKDS di Desa Tanjungkarang, Putussibau Utara, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Meski kebanyakan tanaman berusia sekitar empat bulan itu terlihat subur, diakui ada pula yang mati.

"Jumlahnya 120 bibit," ujar Egidius Maddang, rekan Aristuslah. Bibit aren asal Tomohon, Sulawesi Utara, yang terkenal bereproduksi tinggi itu didatangkan dalam bentuk kecambah. Sekali disadap, aren tersebut bisa menghasilkan nira hingga 30 liter.

Setelah berusia setahun, bibit menurut rencana akan dibagikan kepada warga. Usia tersebut dianggap masa ideal bagi bibit aren untuk dipindahkan ke area tanam. Setiap keluarga dijatah sekitar 10 bibit. Budi daya aren merupakan satu di antara beberapa program pemberdayaan ekonomi untuk masyarakat di sekitar kawasan Betung Kerihun.

Komoditas ini dipilih berdasarkan usulan dari warga, yang memang sudah tidak asing lagi dengan tanaman penghasil nira tersebut. Namun, selama ini, aren hanya menjadi komoditas sampingan mereka karena produksi niranya belum banyak. Nira itu dalam bentuk olahan minuman tradisional. Oleh karena itu, pembagian bibit aren tomohon kali ini disertai pelatihan budi daya dan pengolahan nira menjadi gula aren.

"Kami akan bekerja sama dengan lembaga swadaya masyakat untuk pemasaran gula aren," jelas staf Pengendali Ekosistem Hutan Balai Besar TNBKDS Badrul Arifi n. Selain aren, TNBKDS juga mengembangkan budi daya karet unggul di kawasan penyangga lainnya, seperti di Dusun Nangahovat, Desa Datah Diaan, Putussibau Utara.

Komoditas ini juga dipilih berdasarkan usulan dan kondisi masyarakat setempat. Berbagai program pemberdayaan ini dilancarkan TNBKDS untuk merangkul warga agar turut merasa memiliki dan menjaga kelestarian taman nasional. Pendekatan preventif ini sekaligus membangun komunikasi dan hubungan harmoni antara petugas dan masyarakat.

Kearifan lokal

Balai Besar TNBKDS juga merekrut warga lokal sebagai petugas patroli. Pelaku perusakan lingkungan yang tertangkap akan dijatuhi sanksi yang penentuannya melibatkan tokoh adat. Sanksi itu biasanya berupa denda sesuai dengan hukum adat yang berlaku di masyarakat setempat.

"Pemberlakuan hukum adat sangat efektif karena membuat pelaku jera. Semua barang bukti juga disita," kata Kepala TNBKDS Resor Nangahovat Ilham Fauzan. Ia menjelaskan pendekatan kekeluargaan selalu dikedepankan saat menyelesaikan setiap persoalan yang bersingungan dengan masyarakat. Petugas tidak pernah melarang warga mencari nafkah atau memanfaatkan hasil hutan nonkayu di zona pemanfaatan. Sepanjang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tidak merusak lingkungan, dan menggunakan peralatan tradisional, aktivitas tersebut masih ditoleransi.

"Boleh berburu asalkan bukan (memburu) satwa dilindungi. Silakan menangkap ikan tapi menggunakan alat tangkap tradisional," tambah Ilham. Kehidupan warga memang sangat bergantung kepada pemanfaatan sumber daya hutan. Mereka pun sudah lama menetap di sekitar kawasan tersebut, jauh sebelum ada taman nasional. Itu sebabnya, petugas percaya bahwa warga memiliki kearifan dalam memperlakukan hutan sebagai sumber kehidupan mereka.

"Mencari (nafkah) secukupnya saja, untuk sekali makan. Tidak ada yang distok untuk berhari-hari, apalagi dijual," jelas Kepala Adat Dayak Bukat, Dusun Nangahovat Narok. Betung Kerihun sejatinya memiliki pengalaman pahit. Hutannya menjadi sasaran pembalakan oleh para cukong besar sekitar satu hingga dua dekade lalu.

Tindakan represif dari aparat gabungan menghentikan praktik tersebut. Jejak masa silam itu masih membekas di beberapa lokasi yang berupa hutan sekunder. Belajar dari pengalaman itu pula, pihak TNBKDS menggiatkan program pemberdayaan masyarakat dan pengamanan partisipatif. Dengan harapan, mereka bisa bergandengan tangan dengan masyarakat untuk membentengi taman nasional dari ancaman eksploitasi. "Di sini (Resor Nangahovat) tidak pernah ada lagi perambahan dan perladangan liar di dalam kawasan taman nasional," pungkas Ilham. (AR/M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More