Terkenang Krakow dari Timor yang Sunyi

Penulis: Milto Seran dari Moscow, Rusia Pada: Jumat, 17 Nov 2017, 17:59 WIB Opini
Terkenang Krakow dari Timor yang Sunyi

Milto Seran

Blessed are the merciful
Blessed are the merciful
For it is mercy that shall be shown
to those who show mercy

Februari, 2017.
Di kampung, hampir setiap malam saya menghabiskan tak sedikit waktu untuk menulis. Karena malam di kampung sungguh sunyi, mood untuk menulis datang begitu saja dan rasanya saya mesti menulis. Begitu halnya oma (panggilan untuk nenek) yang suka menganyam tempat sirih. Baginya malam adalah jam dinas terbaik. Dulu saat saya masih belajar di sekolah dasar, oma begitu giat siang dan malam menganyam bakul, nyiru dan tempat sirih untuk kemudian dijual atau dibarter. Dua puluhan tahun kemudian, hari ini oma masih setia menganyam di usianya yang memasuki angka sembilan puluh.

Oma tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Dia tidak pernah belajar bahasa Indonesia, meski dia paham sedikit bahasa Indonesia. Malam itu, sambil menekuni aktivitasnya dalam hal menganyam, oma tiba-tiba bertanya. “Ehhh kenapa kau menulis? Tiap-tiap hari menulis dan menulis terus di kertas putih. Tidak habis-habis. Kau tinggal di Rusia. Sudah di kampung, kau harus cerita tentang Rusia, tentang orang-orang di sana. Tentang ibu-ibu di sana. Apakah mereka juga makan sirih-pinang seperti orang Timor?”

Biasanya saya bercerita tentang Rusia di tengah sanak-kerabatku di rumah. Mereka datang dan kami minum kopi, lalu kami mulai membincangkan sesuatu yang tak biasa. Misalnya seorang ibu lansia di Tambov (Rusia) yang meninggal di samping kucingnya di apartemen pribadinya. Ibu itu berpulang ke dunia akhirat tanpa disaksikan anak-anaknya yang tinggal di negara-negara lain. Beberapa hari setelah kematiannya, diketahui bahwa ibu itu memiliki beberapa ribu US$ di bank atas nama kucingnya.

Malam itu lagi-lagi oma ingin menikmati cerita tentang Rusia. Dia ingin tahu. “Kau menulis terus. Saya tidak akan tidur sebelum kau tidur. Mamamu sudah tidur,” katanya sambil mengunyah sirih dan tangannya terus giat menganyam. Dia bertanya lagi.

“Benar tidak, kau cerita tentang kucing. Hmmmm kok bisa begitu? Mana ada kucing yang punya simpanan uang di bank? Kucing macam apa itu?"

"Iya oma. Kucing itu punya uang. Saya juga heran. Mana mungkin ada kucing seperti itu di dunia ini.”

“Lalu ibu itu meninggal, uangnya dipakai siapa?”

"Anak-anaknya. Mereka datang saat mendengar kabar ibunya meninggal. Lalu mereka ambil uang itu."

“Kasihan kucingnya. ‘Kan itu uangnya si kucing.”

“Iya oma, kasihan ya. Tapi itulah Rusia, anjing pun memiliki dokumen. Maka teman saya bilang, lu kalau kasih ilang paspor, harga dirimu di bawah anjing.”

“Jaga paspormu baik-baik nak. Jangan sampai itu terjadi. Kami tidak mau dengar tentang itu. Tapi kau menulis terus, kapan habis? Tiap hari kau tulis.”

Oma sedikit kecewa. Dia mau dengar cerita tentang Rusia. Tentang apakah orang Rusia juga makan sirih seperti orang Timor.

"Oma, ingatan saya lemah, lemah sekali. Itu satu-satunya alasan saya menulis. Sungguh benar ingatan saya lemah. Saya tidak seperti teman-teman yang masih ingat semua yang kami pelajari di kelas."

