Di Jalan ke Pamulang

Penulis: Milto Seran dari Moscow, Rusia Pada: Selasa, 14 Nov 2017, 15:30 WIB Surat Dari Seberang
Di Jalan ke Pamulang

Milto Seran

Rabu pagi, 15 Oktober 2014.

Saya tak yakin. Om Edu, pegawai yang selama ini membantu mengurus visa ke Rusia menyodorkan tiket pesawat kepada saya. Ada rasa senang tapi semua di Jakarta mesti ditinggalkan.

"Ini tiket untuk kamu, adik. Tanggal 17 (10/2014) kamu berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta ke Moskwa dengan transit di Qatar."

Om Edu menyerahkan tiket kepada saya. Tapi sejenak saya diam. Di ruang kerjanya di kawasan Matraman Raya, serasa meninggalkan Jakarta adalah salib. Berat juga meninggalkan sahabat-sahabat yang selama ini sudah sekian akrab.

"Terima kasih, om Edu! Tapi…"

"Tapi bagaimana, adik? Kita sudah sepakat kan, kamu bertahan di Jakarta cuma untuk kegiatan di Metro TV."

"Benar, cuma saya belum belanja beberapa perlengkapan musim dingin."

Dalam hati saya tahu beberapa sahabat menunggu konfirmasi untuk bertemu. Pengalaman ini serupa dengan panggilan dari pimpinan kami, Pater Leo Kleden, saat saya di Ende, Flores. Waktu itu saya diminta untuk segera berangkat dari Maumere ke Jakarta. Saya minta pamitan dengan orangtua di Timor tapi tidak diizinkan lagi. Syukur saya terbang ke Jakarta dengan transit di Kupang. Di sana, di Bandara El Tari yang sepi itu, suasana menjadi amat istimewa. Bapa dan mama ada di sana ditemani mama Ida yang luar biasa.

Om Edu mendekat dan melanjutkan pembicaraan dengan ekspresi ingin tahu.

"Sabar dulu, ade, mungkin masih ada urusan penting lainnya?"

"Semua urusan di Metro TV sudah selesai, Om! Tidak ada lagi urusan yang penting.”

"Nahhh kalau begitu siap berangkat la ade…hehe"

Saya terdiam di hadapannya. Lalu berjalan meninggalkannya, membuka pintu kaca itu saya pun keluar dari ruang kerjanya, lalu berlangkah menuju pos jaga. Lima menit berselang taksi yang menjemput saya dan teman-teman tiba di Matraman Raya 125.

Saatnya sudah tiba. Tidak bisa berlama-lama lagi di Jakarta. Tapi masih ada dua hari. Satu hari untuk belanja perlengkapan musim dingin. Satu hari lagi untuk memenuhi undangan musisi Tanah Air, Ary Sutedja, yang sudah berkali-kali mendatangi Timor dan Flores. Bahkan ia sendiri pernah bilang, "Seminari Tinggi Ledalero itu sudah seperti keluarga sendiri."

Hari ini saya memenuhi undangannya untuk mampir di kediamannya di Pamulang, Banten. Di sana, Ary Sutedja bercerita tentang banyak hal; tentang musik yang sudah lama ia dalami, tentang Eropa dan orang-orang yang dulu mengajarinya cara bermusik, tentang suaminya Mikail David yang sudah pergi untuk selamanya, dan tentang Rusia yang segera saya datangi.

***

Saya tahu, dalam waktu dekat saya akan berangkat seorang diri ke Rusia, negara berjuluk Negeri Beruang Merah. Di satu sisi berangkat sendirian adalah perjalanan yang sesungguhnya. Tapi di sisi lain memiliki seorang sahabat perjalanan adalah hal yang tak tergantikan. Untuk itulah saya mengajak Marjo dan Igo untuk memenuhi undangan sahabat dan musisi yang luar biasa ini.

Ehhhh setelah diajak beberapa kali, ternyata Igo menyatakan berhalangan. Ia mengeluh sakit gigi. Sangat sakit katanya. Ia memilih tinggal di rumah kami di Matraman Raya. Sebagai ganti, kami mengajak teman kami yang lain, Peter Tan yang sudah lama menanti visa ke Australia. Dalam hati saya berharap semoga nasibnya tidak seperti dua teman saya dulu. Mereka menunggu urusan visa ke Slovakia selama enam bulan di Jakarta lalu memilih untuk pulang ke Flores lantaran penantian itu mengarah pada kesia-siaan.

Tapi sayang, saat menulis kisah ini, saya teringat bagaimana akhirnya Peter dan temannya Ichon juga mengambil keputusan untuk kembali ke Flores karena urusan visa ke Australia tidak kelar-kelar. Itulah jalan hidup. Kadang ia lurus dan mulus, tapi sering ia bisa berakhir buntu. Memilih untuk beralih adalah keputusan yang baik, meski itu tak selamanya menyenangkan.

Di jalan ke Pamulang, kami bercerita bagaimana kemarin kami berada di TIM. Marjo merasa bangga bisa berada di sana dan bertemu banyak seniman Tanah Air, menikmati pertunjukan di panggung, mengagumi Sandi Sandhoro bernyanyi begitu memukau, membawa pulang beberapa suvenir dan ini semua adalah pengalaman yang segera dibawa serta ke Austria nanti.

Masih di jalan panjang ke Pamulang, saya tahu sopir Blue Bird benar-benar bekerja keras, berjuang menjadi sosok penyabar di tengah macetnya transportasi Jakarta. Kadang ia menolak paham, mengapa trotoar yang harusnya untuk pejalan kaki dialihfungsikan untuk para PKL? Mengapa jalan raya tiba-tiba kehilangan sifatnya yang 'raya' gara-gara banyak pengusaha kuliner tiba-tiba begitu nyaman di bahu jalan?

