Panca Dharma Utama

Penulis: Ono Sarwono Pada: Minggu, 12 Nov 2017, 00:46 WIB PIGURA
Panca Dharma Utama

JUDUL di atas merupakan lakon pergelaran wayang kulit semalam suntuk di Kampus Universitas Pancasila (UP), Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (4/10). Pentas akbar itu menjadi puncak acara rangkaian peringatan hari ulang tahun ke-51 perguruan tinggi tersebut.

Judul lakon itu terdiri dari tiga kata, yakni panca, dharma, dan utama. Panca artinya lima, dharma dalam konteks ini adalah aturan kebenaran, dan utama bermakna mulia. Jadi, makna sederhananya ialah lima dasar aturan yang mulia.

Inti cerita yang dibawakan dalang kondang Ki Anom Suroto dan putranya, Ki Bayu Pamungkas, tersebut ialah ketika Amarta sedang dirundung pagebluk mayang kara (berbagai masalah) berbarengan dengan hilangnya jimat Kalimasada dan perginya sang pamong Semar Badranaya.
Amarta bisa pulih kembali setelah seluruh komponen bangsa mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Panca Dharma Utama.

Telaga Dwipa

Kisah itu diawali dengan kedatangan Werkudara, panenggak (anak nomor kedua) Pandawa, di Negara Dwarawati. Kepada tuan rumah, Kresna, yang juga kakak ipar sekaligus botoh Pandawa, Werkudara mengabarkan kondisi kebangsaan Amarta yang dilanda keprihatinan mendalam.

Elite dan rakyat banyak yang nunjang palang, berperilaku sesukanya. Tanpa merasa bersalah melanggar aturan, dan tidak risih atau malu menginjak-injak nilai, norma, dan etika. Pada sisi lain, rakyat dan elite juga suka bertikai. Korupsi pun menggurita di semua lini kehidupan sehingga negara semakin rapuh dan terancam ambruk.

Werkudara menjelaskan kondisi yang memiriskan ini mulai mengharu biru setelah kakaknya, Prabu Yudhistira, yang juga raja Amarta, kehilangan pusaka keramat jimat Kalimasada. Pada saat yang bersamaan, panakawan Semar pergi tanpa kabar dan tidak diketahui rimbanya.

Ketika belum tuntas mereka berbicara, mendadak datanglah pendita yang mengaku bernama Asmara Santa. Sosok sepuh ini berterus terang bahwa dirinya diutus rajanya, Prabu Kalimantara, penguasa Negara Mider Putihan, untuk meminta singgasana Dwarawati.

Tanpa izin Kresna, Werkudara langsung menggelandang Asmara Santa hingga ke alun-alun. Sikapnya yang frontal dan tanpa kompromi itu disebabkan sang tamu dianggap menginjak-injak kehormatan Kresna, titisan Bathara Wisnu, dan kian menggelapkan kegalauan pikiran serta hatinya.

Akibatnya, terjadilah peperangan. Namun, prajurit Dwarawati yang dikomandani Setyaki dan Werkudara tidak mampu menandingi Asmara Santa. Akhirnya Dwarawati bedah. Kresna dan Werkudara terpaksa kabur.

Di tempat terpisah, kesatria panengah (anak nomor ketiga) Pandawa, Arjuna, diikuti panakawan minus Semar, sowan kepada Begawan Abiyasa di pertapaan Saptaarga. Arjuna meminta nasihat kakeknya itu terkait dengan usaha Pandawa menemukan kembali Kalimasada dan bisa memboyong sang pamong Semar yang hilang bak ditelan bumi.

Abiyasa menasihati Arjuna untuk teteki, menjalani laku prihatin, di pinggir Telaga Dwipa. Dengan berbekal wasiat dari eyangnya, Arjuna mengajak Gareng, Petruk, dan Bagong menuju telaga yang dimaksud.