“Hmmm kalau begitu teruskan. Tapi malam ini saya tidak akan tidur sebelum kau selesai menulis,” katanya sambil menatap mata saya.

Dia tersenyum lebar. Di wajahnya terlihat jelas lengkung-lengkung keriput yang tak beraturan. Oma seperti itu. Dia begitu setia menemani saya. Kadang meski sudah berbaring di tempat tidur, dia tak ingin nyenyak. Dia terus berjaga, mungkin saya butuh air minum, dia segera mengambilkannya. Padahal dia berlangkah begitu pelan, sudah tak tegak lagi
.
“Oma, sedikit lagi ya…dan kita tidur.”

Oma mengiyakan. Dia mengeluarkan lagi sirih, pinang dan kapur. Dia terlihat begitu menikmati sirih terakhir di hari itu sebelum beranjak ke tempat tidur.

Malam itu kami masuk kamar masing-masing dan tidur. Sebelum nyenyak saya menikmati himne World Youth Day (WYD) 2016, 'Blessed are the merciful'. Refrainnya demikian, empat kali mengulang kata mercy (ful).

Blessed are the merciful
Blessed are the merciful
For it is mercy that shall be shown
to those who show mercy

Mendengar 'Blessed are the merciful', malam itu saya tak bisa lagi nyenyak seperti malam-malam yang lain. Semua tentang Warsawa dan Krakow bagai hujan tumpah dari langit, membasahi seluruh ingatanku. Segalanya sudah berlalu, tapi malam ini terasa begitu dalam, begitu berarti, begitu damai dan mengesankan.

****

Krakow, sepanjang minggu terakhir di bulan Juli 2016.
Para peziarah yang datang ke WYD memandang saya dan Erji begitu heran. Mereka tak percaya melihat bendera Rusia berkibar di tangan Erji, si kribo berkulit hitam pekat asal Kongo. Belum lagi Erji berseru-seru dalam Bahasa Rusia sambil mengayun-ayunkan bendera putih-biru-merah di tangan. Jika di belahan dunia lain, ada warga Amerika Serikat, Prancis atau Belgia berkulit hitam hal ini sudah tak asing lagi.

Anehnya seorang berkulit hitam mengatakan dia datang ke Polandia dari Rusia, hal ini membuat orang-orang di WYD memandangnya setengah percaya. Itu yang saya dan Erji alami di WYD. 'Mercy' atau belas kasih telah membawa kami tiba di Polandia di antara jutaan orang muda dari seluruh dunia.

Di jantung kota Krakow, malam itu saya dan Erji sudah terpisah dari teman-teman, setelah mendapat giliran berdoa bersama semua peziarah dari Rusia di Basilika Sta. Maria. Kami berdiri di depan sebuah kafe di dekat Square utama yang membentang di depan gereja. Peziarah dari berbagai negara tumpah ruah di Square itu berjalan bergerombolan dengan bendera negara masing-masing. Kadang mereka berhenti, bercerita dan gelak tawa mewarnai sudut-sudut Square malam itu.

Di situlah kami menunggu Marek yang segera menjemput kami kembali ke rumah flatnya. Dua orang muda yang kemudian memperkenalkan diri sebagai mahasiswa asal Ukraina mendekati kami dengan ekspresi heran. Keduanya sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas di Krakow. Mereka pun mulai bertanya dengan kuriotas yang menggebu-gebu.

"Apa benar kamu datang dari Rusia? Atau kamu curi bendera Rusia ini di mana?"

“Benar kami datang dari Rusia bersama teman-teman,” serentak Erji dan saya menjawab.

“Tapi… Iya tapi kenapa kamu datang dari Rusia? Apa kamu tinggal di sana? Apa kamu baik-baik saja di sana?”

“Iya benar. Kami baik-baik saja di sana.”

