KJA Offshore Pertama di Indonesia akan Masuk Pekan Depan

Penulis: Gabriela Jessica Restiana Sihite Pada: Kamis, 16 Nov 2017, 14:00 WIB Ekonomi
KJA Offshore Pertama di Indonesia akan Masuk Pekan Depan

ANTARA

KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan proyek keramba jaring apung lepas pantai (KJA offshore) pertama di Indonesia akan terealisasi pada akhir tahun ini. Saat ini, peralatan KJA sedang didatangkan oleh PT Perikanan Nusantara (Perinus) sebagai BUMN pemenang tender dari Norwegia menuju Indonesia.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto menilai sebanyak tiga KJA akan tiba di Indonesia pada 20-23 November 2017. KJA offshore tersebut akan dibangun di Sabang, Pangandaran, dan Karimunjawa.

"Setelah keramba sampai, perlu waktu sekitar satu minggu untuk dirakit di darat baru ditarik ke lepas pantai. Diperkirakan Desember mulai ditebar benihnya oleh Presiden Joko Widodo," ucap Slamet di Jakarta, Kamis (16/11).

Tiga KJA offshore tersebut nantinya akan diisi oleh benih ikan kakap putih. Sebanyak 2,88 juta ekor benih kakap putih yang akan ditabur dengan rincian setiap KJA memiliki 8 lubang dan setiap lubangnya akan diisi 120 ribu ekor benih.

KKP memilih jenis kakap putih karena termasuk ikan yang mudah dibudidayakan. Selain itu, kakap putih dinilai bisa diolah menjadi berbagai produk ketimbang jenis ikan budidaya lainnya, misalnya kerapu. Pasar kakap putih pun dilihat Slamet lebih luas.

Permintaan kakap putih lebih banyak dari Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Australia, sedangkan kerapu hanya diminati Tiongkok dan Hongkong.

"Selain pasarnya lebih luas, teknologi kakap putih juga sudah dikuasai di Indonesia dari sisi pembenihan. Tinggal pelatihan untuk pembesaran (ikan) di tengah laut," terang Slamet.

Adapun, proyek KJA offshore pertama di Indonesia ini dibiayai dari APBN 2017 sebesar Rp42 miliar per daerah. Anggaran tersebut untuk membeli teknologi keramba dan fasilitasnya dari Norwegia.

Selain teknologi keramba yang didatangkan dari Norwegia, Slamet membeberkan negara bagian utara Eropa tersebut akan memberikan pelatihan selama dua pekan kepada unit pelaksana teknis (UPT), kapal dan sistem pengawas, dan feed bar.

Menurutnya, budidaya ikan termasuk motor penggerak utama bagi pertumbuhan ekonomi Norwegia. Karenanya, negara tersebut diyakini bisa menjadi contoh dalam memanfaatkan potensi budidaya laut dengan inovasi teknologi modern, terutama pengembangan budidaya offshore.

“Bayangkan, sekitar 80% Produk Domestik Bruto (PDB) Norwegia disumbang dari industri budidaya perikanan. Kita dengan potensi sumberdaya perikanan melimpah tentunya harus optimistis mampu meniru langkah Norwegia," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Vegard Kaale mengatakan Indonesia sangat berperan penting bagi suplai pangan dunia. Ia menilai Indonesia berpeluang menjadi negara maju dengan memanfaatkan nilai ekonomi sumberdaya budidaya perikanan yang dimiliki.

“Norwegia sangat mendukung pengembangan budidaya perikanan di Indonesia dan kami bersedia meningkatkan kerja sama yang telah terjalin selama ini. Indonesia punya potensi, sedangkan kami punya teknologi dan pengalaman dalam mengelola industri ini," imbuh Vegard. (OL-6)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More