Generasi Milenial Sudi Bergelut dengan Sampah

Penulis: Retno Hemawati Pada: Jumat, 17 Nov 2017, 14:00 WIB Humaniora
Generasi Milenial Sudi Bergelut dengan Sampah

ANTARA/ARIF FIRMANSYAH

MENGHASILKAN karya yang dapat diterima masyarakat luas merupakan impian setiap generasi milenial.

Karena itu, banyak sekali cara yang mereka lakukan agar dapat berkreasi dan mengembangkan bakat yang dimiliki.

Kreatif dan cerdas ialah modal utama bagi kaum milenial untuk meraih masa depan mereka.

Banyak cara yang dilakukan untuk mewujudkan, satu di antaranya kreasi limbah jadi mewah, yakni menjadikan barang-barang yang sudah tidak dipakai menjadi barang yang bernilai guna.

Namun, tak hanya memikirkan profit semata, dengan usaha itu, mereka memberdayakan perajin lokal & puluhan ibu untuk ikut bergabung dalam usaha tersebut, bahkan beberapa di antaranya sudah diekspor hingga ke berbagai negara.

Seperti halnya ketiga narasumber yang dihadirkan di Big Circle pada episode kali ini, yaitu Ecodoe, Salam Rancage, & Promogo.

Yang akan dibahas kali pertama ialah Ecodoe. Besarnya potensi industri kerajinan tangan di Indonesia nyatanya belum diimbangi dengan strategi pemasaran yang tepat.

Para perajin masih kesulitan menjual produk mereka. Fenomena itulah yang ditangkap Laraswati Widyaputri, 25.

Laras kemudian mendirikan Ecodoe dengan tujuan merangkul perajin lokal.

Tidak hanya memberikan pelatihan kepada mereka, Ecodoe membagi ilmu strategi pemasaran agar produk mereka laku di pasaran.

Pada awalnya Laras memang melihat besarnya potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia.

Lalu ia secara lebih jauh melakukan survei ke daerah Jawa dan Bali.

Laras mendapati para perajin kesulitan menjual produk mereka. Hal itu disebabkan pelaku UKM tidak bisa menangkap keinginan pasar.

Usaha yang dirintis Laras sejak dua tahun lalu itu kini telah memberdayakan 200 perajin yang berasal dari lima daerah di Pulau Jawa.
Saat ini, Ecodoe telah merangkul sebanyak 249 perajin lokal dari lima titik, yaitu Garut, Bogor, Banjarnegara, Wonosobo, dan Magelang.

Produk Ecodoe yang berbahan dasar limbah bulu domba dan akar wangi laris manis untuk suvenir maupun sebagai hadiah pada momen-momen berharga.

Harga yang ditawarkan mulai Rp5.000 hingga Rp360 ribu.

Brand Ecodoe semakin unjuk gigi di pasar domestik dan mancanegara.

Tak mengherankan Ecodoe telah menjangkau klien korporasi, baik swasta maupun perusahaan BUMN.

Produk Ecodoe bahkan telah diekspor ke delapan negara.

Episode 34 dengan judul Kreasi Limbah Jadi Mewah itu akan dipandu host Andy F Noya dan Amanda Zevannya.

Mereka akan berdiskusi bersama para narasumber, yaitu Laraswati Widyaputri (CEO Ecodoe), Aling Nur Naluri Widianti (Founder & CEO Salam Rancage), Mey Linda (ibu penganyam), Andrew Tanyono (Founder & CEO Promogo), dan Reagen Rahardjo (Co-founder & COO Promogo).

Mereka juga akan ditemani mentor Danton Sihombing (brand consultant) & Yoris Sebastian (creativepreneur) yang akan memberikan banyak insight kepada narasumber.

Selengkapnya saksikan program Big Circle. Dream Big, Make an Impact pada Minggu, 19 November 2017, pukul 19.30-20.30 WIB hanya di Metro TV. (H-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More