Jalan Hidup Seorang Musisi

Penulis: Milto Seran dari Moscow, Rusia Pada: Selasa, 14 Nov 2017, 15:38 WIB Opini
Jalan Hidup Seorang Musisi

Pianis Ary Sutedja---ANTARA/Jo Seng Bie

Awal Juli 2017

Di Moskwa, di rumah kami yang terletak di kawasan Lublino, kerap saya melewati hari-hari sunyiku di perpustakaan kecil yang baru saja diselesaikan awal tahun 2017. Kadang saya bingung sendiri di hadapan buku-buku tebal berbahasa Polandia, Inggris, juga Spanyol dan sebagian besar bahasa Rusia. Buku-buku yang banyak mendapat perhatian adalah buku-buku berbahasa Inggris dan Rusia, dua bahasa yang saya pahami.

Di perpustakaan yang terletak di salah satu sudut lantai tiga inilah sering saya baca ulang artikel-artikel yang sudah ditulis sejak di Tambov. Lewat kaca jendela yang menempel pada atap rumah, terkadang saya renungi langit musim panas yang cerah, tanpa awan sedikitpun. Sering pula melalui jendela yang sama kulirik tetangga-tetangga dengan segelas kopi di tangan sembari menikmati rokok di balkon-balkon mereka di ketinggian apartemen.

Saya membaca ulang beberapa surat elektronik dari Jakarta, surat-surat Ary Sutedja. Kepadanya saya menyampaikan beberapa pertanyaan perihal musik dan suka-dukanya di jalan panjang menekuni musik, sebuah dunia tanpa batas.

"Dear Milto yang suka musik, saya akan coba jawab pertanyaan Anda. Pertanyaan Anda ini tidak bisa dijawab secara singkat, karena perjalanan musik saya lumayan kompleks. Oleh karena itu saya akan menjawab pertanyaan Anda tidak sekaligus, tapi part by part.”

Membaca surat-surat elekroniknya di Moskwa, serasa Ary Sutedja sedang ngobrol santai denganku, seperti halnya pada Oktober 2014 lalu di kediamannya di Pamulang. Padahal ia saat ini sedang sibuk di berbagai tempat, berbagi hari-hari hidupnya di tanah air dan Yunani (negeri asal suaminya) atau juga di negara-negara lain.

Dalam salah satu suratku untuk Ary Sutedja, saya bertanya tentang awal mula ia menekuni dunia musik. Kuingat baik, pertanyaan sederhana ini pun pernah kulontarkan kepada beberapa musisi yang sering mampir di gereja kami di Tambov. Saya lalu paham, dari pertanyaan sederhana dan terkesan tak penting inilah kemudian muncul kisah-kisah yang luar biasa tentang jalan hidup seorang musisi, bahkan hal-hal personal yang tak terbayangkan bisa menimpa mereka.

"Kapan ibu mulai menekuni dunia musik?"

"Usia saya sekitar tujuh tahun, saat saya mulai belajar bermain piano, dan itu merupakan bagian dari aktivitas mingguan saya. Ibu saya sangat mencintai musik. Ia ingin musik menjadi bagian dari hidup kami. Ibu saya bercerita, saat saya masih di kandungannya, ia ingin memiliki sebuah piano dan saat saya lahir ibu sudah memiliki sebuah piano di dalam rumah. Kami empat bersaudara, dan kami semua diberi kesempatan untuk mengikuti les musik (piano dan biola), tapi hanya saya yang terus bermain piano. Di kemudian hari saudara-saudaraku menyerah.”

Ary pun bercerita tentang mimpi ibunya, seorang ibu yang memelihara mimpi sederhana, bernyanyi di samping putrinya yang piawai bermain piano. Ini tentu bukan mimpi kosong, sebab ibunya gemar bermain biola, sedikit piano dan bernyanyi sangat baik saat ia seorang gadis dulu.

"Saat mulai belajar piano, saya sadar, saya tidak bisa katakan saya mencintai piano saat itu. Sungguh bermain piano cuma bagian dari aktivitas mingguan saya sebagai seorang anak. Di samping bermusik, aktivitas mingguan saya yang lain adalah mengikuti pelajaran dance, karate dan olahraga lain. Hingga saat ini saya sangat bersyukur. Tentu bersyukur karena saya memiliki orangtua yang luar biasa, mereka membuka kemungkinan-kemungkinan terbaik bagi anak-anaknya untuk melakukan banyak hal. Permulaan kisah di balik musikalitas dalam diri saya adalah ketika keluarga kami beralih ke Jerman pada tahun 1979."

Di Jerman, Ary Sutedja memulai petualangannya di dunia musik bukan dengan pengalaman yang menyenangkan. Ia malah dihadapkan pada kenyataan yang menantang. Realitas yang tak mudah bagi seorang anak berkulit Asia di hadapan kaum kulit putih Eropa saat itu.

“Saya mengalami ‘tantangan’ yang luar biasa ketika tiap hari saya mesti berangkat ke sebuah sekolah Jerman saat itu. Sebagai seorang anak, sepanjang masa-masa awal ini saya mengalami dengan sabar satu dari hal-hal tersulit dalam hidupku. Saya dihadapkan pada prasangka dan pengalaman ‘termarjinalisasi’ di tengah komunitas ‘kulit putih’.”

Padahal pada periode inilah Ary Sutedja mesti secara intensif mengembangkan kehidupannya dalam bermusik. Di tahun kedua di Jerman, ia terpilih sebagai pianis untuk produksi Opera Anak-anak di Bremen Opera House. Konduktornya adalah Kapellmeister Bauernschenck. Bauernschenck ini di kemudian hari dikenangnya sebagai salah satu guru piano tak terlupakan, guru yang sudah sekian banyak mengalirkan dukungan baginya terutama untuk berpartisipasi dalam dua Opera Anak-anak, karya komposer Inggris - Peter Maxwell Davies.

