Tegal Kurusetra

Penulis: Ono Sarwono Pada: Minggu, 05 Nov 2017, 09:12 WIB PIGURA
Tegal Kurusetra

MENGGELITIK, artikel berjudul ’Kebangsaan dan Media (A)sosial’ tulisan Asep Salahudin, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PWNU Jawa Barat, di harian ini Selasa (31/10).

a menyebut media sosial tak ubahnya medan laga di padang Kurusetra tempat umat manusia, khususnya di Indonesia, terbelah dalam dua kekuatan besar, ‘penyuka’ (lover) dan ‘pembenci’ (hater). Apa pun yang dilakukan tokoh itu, bagi lover, ialah kebaikan dan harus dipertahankan.

ebaliknya, bagi hater, tokoh itu sebaik apa pun pasti salah dan harus ditemukan titik kesalahannya untuk dihancurkan sehancur-hancurnya..

Pengibaratan medsos seperti laga di tegal Kurusetra itu tampaknya untuk menggambarkan betapa bengisnya ‘perang’ dunia maya di negeri ini. Seperti dalam Bharatayuda di Kurusetra, di jagat medsos juga tidak ada lagi kepatutan dan kepatuhan terhadap aturan. Yang menggelora ialah primitifisme atau ketidakadaban (uncivilized).

Tendang-tendangan
Dalam cerita wayang, Kurusetra merupakan tempat pertempuran antarsaudara sepupu. Yakni, antara Pandawa dan Kurawa, sama-sama keturunan Abiyasa, yang dibantu para sekutu masing-masing. Mereka berperang memperebutkan kekuasaan atas Astina dan Indraprastha.

Kurusetra menjadi saksi bisu begitu bengisnya perang yang berlangsung 18 hari. Setiap jengkal tanah bergelimpang kwanda (jasad) pasukan dan senapati dari kedua pihak. Bau anyir menyengat di mana-mana sehingga suasana siang pun terasa menggidikkan. Peperangan itu tidak menyisakan sedikit pun sisi kemanusiaan. Kebencian di antara mereka begitu ngigit-igit (begitu memuncak).

Salah satu episode kekejaman perang di Kurusetra terjadi saat senapati Astina Durna terbunuh. Paranpara Astina itu dipenggal kepalanya oleh senapati Amarta, Drestadyumna, taktala Durna dalam keadaan tidak siap berperang karena sedang ngungun (melamun sedih).

Sebelumnya, Durna dirundung bingung mendengar kabar samar bahwa anak satu-satunya, Aswatama, tewas di peperangan. Namun, ia tidak menemukan jasadnya meski telah lelah ke sana kemari menjelajahi Kurusetra.

Kekejaman Drestadyumna terhadap guru para Kurawa dan Pandawa tidak hanya sampai di situ. Kepala Durna dipakai untuk bal-balan (tendang-tendangan). Tindakan keji adik Drupadi tersebut mengundang keprihatinan mendalam para Pandawa yang ia bela.

Dresthadyumna benar-benar kesetanan karena melampiaskan dendam. Kemarahannya terhadap Durna meluap-luap karena Durna-lah yang membunuh bapaknya, Raja Pancala Prabu Drupada. Jauh sebelumnya, Durna telah mempermalukan harga diri Drupada dengan merampas sebagian wilayah Pancala yang kemudian dijadikan tempat perguruan Sokalima.

Gambaran lain tentang sadisnya di Kurusetra ketika Abimanyu maju ke palagan. Saat itu ia menerjang barisan Kurawa dalam misi membebaskan uwaknya, Prabu Yudhistira, dari ancaman tertangkap musuh.
Upayanya berhasil, tetapi ia menjadi korban. Kesatria Plangkawati itu terperangkap strategi pertempuran lawan yang dinamakan Cakrabyuha. Namun, putra Arjuna itu tak menyerah. Ia terus merangsek, mengamuk. Akan tetapi, karena musuh begitu banyak, Abimanyu yang sendirian akhirnya terdesak dan menjadi sasaran empuk ribuan anak panah.

