Arief Budiman - Ibadah Kunci Sukses Menyelesaikan Masalah

Penulis: FD/M-2 Pada: Minggu, 12 Nov 2017, 08:23 WIB WAWANCARA
Arief Budiman - Ibadah Kunci Sukses Menyelesaikan Masalah

Ketua KPU Arief Budiman -- MI/Ramdani

PRIA kelahiran Surabaya, 2 Maret 1974 ini sangat aktif di kampus, hingga ia menjadi pegiat pemantau pemilu di University Network for Free and Fair Election (Unfrel) untuk wilayah Jawa Timur guna mengawasi Pemilu 1999. Lulus kuliah, ia kemudian mewakafkan dirinya sebagai anggota KPU Jawa Timur dan puncaknya menjadi Ketua KPU Pusat.

Pekerjaan ini tentu memberikan kesempatan dalam banyak hal. Ia bisa tahu dan mengenal banyak orang. Bahkan ia jauh lebih mengenal Indonesia, termasuk mengenal sistem pemilu dan demokrasi di banyak negara. Akan tetapi, pekerjaan ini juga membuatnya harus mengikhlaskan beberapa hal.

“Waktu bersama keluarga otomatis berkurang dan waktu istirahat jauh berkurang bahkan pada masa tertentu seringkali satu hari, hanya tidur 1 jam saja. Kadang ada suka dan ada duka. Semua sudah saya lewati semuanya,” kata mantan senat Fakultas Sastra, Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Sastra Untag itu.

Ia mengaku harus mampu mengatur iramanya, ketika iramanya terasa berat bisa diimbangkan dengan pelbagai hal yang membuat irama itu lebih ringan. Misalnya, kata Arief, dengan menikmati makan bersama keluarga.

“Hanya yang paling sederhana rileks sebentar dengan dengan keluarga. Mengunjungi kawasan yang nyaman dan adem sehingga menjadi sebuah terapi,” paparnya.

Meski demikian, dua periode masa ja­bat­anya di KUP Provinsi Jawa Tengah, saat itu, olahraga menjadi saluran yang jauh lebih menarik untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Apalagi usianya masih lebih muda sehingga olahraga agak berat masih dilakukan, seperti futsal dan badminton. “Sekarang sudah mulai dikurangi bukan berarti tidak dilakukan, melainkan dura­sinya jauh lebih berkurang. Bergeser ke misalnya jalan bersama keluarga, sesekali pulang kampung untuk mengobati rasa kangen dan jenuh di Ibu Kota. Itu obat bagi saya,” lanjutnya.

Ia percaya jika bisa mengurusi keluarga dengan baik, seharusnya bisa menyelesaikan pekerjaan pula dengan baik. Menurutnya, di antara banyak problem yang muncul, yang membuat kondisi jiwa dan raga tenang tentunya ibadah.

“Ibadah membuat kita lebih tenang. Jika masalahnya agak keras, biasanya saya berpuasa, salat, dan berzikir itu membuat kita lebih tenang. Insya Allah semua yang dijalani terasa ringan dan terselesaikan,” sebut alumnus Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, itu.

Tidak suka makanan cepat saji
Suami Imawati ini mengaku sangat menyukai makanan sehat dan ringan, seperti sayur-mayur dan pecel lele. Bahkan istrinya juga menyukai makanan tradi­sional seperti bakso. Ia tidak menyukai makanan cepat saji yang kian menjamur di Jakarta.

“Istri suka makan bakso dan saya lebih suka makan nasi pecel. Saya paling tidak suka makan makanan cepat saji. Akan tetapi, kadang-kadang anak minta yang cepat-cepat, bolehlah. Saya antar mereka ke sana dan saya tidak ikut makan, saya makan yang sehat-sehat saja,” terangnya.

Menurutnya, memang pola makan tetap dijaga tetapi ritmenya juga diatur. Apalagi, kesehatan juga akan mendukung kinerjanya sebagai pemimpin di KPU Pusat.

Selain itu, ia lebih senang berpenampil­an kasual saat masuk kantor. Kondisi itu agar memudahkan dan memberikan rasa nyaman saat ia melakukan aktivitas baik di dalam maupun saat turun ke lapangan.

“Saya tidak terlalu suka berpenampilan formal, saya lebih suka berpenampilan kasual dan rileks. Lebih suka memakai sepatu kets daripada sepatu formal,” tuturnya. (FD/M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More