Lakon tentang Kepahlawanan dan Pengabdian

Penulis: Abdillah M Marzuqi Pada: Minggu, 12 Nov 2017, 00:01 WIB Tifa
Lakon tentang Kepahlawanan dan Pengabdian

MI/ABDILLAH M MARZUQI

PERNAHKAH membayangkan bagaimana rupa istana dalam panggung teater, medan perang dalam panggung teater, perang di atas panggung ataupun pasukan berkuda bertombak dalam panggung? Jika masih beranggap itu mustahil, tidak ada cara lain selain menonton pertunjukan Teater Koma yang berjudul Sie Jin Kwie, Melawan Siluman Barat.

Itu semua mampu dihadirkan Teater Koma dalam panggung. Lakon itu merupakan lanjutan dari lakon-lakon Sie Jin Kwie yang sebelumnya, berawal dari lakon Sie Jin Kwie (2010), Sie Jin Kwie Kena Fitnah (2011), dan Sie Jin Kwie Di Negri Sihir (2012). Bersambung dari lakon sebelumnya, lakon keempat ini menutup kisah Sie Jin Kwie Ceng See atau Sie Jin Kwie Menyerbu ke Barat. Lakon adaptasi oleh Nano Riantiarno dari novel karya Lokoanchung dan Tiokengjian. Pementasan yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation itu dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, 10-19 November 2017.

Lakon ini merupakan produksi ke-150 dan pentas besar ketiga dalam rangkaian perayaan hari jadi ke-40 Teater Koma setelah sebelumnya sukses mementaskan Opera Ikan Asin dan Warisan di tahun ini.

Sebait cerita tentang lakon mustahil disampaikan N Riantiarno dalam tulisan Batik dan Perang. Cerita itu bermula ketika Teater Koma membutuhkan alat musik untuk pentas Sie Jin Kwie (Xue Rengui) yang pertama. Sedemikian langkanya alat musik itu hingga memaksa mencari sampai ke negeri tetangga. Perburuan itu mengantar ke sebuah toko alat musik di Singapura. Penjual itu tidak paham dengan kebutuhan alat musik itu. Namun, setelah tahu bahwa alat itu bakal digunakan untuk pertunjukan pentas teater, penjual itu berucap, "Hah? Ada seniman gila di Indonesia yang berani mementaskan Xue Rengui?" Tak hanya kaget, bahkan ia pun bertolak ke Jakarta untuk menonton.

Cerita itu memang terdapat di produksi Sie Jin Kwie yang pertama. Namun, setidaknya sebait cerita itu mungkin cukup untuk menggambarkan tingkat kesulitan lakon yang dimainkan Teater Koma.

Lakon terbaru Teater Koma yang berjudul Sie Jin Kwie Melawan Siluman Barat itu mengajarkan sikap kepahlawanan dan pengabdian kepada tanah air dan bangsa, seperti yang selama ini dilakukan Teater Koma.

"Teater Koma juga menunjukkan pengabdian yang luar biasa untuk seni pertunjukan Indonesia dengan konsisten dalam berkarya dan menggelar pementasan yang menjadi inspirasi bagi kita untuk terus berproses kreatif," ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Sie Jin Kwie, Melawan Siluman Barat mengisahkan menantu Sie Jin Kwie, jenderal wanita Hwan Lie Hoa yang diangkat Raja Li Ti menjadi Panglima Besar Pasukan Tang setelah Sie Jin Kwie gugur di medan perang. Tugasnya, mengalahkan Jenderal Souw Po Tong dan menaklukkan Tartar Barat yang dibantu para siluman dan Dewa Jahat. Para Dewa Baik pun turun mendukung Pasukan Tang. Apakah Tartar Barat bisa ditaklukkan?

"Lima tahun berlalu sejak pementasan Sie Jin Kwie Di Negri Sihir di saat Sie Jin Kwie kalah dan dan menemui ajal. Namun bagi saya, rasanya Sie Jin Kwie belum selesai karena musuh besarnya, Souw Po Tong, belum juga mati," ujar sutradara Nano Riantiarno.

Lakon yang mustahil

Bagaimanapun lakon ini diselesaikan hingga Kerajaan Tang tidak punya musuh lagi di Tartar Barat. Maka, sesudah lima tahun, Nano mencoba mementaskan lakon ini dengan anak Sie Jin Kwie, Sie Teng Sang, dan menantunya, Hwan Lie Hoa. Keduanya sudah menjadi jenderal dan harus melawan siluman-siluman dan para dewa juga ikut berperang.

"Sie Jin Kwie Melawan Siluman Barat adalah lakon yang mustahil. Itu terjadi ratusan tahun yang lalu. Mungkin, yang sekarang kita lawan adalah siluman juga. Apa betul yang kita lawan sekarang ini adalah siluman?" jelasnya.

Ada yang berbeda dalam lakon ini, tidak ditemui kritikan ataupun sentilan terhadap pemerintah. Biasanya muatan kritis hampir selalu lekat dengan pementasan Teater Koma.

"Pada pementasan ini, kami tidak akan mengkritik pemerintah, biarpun korupsi tetap dilakukan. Kebrutalan politik dan hal-hal yang sering dipakai agar lawan politk kalah juga tidak kami bahas dalam lakon. Kami berusaha agar lakon ini dilakukan dengan bagus, menarik, dan bermakna," terang Nano.

Pementasan Sie Jin Kwie Melawan Siluman Barat kali ini didukung Idris Pulungan, Tuti Hartati, Budi Ros, Rangga Riantiarno, Ade Firman Hakim, Joind Bayuwinanda, Subarkah Hadisarjana, Daisy Lantang, Dorias Pribadi, Alex Fatahillah, Supartono JW, Ratna Ully, Raheli Dharmawan, Dana Hassan, Bayu Dharmawan, Budi Suryadi, Angga Yasti, Suntea Sisca, Andhini Puteri, Adri Prasetyo, Sir Ilham, Sriyatun Arifin, Ina Kaka, Sekar Dewantari, Julung Zulfi, M Tavip, dan masih banyak lagi.

Lakon Sie Jin Kwie Melawan Siluman Barat ini menampilkan 22 perang, baik perang besar maupun kecil. Koreografi peperangan ini ditangani Sentot S dan Djoko SS. Mereka mengajari para aktor Teater Koma agar bisa melaksanakan peperangan. Fero A Stefanus menggarap 23 lagu dalam lakon ini dengan arahan instruktur vokal Naomi Lumban Gaol.

Kostum tetap akan menggunakan batik. Itu menjadi bagian yang utama dalam kostum yang didesain Rima Ananda bersama tata rias dan rambut garapan Sena Sukarya dibantu konsultan tata rias dan rambut Subarkah Hadisarjana. Skenografi dan tata cahaya panggung dibesut Taufan S Chandranegara.

Lakon ini juga mendapat sentuhan tata grafis Saut Irianto Manik. Semua didukung pemimpin panggung Ariffano Marshal, pengarah teknik Tinton Prianggoro, serta pemimpin produksi Ratna Riantiarno, di bawah arahan ko-sutradara Ohan Adiputra dan sutradara N Riantiarno. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More