Risma Simanjuntak Perempuan Berdaya di Medan Helvetia

Penulis: Iis Zatnika Pada: Kamis, 09 Nov 2017, 11:00 WIB Inspirasi
Risma Simanjuntak Perempuan Berdaya di Medan Helvetia

DOK PRIBADI

PUKUL 13 siang ini, di rumah Risma Simanjuntak, 57, di Kecamatan Medan Helvetia, Medan, Sumatra Utara, berkumpul 13 ibu yang juga para pengusaha.

Mereka berjumpa bukan buat bergosip, melainkan untuk menyetorkan cicilan kredit Perempuan Mandiri dan Suri Tauladan (Permaisuri).

Jumlah pinjaman Rp2 juta hingga Rp6 juta yang mereka alokasikan sebagai modal usaha masing-masing.

Namun, karena kredit itu mensyaratkan debitur tergabung dalam kelompok keuangan mikro (KKM) dengan anggota hingga 30 orang, seluruh rangkaian pengajuan hingga pembayaran cicilan pun dilakukan bersama-sama.

Namun, pertemuan rutin setiap pekan itu bukan cuma semata transaksional. Ada berbagai proses pembelajaran yang terjadi, mulai konsultasi, semisal teknik memisahkan modal dengan uang belanja sehari-hari, hingga berbagai edukasi perbankan lainnya.

Pun, ada pelatihan buat berbagai keterampilan yang tak terkait langsung soal usaha, di antaranya teknik mencuci tangan yang baik hingga pengasuhan anak.

"Nama KKM kami Beringin, berdiri sejak 2011, dulunya sempat punya anggota 20 orang, tapi beberapa sudah tua sehingga tidak lagi menjalankan usaha sehingga tidak lagi mengajukan kredit. Tapi, yang lainnya ya tetap berjalan karena terasa betul manfaat yang dirasakan dari tambahan modal ini," kata Risma kepada Media Indonesia, kemarin.

Syarat berkelompok

Setelah merintis usaha kelontong, kebutuhan rumah tangga hingga dapur, di muka rumahnya sejak 1992, Risma berkenalan dengan Permaisuri yang dirilis Bank Sumut mulai enam tahun lalu.

Seusai disosialisasikan soal manfaat yang bisa diperoleh serta persyaratan yang harus dipenuhi, Risma pun berikhtiar mematuhi ketentuan utama, menghimpun para ibu yang juga berkontribusi buat keuangan keluarga pun yang menjadi tulang punggung rumah tangganya.

"Akhirnya terkumpul ibu-ibu yang tinggal dalam lingkungan sekitar sini. Usahanya macam-macam. Kalau yang sekarang ini, di antaranya ada Ibu Rusmayani Simorangkir yang berjualan bensin, solar, dan oli. Lalu, Ibu Herli yang jualan lontong medan; tukang kredit apa saja kebutuhan rumah tangga orang-orang sini mulai seprai, baju, hingga perabotan namanya Ibu Sagala. Juga ada yang buka warung makan khas Batak Ibu Marta Cristina," ujar Risma.

Sesudah mendapat kucuran kredit tanpa agunan berupa aset, tetapi berupa kolaborasi dan komitmen para anggota, Risma merasakan betul usahanya terdongkrak oleh Permaisuri.

Setelah semula hanya menjual buah-buahan dan sayur, Risma terus melengkapi isi toko kelontongnya.

Semangat buat terus berdaya, dengan Permaisuri sebagai katrolnya, pun dirasakan para anggota KKM Beringin lainnya.

Indikatornya tambahan baik kuantitas maupun kualitas usaha.

Namun, penanda paling penting ialah besaran kredit yang dipercayakan.

"Dulu pertama kali terima masing-masing Rp1 juta yang harus dikembalikan selama empat bulan. Karena dinilai kita makin bagus, jumlahnya terus bertambah, Rp2 juta hingga Rp5 juta, dengan delapan bulan masa pengembalian. Sekarang, pinjam Rp6juta dibayar selama 6 bulan atau 40 kali cicilan, setiap minggunya. Cicilannya mulai Rp170 ribu hingga Rp200 ribu," ujar ibu empat anak yang dua di antaranya telah lulus perguruan tinggi dan dua lainnya masih kuliah.

Risma merinci pertumbuhan itu di warungnya ditandai jumlah ikan segar yang dijual, yang kini mencapai 5-10 kg ia jual sehari-hari, dari semula 2 kg.

Hanya untuk modal

Sekalian mendapat aneka pengayaan, berupa pelatihan dan konsultasi yang disisipkan dalam pertemuan dengan petugas lapangan Permaisuri setiap pekannya, Risma dan para ibu lainnya senantiasa diingatkan bahwa dana yang diperoleh hanya diperuntukkan modal usaha agar mereka sendiri tak kesulitan buat mencicil.

"Buat kami, imbal jasa 0,325% per bulan atau 18% per tahun untuk pihak bank termasuk ringan. Tapi bukan cuma itu, situasi yang nyaman membuat enggak mau pindah," ujar Risma yang mulai beraktivitas sejak pukul lima pagi untuk berbelanja di Pekan Sei Sikambing.

Ia pun sampai di rumahnya pukul tujuh, menata ikan dan sayur, termasuk petai yang kini tengah musim di Medan, dilanjutkan aktivitas melayani pembeli hingga sore menjelang.

Semua harus patuh

Aktivitas berdagang itu, berpadu dengan tanggung jawabnya sebagai Ketua KKM Beringin, mengoordinasi sekretaris, bendahara, dan anggota.

"Mulai mengingatkan anggota, dibantu pengurus yang lain. Karena semua tetangga, ya, mengingatkannya saat bertemu langsung. Kan, syarat Permaisuri harus orang yang kita kenal dan dekat. Semua harus patuh membayar karena jika tidak, akan berpengaruh pada nama KKM dan kemungkinan mendapat kredit kembali," ujar Risma.

Buat perempuan Batak, kata Risma, berwirausaha menjadi bagian dari kultur.

Gengsi, pun keengganan buat berpeluh, dikikis habis, digantikan semangat buat berkontribusi bagi kelangsungan rumah tangga pun pendidikan anak.

"Apa yang ada, itu yang diusahakan. Itu semangat kami, termasuk di KKM Beringin," kata Risma yang lulusan SMEA. (M-2)

Biodata

Nama: Risma Simanjuntak
Usia: 57 tahun
Pendidikan: SMEA
Pekerjaan: Pedagang klontong Ketua kelompok keuangan mikro (KKM) Beringin

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More