Bawas MA tidak Punya Peralatan Menyadap

Penulis: Ric/P-4 Pada: Senin, 13 Nov 2017, 06:38 WIB Polemik
Bawas MA tidak Punya Peralatan Menyadap

Ketua Kamar Pengawasan MA Sunarto -- MI/Arya Manggala

Bagaimana soal bersih-bersih di MA?
Kita selalu melakukan pembinaan di MA. Prinsipnya pimpinan MA kalau sudah dibina, tidak bisa, ya dibinasakan. Prinsipnya gampang-gampang saja. MA tidak malu kalau menindak aparaturnya. Kita apresiasi pada KPK karena mereka membantu kita melakukan bersih-bersih. Bukan kita resisten nolak.

Kerja sama dengan KPK?
Orang-orang MA di Badan Pengawasan telah dilatih oleh KPK. Kerja sama kita melakukan surveillance untuk menempel orang yang dicurigai.
Bedanya kita tidak punya peralatan me­nyadap dan tak punya hak untuk menyadap. Paling yang kita andalkan ialah foto.

Bagaimana sistem pangawasan di MA?
Pengawasan yang paling bagus ialah waskat, pengawasan oleh malaikat. Kalau pendekatan normatif waskat itu pengawasan melekat oleh atasan, kita bikin peraturan MA juga, yakni Perma No 8 Tahun 2016.
Itu sudah ada, kalau anak buah kena pimpinan kena, tapi kalau sudah dibina, kan enggak mungkin, kecuali pimpinannya diam saja.

Pembinaan atasan?
Kami minta dia untuk disiplin. Dia harus bisa diteladani kesederhanaan kedisiplinannya, normatifnya sudah ada, implementasinya role model karena budaya kita paternalistik. Kalau atasannya baik, kemungkinan anak buahnya baik, tapi kalau atas pimpinannya jelek, kemungkinan besar anak buahnya akan berperilaku menyimpang.

Dari sistem perekrutan?
Kita mulai merekrut pimpinan peradilan, ada fit and proper test, penilaian yang melibatkan pimpinan MA. Kita milih integritas yang baik, kompetensi dan kejujuran integral, melekat dalam satu pimpinan, dengan dipilihnya pimpinan yang punya intelektualitas dan integritas yang baik, ada role model-model, ke bawah. Kita lihat ke bawah bagaimana pimpinan bisa menegakkan aturan Itu dimulai dari proses rekrutmen.

Sejauh mana mengubah mindset (pola pikir) ini penting?
Peraturan dan regulasi kita sudah ada, tetapi ada kultur, tidak hanya di pengadilan, tetapi di Indonesia ini, banyak masyarakat yang datang ke pengadilan itu untuk cari pembenaran, bukan keadilan, jadi itulah yang timbulkan penyalahgunaan kewenangan. (Ric/P-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More