Nasib Pejalan Kaki Sepeninggal Galian Galian

Penulis: Anata Syah Fitri Pada: Sabtu, 04 Nov 2017, 19:39 WIB Features
Nasib Pejalan Kaki Sepeninggal Galian Galian

Dok. MI

BONGKAHAN-bongkahan beton tercecer di sepanjang trotoar Jalan Perjuangan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Di sekelilingnya, nampak pula ceceran pasir dan puing yang lebih kecil.

Susan yang baru saja keluar dari minimarket, dengan enggan menyusuri trotoar berdebu itu sambil mengibas-ngibaskan tangannya di sekitar hidung.

"Ini kotor begini sudah dari bulan apa, lebih dari sebulan seingat saya, dibiarkan saja seperti ini. Saya kurang tahu pasti galian buat kabel apa," keluhnya, Sabtu (4/11).

Hampir dua bulan lalu, untuk sebuah proyek galian, trotoar di sepanjang jalan itu dibolong-bolongi. Saat itu kondisinya jauh lebih runyam dari sekarang. Trotoar dengan lubang menganga, dipenuhi dengan gundukan pasir dan tanah di sekitarnya.

"Dulu pas lagi digali sih otomatis kita enggak bisa lewat. Bulan lalu saya malah pernah tersandung potongan beton, kaki saya sampai benjol. Tapi kok sampai sekarang masih berantakan juga ya. Kalau sudah masuk musim hujan jadi becek tanah kan trotoarnya," ujar Susan yang biasa menyusuri trotoar tersebut menuju apartemen tempatnya tinggal, tak jauh dari situ.

Penggalian trotoar itu dikerjakan bertahap di sepanjang Jalan Perjuangan hingga ke Jalan Pesanggrahan, Jakarta Barat. Hari berganti bulan, trotoar itu belum juga dibersihkan. Padahal proyek galian sudah rampung dikerjakan.

Pemandangan semacam itu bukan satu dua di Jakarta. Hal yang sama sudah dikeluhkan berkali-kali oleh para pejalan kaki. Bahkan komunitas Koalisi Pejalan Kaki kerap memposting laporan kondisi trotoar semacam itu di media sosial, dengan turut menautkan akun dinas terkait atau akun Pemprov DKI Jakarta.

Menjelang akhir masa jabatannya, mantan Gubernur Djarot Saiful Hidayat pun sudah mengambil sikap atas keluhan tersebut. Selama ini, urusan gali menggali trotoar, bisa berulang kali dilakukan di lokasi yang sama untuk keperluan utilitas yang berbeda.

Untuk mengatasi itu, pemprov berencana mengatur kabel-kabel utilitas, baik listrik, telepon, dan utilitas lainnya, melalui sistem ducting. Djarot pada waktu itu sudah menginformasikan rencana itu pada perusahaan-perusahaan utilitas terkait. Nantinya ducting kabel-kabel utilitas akan diletakkan dalam sebuah boks. Lalu ditanam di dalam trotoar.

Namun belakangan, ada pula masalah pada salah satu proyek penggalian pemasangan boks utilitas itu. Seorang pengendara motor terperosok ke lubang galian sedalam dua meter di Jalan Lodan, Pademangan, Jakarta Utara pada 29 Oktober lalu.

"Lama sekali pengerjaannya, dan tidak ditutup apa-apa lubangnya dan waktu itu tidak ada tanda peringatan, kan bahaya," ujar, Syamsuddin, warga Ancol, Pademangan.

Pemkot Jakarta Utara mengakui hal itu disebabkan kelalaian dan kelambanan pelaksana proyek galian. “Saya bilang sama pelaksana proyek, Anda tidak profesional. Seharusnya dua tiga lubang galian langsung ditutup,” ujar Wakil Wali Kota Jakarta Utara Junaedi beberapa waktu lalu.

Proyek sistem ducting, nantinya, akan dilakukan di seluruh wilayah Jakarta, dengan total 1.111 boks utilitas yang dipasang. Pengerjaannya tentu saja bertahap. Pembenahan trotoar di seluruh wilayah Ibu Kota diperkirakan membutuhkan waktu yang panjang.

“Revitalisasi semua trotoar di Jakarta ini tidak mungkin dilaksanakan hanya dalam waktu lima tahun. Saya perkirakan butuh waktu lebih dari lima tahun, baru selesai,” kata Djarot pada September lalu.

Setelah pergantian kepemimpinan Jakarta, proyek tersebut terus dilanjutkan. Sejumlah perusahaan utilitas sudah dipanggil dalam suatu pertemuan oleh Wakil Gubernur Sandiaga Uno, di pekan-pekan awal kepemimpinannya.

"Saya sih berharap segera selesai proyek galiannya. Tujuannya bagus sih tapi diawasinya bagaimana, siapa yang tanggung jawab, pemerintah atau kontraktornya?" tutur Anggi, warga yang setiap hari melintasi trotoar di Kemanggisan, Jakarta Barat.

Dinas Bina Marga mengaku, untuk melakukan penggalian, perusahaan harus mengajukan izin kepada Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Dinas Bina Marga bertugas menentukan apakah lokasi yang dipilih tidak akan menyebabkan kerusakan tanah dan risiko lain.

Namun ternyata, pengawasan pelaksanaan proyek tetap menjadi tanggung jawab konsultan independen. Tak heran jika kondisi trotoar yang berantakan atau lubang yang menganga tak langsung terpantau dinas. (OL-4)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More