Sesaknya Jakarta sudah tiba pada level sangat melelahkan. Serasa kendaraan di Jakarta sama banyaknya dengan penduduk Jakarta, atau malah lebih banyak. Taksi 'Blue Bird' yang beroperasi di Jakarta saja jumlahnya mencapai puluhan ribu armada, belum perusahaan-perusahan jasa transportasi lain, belum kendaraan pribadi, belum sepeda motor, belum bajaj, belum lagi pedagang kaki lima yang ikut menyumbang masalah kemacetan di Ibu Kota. Secara filosofis sungguh benar, jika tak ada komunikasi di Jalan Raya, masyarakat hancur berantakan, pecah berkeping-keping. Maka dari itu, pada mulanya adalah pemahaman.

Meski merayap pelan-pelan dengan jasa Blue Bird, setelah menghabiskan waktu dua sampai tiga jam di jalan, akhirnya kami tiba di alamat yang dituju. Rumah Pianis Indonesia (Ary Sutedja) tampak sunyi di Pamulang, Banten. Peralihan dari situasi Jakarta yang bising, macet dan berantakan ke rumah Ary Sutedja sekonyong-konyong membawa kedamaian tersendiri. Rumah pendiri The Arts School dan JakArts ini sungguh unik.

Bersama kedua teman saya, kami berjalan memasuki kompleks rumah nan sejuk karena taman gantungnya (hanging garden) begitu mencolok di antara beberapa pohon besar. Kami dipersilahkan masuk, bersalaman dengan Elmira dan Elias, juga beberapa anggota keluarga lain. Berjalan dari ruangan ke ruangan, dan tibalah kami di ruang berukuran besar dengan Grand Piano yang bertakhta di sana. Menempati sofa yang empuk, dengan rasa kagum akan keramahan Ary Sutedja, sejenak kami diam dan yang ada cuma keheningan.

Dalam hati saya mulai bertanya-tanya setelah berjalan melewati beberapa pintu. Saya tidak lihat satu pun gagang pintu pada pintu-pintu yang telah kami lalui. Cuma ada pintu dorong, termasuk pintu toilet.

"Minta maaf ibu Ary, saya bisa bertanya?"

"Bisa la… bagaimana?”

Dengan ekspresi santun yang tidak dibuat-buat saya pun bertanya.

"Saya lihat tidak ada kunci pada pintu-pintu ini. Mungkin ada maksud tertentu di baliknya? Atau ada filosofinya begitu…”

“Hmmm…tentu saja seperti itu.”

Tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai pintu-pintu tak berkunci. Tapi saya tak lagi bertanya. Saya belum paham sepenuhnya hingga hari ini. Mengapa dalam sebuah rumah berukuran besar, tak ada pintu berkunci?

(Saat tiba di Tambov, saya diberitahu bahwa kunci pintu kamar yang segera saya diami tak ada kuncinya. Sudah lama kuncinya hilang. Sejak di Pamulang saya belajar membiarkan pintu tak terkunci. Dengan itu saya paham bahwa ada keterbukaan dalam diri saya terhadap semesta dengan segala kemungkinannya. Ada keterbukaan dalam diri terhadap dunia dengan segala rahmatnya. Ada keterbukaan dalam diri saya untuk tetap terhubung dengan 'yang lain' bahkan saat saya terlelap dalam tidur malam yang panjang sepanjang malam-malam musim dingin)

Sejak saat itu setiap melihat pintu tak berkunci saya teringat rumah Ary Sutedja di Pamulang.

Kami diantar untuk melihat-lihat perpustakaan yang kaya akan koleksi berbagai macam buku dan dalam beberapa bahasa. Lalu kami beranjak menuju lantai dua, berjalan di atas lantai kaca, melihat dua piano lain lagi. Dari lantai dua kami bisa menikmati indahnya kediaman sang musisi berdarah Bali ini. Dari lantai dua tampak kolam renang dan beberapa batu besar dekat halaman di samping ruang tamu berdinding kaca polos.

Saat kembali ke lantai dasar, hujan sudah turun. Langsung kelihatan, aliran deras air hujan dari atap rumah pecah pada batu-batu besar tadi. Kami menikmati pemandangan lain serupa air terjun di samping rumah.

Ibu Ary berjalan di depan kami menuju kamar lain. Seperti yang tampak sebelumnya di ruang-ruang lain, kesan artistik terasa begitu kuat di setiap sudut ruangan. Di kamar Elias ada gitar dan bola. Di kamar Elmira ada buku-buku, meja belajar dan keyboard. Sambil melihat ruangan-ruangan ini, Ibu Ary memperkenalkan Elias yang lebih aktif di lapangan hijau sambil menekuni gitar klasik. Sedangkan Elmira segera berangkat ke USA untuk menekuni musik klasik di universitas, mengikuti jejak ibunya.

Di rumah Ary Sutedja, seakan-akan saya dan teman-teman berada dalam beberapa dunia sekaligus; dunia musik, dunia membaca dan menulis, atmosfer rumah dengan taman yang sejuk, hingga obrolan yang tiba-tiba terkesan diskusi tentang musik dan segala rahasianya. "Terima kasih, ibu Ary. Mengenalmu adalah sebuah jalan menuju pemahaman akan hidup dan segala rahasia di baliknya. Seperti jalan ke Pamulang bersama sopir yang dengan sabar memahami kemacetan ibu kota, seperti itu juga keramahanmu mengajarkan banyak hal kepadaku."

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More