Doula, Profesi Baru, Kearifan Masa Lalu

Penulis: Siti Retno Wulandari Pada: Minggu, 12 Nov 2017, 08:55 WIB Jeda
Doula, Profesi Baru, Kearifan Masa Lalu

Latihan yoga bersama ibu hami di Candi Plaosan, Klaten, Jawa Tengah. Kegiatan ini digagas Yesie Aprillia, pendiri Bidang Kita. -- Istimewa

NADA-nada khas Jawa, Cirebon, Bali, hingga Medan yang mengalun dari gamelan itu syahdu dan menenangkan. Memadukan aneka kultur Nusantara dalam musik pengiringnya, syair yang dibawakan berbahasa Jawa.

Maknanya, afirmasi positif bagi jiwa tentang indahnya proses persalinan, sekaligus mengoptimalkan posisi janin dengan berbagai gerakan yang berfokus pada bagian panggul.

Tarian Hayuning Nismarangesti itu berdurasi 13 menit itu menjadi salah satu medium bidan Yesie Aprillia yang berpraktik di Klaten untuk mengenalkan proses persalinan aman, nyaman, dan tenang alias gentle birth.

Tarian ini menjadi paduan antara yoga dan hypnobirth. Tarian Hayuning Nismarangesti, menjadi salah satu media pengenalan proses persalinan aman, nyaman, dan tenang atau kini banyak disebut sebagai gentle birth.

Awalnya konvensional
Saat memulai praktik kebidanan sejak 2003, Yesie mengaku di awal ia masih sangat konvensional pada prosedur dan berbagai kelaziman yang dikenal di profesinya. Posisi ibu hamil, misalnya, harus berbaring dengan kaki terbuka lebar, bahkan kurang berempati saat ada yang menjerit kesakitan.

"Semuanya berubah saat saya mengikuti pembelajaran hypnobirthing pada 2005 bersama Ibu Lanny Kuswandi, pelopor metode ini. Saya lantas bergerilya mengedukasi tenaga kesehatan lain agar bisa menerapkan persalinan aman dan nyaman," kata Yesie.

Persalinan tanpa pendekatan kesadaran diri, lanjut Yesie, berpotensi meninggalkan trauma pada ibu, yang juga berimbas pada perkembangan anaknya kelak. "Karena bayi merekam setiap momen kelahiran dan akan terlihat efeknya 10 hingga 13 tahun mendatang. Pun, angka kematian ibu bisa ditekan jika proses persalinan berlangsung secara aman, nyaman, dan tenang. "Kalau cemas, ramuan hormon berubah, akan muncul komplikasi dan bisa berdampak pada kesehatan ibu itu sendiri," ujar Yesie.

Pemahaman dan aneka keterampilan yang menjadi pendekatan baru di dunia persalinan ini, Yessie juga bagikan di bidankita.com. "Edukasi ke tenaga kesehatan itu sulit. Mereka sudah nyaman dengan prosedur yang ada. Paling hanya 1% yang mau terbuka.

Karena itu, edukasi harus dilakukan kepada masyarakat. Kalau permintaan banyak, otomatis tenaga kesehatan akan belajar lagi," tukas Yesie yang mengaku salah satu tantangan utama saat berhadapan dengan tiga ribu tenaga kesehatan yang ia latih.

Perempuan, lanjut Yesie, akan semakin berdaya dan menghargai tubuhnya dengan edukasi. Ibu mengelola rasa sakit sehingga cemas pun berkurang. Perasaan nyaman dan tenang yang kemudian muncul memacu kerja hormon oksitosin sehingga mempermuah persalinan.

"Masyarakat itu gumunan dan kagetan. Padahal, ini ilmu si mbah cuma nama saja baru. Zaman dahulu, mau melahirkan ya mengikuti tanda-tanda yang keluar dari tubuh, suasana pun tenang, tidak ada paksaan. Perlakukan ibu yang akan bersalin sebagai keluarga, kalau tidak ada kendala, apa yang diminta oleh ibu hamil bisa dipenuhi," ungkapnya.

Sertifikasi dan pelatihan
Pendekatan baru pada metode persalinan, serta berbagai persiapannya, yang memunculkan kembali kearifan lokal, juga dikampanyekan Irma Syahrifat, 32, sang doula. Sukses mengikis kecemasan sepanjang kehamilan dan persalinan itu, Imu, begitu ia biasa disapa, yang arsitek memutuskan menyeriusi profesi sebagi sahabat persalinan.

Berbekal pelatihan dan sertifikasi, termasuk dari Red Tent Doula by Nicola Goodall, Imu merintis kariernya sejak akhir 2014.

"Ketika itu, praktik doula belum setenar saat ini. Saya harus mengaku sebagai sepupu klien agar bisa masuk ruang bersalin. Juga sempat terlihat membantu relaksasi klien dan disangka bidan oleh tenaga kesehatan setempat," ujar Irma.

Warisan masa lalu
Doula, kata Imu, merujuk pada situasi zaman dahulu, saat perempuan yang akan melahirkan didampingi tetangga atau kerabat untuk memberikan dukungan jasmani dan rohani.

Irma menegaskan, kendati ia semakin mempercayai kekuatan perempuan, di saat berbarengan, menyakini, jangan pernah memiliki ekspektasi sama pada perempuan yang akan bersalin karena selalu ada kejadian tak terduga. "Tugas doula itu dukung dan beri saran, harus tahu kebutuhan ibu hamil, mendukung psikis dan fisik," ungkap Imu yang mengaku harus bersiaga 24 jam dalam 7 hari saat klien sudah memasuki usia kandungan 37 minggu. Tak peduli jam berapa pun, dalam situasi apa pun, saat dapat panggilan dari klien, harus bergegas datang.

Namun, selain berjumpa di ruang bersalin, keduanya sebelumnya telah bertemu dua kali. Kali pertama, membahas birth plan, kedua memandu untuk melakukan relaksasi yang kemudian harus dipratikan oleh ibu di rumah.

"Tentu ada proses tanya jawab melalui aplikasi pesan, sebelum akhirnya hadir secara fisik saat proses persalinan," ujar Imu.

Kendati belum banyak rumah sakit ataupun dokter spesialis kandungan yang membuka pintu untuk bekerja sama dengan doula, masyarakat justru menyambut hangat doula. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More