Tinggalkan wadak

Pada bagian lain, di Kahyangan Alang-Alang Kumitir Sanghyang Wenang sedang menerima sowannya Bathara Ismaya. Setelah menghaturkan sembah, Ismaya memohon wejangan terkait dengan solusi atas kondisi kebangsaan Amarta yang sedang rusak.

Ismaya berinisiatif keluar dari wadak Semar dan kemudian mumbul (terbang) menghadap Sanghyang Wenang tersebut karena ‘status’-nya sebagai pamong Pandawa. Ia berkewajiban memulihkan Amarta seperti sedia kala, negara yang ayem tenteram dan adil makmur.

Wenang bersabda bahwa Amarta bisa pulih bilamana Pandawa dan rakyat secara lahir dan batin mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam pusaka Panca Dharma Utama. Ismaya diperintahkan untuk segera kembali ke marcapada medhar (membeberkan) ‘ideologi’ tersebut.

Setelah merasa cukup dan jelas, Ismaya mohon pamit lalu mengejawantah menemui wadak Semar di pinggir Telaga Dwipa. Antara Bethara Ismaya dan wadak Semar terjadi dialog. Mereka sama-sama mempertanyakan tugas masing-masing.

Sebelumnya, Semar sempat memprotes Ismaya yang dianggap meninggalkan wadak tanpa pamit. Ismaya beralibi itu disebabkan dirinya sedang memikul tanggung jawab. Menurutnya, siapa pun, bahkan suket-godong garing (sampah), pun tidak perlu tahu apa yang dilakukannya.

Ismaya menjelaskan bahwa dirinya (roh) memiliki tugas sesuai dengan kodratnya sebagai pamong kesatria Pandawa. Sebaliknya, wadak Semar mengatakan kewajibannya merealisasikan yang diperintahkan jiwa atau sang sukma. Dengan kata lain, raga ialah peranti (sarana) untuk mengonkretkan keinginan sukma. Karena itulah, Ismaya lalu kembali bersemayam dalam wadak Semar.

Tidak lama kemudian, datanglah Yudhistira, Kresna, Werkudara, dan Arjuna. Semar mengatakan dirinya pergi meninggalkan Amarta karena merasa ditelantarkan Pandawa dan rakyat. Hilangnya Kalimasada, kata Semar, pun akibat semua sudah tidak peduli terhadap pusaka tersebut.

Semar menganjurkan demi pulihnya Amarta, semua warga mesti berlandaskan Panca Dharma Utama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Nilai yang terkandung dalam lima dasar aturan mulia itu ialah senantiasa mengagungkan sang Maha Kuasa, berperikemanusiaan, menjaga keutuhan bangsa, sarasehan lewat para wakil yang terpilih, dan menciptakan keadilan bagi seluruh rakyat.

Amalkan Pancasila

Sesaat kemudian datanglah Kalimantara dan Asmara Santa. Semar meminta keduanya kembali ke wujud asli. Keajaiban pun terjadi. Kalimantara berubah menjadi Kalimasada, Asmara Santa badhar (berubah ke wujud aslinya) menjadi Dewi Kanastren yang tidak lain pasangan Ismaya.

Hikmahnya ialah Amarta gonjang-ganjing akibat hampir semua warga meninggalkan jati diri mereka. Untuk memulihkannya, tidak ada cara lain selain mengamalkan nilai-nilai Panca Dharma Utama.

Bila dikontekskan dengan kondisi kebangsaan saat ini, cerita itu merupakan semacam pasemon (sindiran) bangsa yang meminggirkan ideologi Pancasila sehingga terbelenggu oleh berbagai persoalan dan bahkan mengancam persatuan bangsa dan keutuhan negara.

Untuk keluar dari masalah dan demi mengukuhkan eksistensi bangsa dan negara serta menyongsong masa depan yang gemilang, bangsa ini mesti membumikan nilai-nilai Pancasila. (X-7)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More