“Sungguh sayang, Maxwell Davies telah meninggal 14 Maret 2016 lalu. Semoga terang abadi menyinarinya. Karyanya yang melibatkan partisipasi saya adalah The Cinderella dan The Rainbow.”

Bagi Ary Sutedja, ini merupakan kesempatan tak biasa baginya di mana ia mendapat kesempatan keliling Jerman bersama perusahaan Opera Anak-anak. Lalu tiba-tiba saja ia menjadi terkenal dan dihormati oleh teman-teman kelas karena berita di media mengenai keterlibatannya. Ada publikasi wawancara di koran dan juga talkshow di radio, dan lain-lain.

Kisah hidupnya sewaktu di Jerman sungguh tak terkatakan. Itulah Jerman, saat ia berusia empat belas tahun dan mulai menghasilkan uang saku dari keringat sendiri.

“Saya memberi les piano untuk anak-anak Indonesia di Jerman. Setiap minggu saya mengayuh sepeda menuju enam tempat berbeda dan mengajari anak-anak bermain piano. Dari pengalaman ini, saya akhirnya membeli cincin emasku yang pertama dengan uang yang dibayarkan kepada saya. Selain itu, saya juga mulai menulis lagu untuk pertama kalinya dan membuat komposisi musik untuk puisi yang ditulis seorang teman.”

Seperti saat tinggal di Indonesia, Ary kecil mesti bermain piano ketika orangtuanya menggelar dinner party, atau saat orangtuanya diundang oleh para diplomat ke cocktail party. Sejak itu, baginya piano terasa “sungguh sesuatu yang amat berarti” dalam hidupnya.Bersama orangtua, Ary kemudian kembali ke Jakarta setelah tinggal di Jerman sekitar empat tahun.

“Saya kembali ke sekolah musik yang lama, belajar bermain piano bersama satu dari kedua guru musik yang paling utama dalam hidup saya (dalam seluruh perjalanan hidup sebagai seorang musisi,Ary memiliki empatbelas guru musik). Dialah Irawati M. Sudiarso, seorang pianis yang luar biasa dan juga seorang pedagog yang hebat dan ramah. Ia amat berpengaruh dalam hidup saya hingga akhirnya saya mengambil keputusan untuk meninggalkan studi ekonomi di Universitas dan berangkat ke United States untuk belajar musik.”

Mendengar kisah Ary Sutedja dan keputusannya banting stir dari studi ekonomi ke dunia musik, terkadang saya bertanya pada diri sendiri, "Adakah itu keputusan bebas dari dalam diri ataukah orangtua yang memaksakan sesuatu yang ideal kepadanya?” Tampaknya tidak. Dalam kisah-kisahnya tampak jelas, ini adalah keputusan bebas, pilihan untuk menentukan masa depan sendiri. Petikan dari salah satu suratnya dengan tegas menggarisbawahi hal ini.

"Sekali lagi, orangtua saya memainkan peran vital dengan memberi saya kebebasan untuk memilih apa yang hendak saya lakukan. Kehidupan di United States bukanlah hal yang mudah di tahun pertama, karena setelah beberapa bulan belajar di Peabody Conservatory, kedua tangan saya amat sakit akibat ‘carpel tunnel syndrome’; ini juga merupakan akibat terlalu banyak berpraktik menggunakan wrong muscles yang kemudian membuat saya tidak bisa menggunakan kedua tangan secara normal untuk melakukan sesuatu selama sepuluh bulan.
Dengan pengalaman ini saya mesti minum pain-killer berdosis tinggi setiap hari (3.200 mg of motrin), lebih dari itu saya terbangun tiap malam karena rasa sakit yang luar biasa pada kedua tangan.”

Penderitaan dan rasa sakit di sini di satu sisi dapat dipandang sebagai salah satu titik perjuangan, sebuah ketekunan dengan proses tak mudah menuju apa yang kita sebut sebagai kesuksesan. Untuk menggapai suatu kepuasan tertentu, kita tidak bisa bermain-main dengan apa yang sedang ditekuni. Di sini lain, penderitaan dan rasa sakit di sini boleh saja dilihat sebagai titik singgah, sebuah jedah yang “memberi peringatan” bahwa mimpi dan segala niat baik yang ingin digapai, digapai dalam proses yang tetap memberi ruang bagi “keheningan”. Rasa sakit yang terdalam adalah saat kamu sakit dan tak ada orang yang peduli pada kamu. Tapi bukan itu yang dialami Ary Sutedja.

Untuk Ary Sutedja sendiri pengalaman sakit itu sesuatu yang tetap hangat dalam ingatan dan dikenangnya dalam relasinya dengan sosok ayah.

“Karena penderitaan dan rasa sakit itu untuk pertama kalinya ayah saya menunjukkan keprihatinannya dan meminta saya menghentikan pendidikan di tingkat internasional itu. Tapi kehidupan memiliki takdir tersendiri untuk saya.”

Kehidupan memang memiliki takdir tersendiri untuk setiap kita. Sampai di sini, saya cuma sebuah diam, coba memahami hidup di Moskwa dan segala realitasnya. Di luar sana udara terasa sejuk. Ibu-ibu sedang menyaksikan anak-anak bermain di taman.Mungkin mereka sedang membayangkan masa depan bocah-bocah itu, ataukah mungkin mereka sekadar menghabiskan waktu senggang di taman tanpa sedikit pun memikirkan rupa masa depan anak-anak mereka. Saya menghela napas, merenungi arti ketekunan dan jalan hidup seorang musisi.

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More