“Iya tapi kenapa ya… kenapa kamu di Rusia? Kamu suka Rusia? Kamu bisa bertahan di sana?”

“Kami suka Rusia, tentu saja. Kami baik-baik saja di sana. Kami belajar dan tinggal di sana sudah dua tahun. Semua baik-baik saja. Tak ada hal yang aneh di sana.”

Menyimak pertanyaan-pertanyaan dua mahasiswa Ukraina ini, saya teringat seorang penumpang kereta rute Moskwa-Saratov yang sudah kulupa namanya. Di dalam kereta dia bercerita bagaimana dia akhirnya mengambil keputusan untuk meninggalkan Ukraina.

“Di Ukraina koran-koran besar dibayar untuk menulis berita-berita miring yang menyebar kebencian terhadap Rusia,” cerita si penumpang kereta itu dengan nada agak pelan. Menatap kedua mahasiswa ini, dalam hati saya bertanya, “Adakah keduanya di pihak Rusia ataukah di pihak yang lain?”

Dua mahasiswa Ukraina, begitu saja heran melihat dua kulit hitam memperkenalkan diri sebagai peziarah dari Rusia. Mereka ingin bertanya lebih lanjut, lebih dalam, lebih detail, tapi Marek sudah tiba di depan kami dengan mobil Škoda. Lalu kami berpisah, meninggalkan keduanya dan pelan-pelan Škoda merayap di bawah kendali Marek menuju jalan utama. Kuturunkan kaca mobil, berpaling dan menatap kedua mahasiswa itu, kusampaikan 'sampai jumpa'. Tapi di wajah mereka terbersit rasa ingin tahu yang tak tertahankan.

Dalam perjalanan ke rumah, Marek bercerita bahwa banyak orang asing dari Norwegia, Belarusia, Ukraina dan negara-negara tetangga lainnya belajar di sini, di Krakow. "Ini bisa dimaklumi karena bagi mereka biaya pendidikan di Krakow murah meriah," cerita Marek.

Siapakah Marek? Dia adalah sopir taksi. Sudah duapuluh tiga tahun dia menikahi Marzena, memiliki flat sendiri di lantai tiga apartemen itu. Marek dan Marzena bersedia memberi kami dua kamar untuk dihuni selama WYD berlangsung di Krakow. Selain Erji, ada mahasiswa lain asal Uganda yang bergabung dengan kami di rumah flat Marek dan Marzena. Sejak hari pertama, senyum dan keramahan sudah membuat kami akrab satu sama lain.

Tiap hari selama WYD, Marek dan Marzena bagai orangtua yang setia mengasuh anak-anak. Tiap-tiap pagi mereka menyiapkan sarapan, termasuk menyiapkan bekal untuk dibawa selama mengikuti seluruh kegiatan yang selalu beralih dari satu tempat ke tempat lainnya.

Hari itu Marzena dan Marek sudah sibuk di dapur sejak pukul 05.00. Mereka menyiapkan roti, daging yang diiris tipis, telur, susu, yogurt, kopi, teh, saus keju, mentega dan semua segera mengelilingi meja di ruang makan berukuran kecil itu. Sarapan di Polandia persis sama dengan di Rusia. Pagi itu untuk pertama kalinya kami duduk mengelilingi meja yang sama, menikmati sarapan bersama, bercerita dan sesekali tertawa lepas begitu saja karena John si kulit hitam dari Uganda mulai melucu. Mareka sangat fasih berbicara dalam Bahasa Inggris, sedangkan Marzena memahami baik Bahasa Rusia tapi tidak berbicara dalam Bahasa Rusia. Dengan Bahasa Inggris dan sesekali Bahasa Rusia kami sadar di antara kami jalan pemahaman sudah dirintis.

