Senja Kala Ritel

Penulis: Ramdani Pada: Minggu, 05 Nov 2017, 00:16 WIB Foto
Senja Kala Ritel

MI/Ramdani

SEPERTI tidak sabar, pria itu mengintip ke dalam toko Lotus Department Store di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Ia bergabung dalam antrean panjang orang yang ingin memanfaatkan tawaran diskon 80% toko ritel tersebut. Menjelang berakhirnya operasional pada 31 Oktober 2017, Lotus memang menggelar diskon besar.

Tingginya antusiasme pengunjung sampai membuat toko memberlakukan sistem buka tutup. Di dalam toko, suasana keriuhan orang berburu barang tetap tidak mampu menutupi nuansa suram akan masa depan peritel di Tanah Air.

Gantungan-gantungan baju yang teronggok, begitu juga dengan manekin-manekin telanjang yang dikumpulkan di sudut, menyiratkan akan sebuah era perbelanjaan yang terpaksa beralih. Terlebih, Lotus bukan satu-satunya ritel yang gulung tikar. Hingga saat ini sudah tercatat beberapa pelaku usaha ritel yang menutup gerai usaha mereka, di antaranya 7-Eleven dan PT Matahari Department Store. Bahkan akhir 2017 ini toko ritel Debenhams di Indonesia memastikan akan menghentikan secara total operasional mereka.

Banyak analisis dikemukakan mengenai fenomena ini. Sebagian mengatakan hal ini bukanlah kelesuan ekonomi, melainkan hanya pergeseran ke belanja daring. Meski begitu, tidak sedikit pula pihak yang menampilkan data bahwa pergeseran itu hanya mencakup sebagian masyarakat.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) pun berpendapat adanya perubahan perilaku di masyarakat saat ini yang memilih mengerem belanja. Dalam proses bisnis, berkembangnya teknologi serta seiring dengan meningkatnya pendapatan masyarakat akan mengubah pola hidup. Hal itu harus ditangkap para pelaku sektor ritel sebelum senja kala benar terjadi. (M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More