Kembali ke Prasejarah di Pulau Komodo

Penulis: Henri Siagian Pada: Sabtu, 11 Nov 2017, 23:16 WIB Travelista
Kembali ke Prasejarah di Pulau Komodo

MI/Henri Siagian

Speedboat akhirnya menambatkan diri ke sebuah dermaga kayu di Pulau Komodo, pulau yang muncul akibat kegiatan vulkanis peninggalan zaman jurasic.

Jembatan kayu sepanjang sekitar 50 meter yang menjadi penghubung ke daratan seakan menjadi lorong waktu untuk membawa ke kehidupan zaman lalu. Sejumlah pulau vulkanis kecil sepanjang mata memandang dan keheningan kian menambah nuansa kehidupan zaman prasejarah.

Pulau dengan luas daratan sekitar 38.037 hektare itu diperkirakan menjadi tempat tinggal sejumlah satwa. Itu termasuk sekitar 1.300 komodo, yang nama Latin-nya Varanus komodoensis, atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai dragon komodo. Satwa reptil itu oleh sejumlah kalangan dikenal dengan julukan the living dinosaurs (dinosaurus hidup).

Habitat satwa itu juga berada di Pulau Rinca yang memiliki luas sekitar 25.119 hektare. Pulau Rinca diperkirakan ditinggali 1.572 komodo.

Kedua pulau itu masuk Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Kedua pulau itu termasuk ke jajaran Taman Nasional Komodo selain Pulau Padar, Gili Motang, dan sejumlah pulau lainnya.

Pemburu tulen

Petugas yang mengantar turis, biasa disebut ranger, akan mengawal dengan membawa sebilah kayu bercabang sepanjang sekitar 2 meter. Dengan cabang kayu itu, para ranger akan menahan pangkal kaki komodo yang hendak menyerang manusia.

“Komodo ialah predator dan pemakan daging tulen. Mereka menyerang untuk makan. Bukan hanya bila merasa terancam. Bahkan, yang memberi makan juga bisa mereka makan,” kata ranger Makasau.

Karena itu, satwa liar lainnya, seperti babi hutan, rusa, dan burung maleo, ialah mangsa bagi predator di puncak tertinggi rantai makanan di pulau itu.

Bayi komodo di pohon gebang

Itu termasuk anak mereka sendiri. “Komodo juga makhluk kanibal. Mereka memakan anak mereka sendiri. Mereka hanya tidak memakan kepala rusa dan kerbau karena terhalang oleh tanduknya,” lanjut Makasau.

Bayi komodo memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan kadal yang berukuran raksasa lainnya, yakni kemampuan memanjat pohon. Pohon yang kerap menjadi bungker bagi bayi komodo ialah pohon gebang (Corypha utan).

Pohon dari keluarga palem itu memiliki keunikan hanya berbuah satu kali lalu mati. Ketika mati, batang di dalam pohon yang rapuh menjadi sarang bagi bayi komodo.

Untuk asupan gizi, bayi komodo tidak perlu khawatir. Pohon itu juga menjadi sarang burung kakaktua. Pasalnya isi batang pohon mati yang seperti sagu menjadi makanan utama kakaktua. Selanjutnya, kakaktua yang menjadi makanan sang bayi komodo.

Dengan mengingat kebuasan komodo, wisatawan dilarang berjalan di kawasan pulau tanpa dikawal ranger. Biasanya, ranger akan memberi pengarahan dan larangan sebelum memulai tur. Di antaranya dilarang berpisah dari rombongan, berisik, dan merokok. “Daerah ini kering. Apalagi kalau musim kemarau. Kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan bisa membuat kebakaran,” jelas ranger Muis.

Tak bisa dijinakkan

Muis juga mengingatkan agar tetap tenang kalau ada komodo yang mendekat. Jangan mencoba berlari karena laju komodo bisa mencapai 18 kilometer per jam.

Di sisi lain, dia mengingatkan agar jangan ada yang berupaya memegang komodo dan tetap menjaga jarak aman. “Komodo tidak bisa dijinakkan,” kata dia.

Bupati Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Agustinus Ch Dula tidak bisa memungkiri berkah yang diterima dari satwa komodo.

Apalagi, pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla telah menetapkan Taman Nasional Komodo sebagai salah satu destinasi wisata utama Indonesia.
Daerah lain, lanjut dia, mungkin memiliki destinasi yang tidak kalah indah. Namun, hanya Manggarai Barat yang memiliki komodo.

“Jangan meninggal dunia sebelum ke Labuan Bajo untuk melihat komodo. Karena komodo hanya ada di sini. Tidak ada di bagian dunia mana pun atau akhirat yang punya komodo hidup di habitat mereka seperti di Manggarai Barat,” seloroh Agustinus.

“Tapi itu kata Pak Gubernur (Frans Lebu Raya),” kekehnya.

Sebelum kembali ke lorong waktu, pengunjung Pulau Komodo bisa menghampiri kawasan yang dijadikan tempat beristirahat atau membeli suvenir. Hanya saja, tempat suvenir yang tersedia belum tertata dengan apik. Hanya beberapa pedagang yang menempati los dengan memajang kaos dan patung komodo berbagai ukuran.

Tempat beristirahat hanya berupa warung tidak permanen beratapkan kain terpal yang menyajikan segelas mi instan seduh dan minuman.

Penataan fisik

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengakui masih ada perlu perbaikan di kawasan tersebut. “Saya sudah lihat. Akan saya minta untuk ditata fisik pada tahun anggaran 2018,” kata dia.

Berdasarkan catatan Balai Taman Nasional (TN) Komodo, hingga Agustus 2017, tingkat kunjungan wisatawan ke taman nasional yang meliputi Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, serta beberapa pulau kecil lainnya mencapai angka 60 ribu sampai 70 ribu wisatawan dengan pemasukan sekitar Rp19 miliar.

Wisatawan yang mendatangi Labuan Bajo juga memanfaatkan kesempatan untuk mengikuti paket perjalanan mengunjungi sejumlah pulau dan pantai di kawasan taman nasional tersebut.

Seperti itu pula yang dilakukan rombongan Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur (persero) Emma Sri Martini, Sekretaris Perusahaan PT SMI Ramona Harimurti, beserta staf, dan sejumlah wartawan. Pinisi yang ditumpangi mengambil rute Pulau Padar, Pantai Pink, Pulau Komodo, dan Pulau Kalong.

Di Pulau Padar, wisatawan harus mendaki bukit terjal berbatu untuk bisa menikmati pemandangan ta­taran kepulauan vulkanis dengan laut berwarna biru gelap. Pemandangan dari puncak bukit di pulau dengan sabana luas itu digunakan untuk bagian belakang uang kertas Rp50 ribu keluaran 2016.

Saat perjalanan dilanjutkan, te­riknya matahari yang tepat berada di atas kepala membatalkan kesempatan untuk bermain air di pantai dengan pasir berwarna merah muda di Pantai Pink. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More