Marzena menyudahi sarapan, kami masih bercerita. Dia bangkit dari tempat duduknya dan memasukkan sandwich, satu botol air dan yogurt ke dalam tas kami masing-masing. Memandang keramahannya, saya merasakan sentuhan yang tak biasa, "Ohhh inikah yang namanya keramahan? Atau inikah yang namanya Mercy, belas kasihan? Terima kasih, sebab saya tak merasa asing di negeri yang jauh dari kampung halamanku."

Malam pertama dan sarapan pertama di Krakow berlalu. Hari itu saya coba menelepon Joannie Grabowsky, tutor Bahasa Inggris kami sewaktu di Ledalero, Flores. Joannie yang adalah warga Texas, USA, saat ini belajar teologi di Ledalero (Flores). Dia terbang ke Italia untuk mengunjungi sahabat-sahabatnya, dan kini ada di Krakow, di WYD. Kami sepakat untuk bertemu, bercerita, mengenang hari-hari kursus bahasa di Ledalero, bercanda dan minum bir di pusat kota Krakow. Sayang sekali, waktu tak memihak kami, dan saking banyaknya orang, segalanya terasa sulit, termasuk sekadar bertemu. Apalagi kami mesti berada di grup masing-masing.

Peziarah sungguh banyak. Tiap hari jumlahnya terus bertambah hingga hari terakhir WYD angka peziarah mencapai tiga juta-an orang muda dari seluruh dunia. Itu tidak termasuk para peziarah yang tidak terdaftar di WYD 2016.

Sejauh ini, sejak di Warsawa hingga Krakow saya telah bertemu dan menyapa orang-orang muda dari bermacam latar negara. Orang Honduras, Meksiko, Guatemala, Argentina, Brazil, Chili, Kolumbia, Kalifornia, Kanada, Jerman, Prancis, Portugal, Spanyol, Italia, Israel, Belanda, Ukraina, Belarusia, Latvia, Slovenia, Polandia, Slovakia, Turkhmenistan, Afganistan, Syria, India, Singapura, Australia, PNG, Kongo, Zambia dan masih banyak lagi.

Ketika bertemu orang Italia, cukup meneriakkan “Forza Italia” laiknya yel-yel supporter sepak bola Tim Azzuri. Atau saat bertemu grup Meksiko, kami berseru, “Viva Meksiko.” Asyiknya pengalaman di WYD bisa dijelaskan dengan cara yang amat sederhana. Barangkali ini pengalaman amat unik, istimewa dan tak terlupakan sepanjang hidup, ketika melihat orang-orang muda membanjiri lorong-lorong kota Krakow sambil berseru-seru tak karuan, “Papa Francesco… Papa Francesco… Papa Francesco…” Atau bernyanyi dan menari di park-park dan mall-mall di Krakow, sambil menunggu makan siang gratis di McDonald’s atau KFC.

Mereka bernyanyi, berkenalan, bertukar souvenir dan acara wajibnya adalah pose bersama. Di sana persahabatan bermula dan gereja-gereja tua di Krakow begitu saja menjadi penyaksi arah sejarah. Bahwa kaum muda adalah masa depan segalanya. Tak hanya masa depan Gereja. Ada hal lain lagi. Kaum muda adalah masa depan itu sendiri. Kendali perdamaian ada di tangan mereka. Berbagai kekacauan dalam sejarah bersama kisah-kisah pilu dan beban-bebannya, serta masa depan sejarah ada di bahu mereka.

***
Di kampungku di Timor yang sunyi, malam itu semua di rumah sudah lelap, hanyut dalam mimpi. Saya masih bertanya pada 'Kesunyian Agung', benarkah kaum muda ikut menentukan arah sejarah? Entah benar, ataukah tidak, sejarah tidak berhenti di sini. Perjalanan jutaan kaum muda di WYD pun tidak berakahir di Krakow.

Sudah lama Yohanes Paulus II, si penggagas WYD berpesan, “Dear young people, your journey does not end here. Time does not come to a halt. Go forth now along the roads of the world, along the pathways of humanity, while remaining ever united in Christ's Church!” (Paris, 1997).

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More