Dalam keadaan terluka, Abimanyu sambil menghunus keris Pulanggeni merangkak maju tanpa miris. Banyak musuh tewas di tangannya, salah satunya putra mahkota Astina Lesmana Mandrakumara. Namun, lama-kelamaan akibat luka di sekujur tubuhnya, putra Dewi Sembadra itu kehabisan darah. Tiba-tiba Jayadraja menggebuk kepala Abimanyu dengan gada hingga remuk. Abimanyu gugur dengan kondisi mengenaskan.

Mencabik-cabik
Pelanggaran aturan perang pun terus terjadi, di antaranya aturan yang mengharuskan peperangan berlangsung dari matahari terbit hingga terbenam, diabaikan. Karna Basusena, yang diangkat sebagai senapati Astina oleh Prabu Duryudana, terjun ke pelagan pada malam hari.

Tentu ini mengagetkan kubu Pandawa. Botoh mereka, Kresna, lalu cepat-cepat memerintahkan Gathotkaca maju ke medan perang menghadapi Karna. Peperangan di malam hari itu berlangsung sengit. Tidak terbilang jatuhnya korban. Di malam itulah akhirnya Gathotkaca gugur setelah tertembus panah Kuntawijayadanu, senjata utama Karna pemberian dewa.

Peristiwa lain yang menggiriskan dalam perang itu terjadi ketika Werkudara membinasakan Sengkuni. Kebencian Werkudara terhadap patih Astina itu seperti sudah sampai di ubun-ubun. Ini dilatarbelakangi sepak terjang Sengkuni sebagai ‘arsitek’ penderitaan Pandawa yang bertubi-tubi. Sengkuni juga sebagai biang kerok hancurnya harmonisasi persaudaraan Pandawa-Kurawa sehingga terjerembap dalam kubang permusuhan abadi.

Namun, meski Werkudara telah mengeluarkan seluruh kemampuannya, ia tak kuasa ‘mencabut’ nyawa Sengkuni. Werkudara jadi bingung karenanya. Pamong Pandawa, Semar, pun menghampirinya. Ia mengungkapkan rahasia keampuhan Sengkuni.

Semar menjelaskan dulu Sengkuni telah melumuri seluruh tubuhnya dengan lenga tala. Siapa pun yang menggunakan minyak milik Prabu Pandu itu akan tahan terhadap senjata dan pukulan apa pun. Namun, masih ada ‘wilayah’ sedikit yang kalis dari lenga tala, yaitu sekitar duburnya.

Berbekal keterangan rahasia itu, Werkudara berbegas maju lagi ke medan perang. Ia langsung meringkus Sengkuni dan kemudian dengan sekuat tenaga menghunjamkan kuku pancanakanya ke duburnya. Tidak selesai di situ. Werkudara mencabik-cabik dan meremuk-remuk jasad Sengkuni hingga tidak wujud lagi.

Ancam kerukunan
Itulah sepotong kisah sekaligus gambaran bengisnya perang di tegal Kurusetra. Kedua pihak, yang mewakili kebaikan (Pandawa) dan kezaliman (Kurawa), sama-sama kejam. Itulah hukum perang. Mereka tidak mengindahkan aturan ataupun etika. Hanya kebencian yang menjadi-jadi. Padahal, mereka sebangsa dan setanah air.

Mereka sama-sama trah atau keturunan Raja Astina Prabu Kresnadwipayana alias Abiyasa. Namun, karena terbelenggu oleh nafsu kekuasaan sesaat, mereka baku bunuh.

Dalam konteks dunia medsos di negeri ini, nilai yang bisa dipetik dari cerita ini ialah janganlah dunia medsos kita jadikan medan laga perang ‘Kurusetra’ karena kepentingan politik sempit.

Janganlah menggunakan medsos untuk saling melukai, mencederai. Apalagi ajang untuk ‘berperang’ dia antara kita karena itu mengancam kerukunan dan keutuhan kita sebagai bangsa. Manfaatkan medsos untuk penyempurnaan kita sebagai bangsa yang beradab. (X-7)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More