Kembalinya Ziarah Parodi dan Satire

Penulis: Ferdian Ananda Majni Pada: Sabtu, 04 Nov 2017, 02:31 WIB Jendela Buku
Kembalinya Ziarah Parodi dan Satire

MI/Seno

SEBUAH karya sastra dibacakan berulang untuk dapat menemukan sesuatu hal di dalamnya.

Bahkan, seperti membaca karya baru dengan sejuta rahasia.

Bisa jadi ceritanya berdasarkan kehidupan biografinya, atau karena kaya akan sastra dalam sebuah roman yang apik.

Ziarah bukanlah karya terbaru.

Novel karya Iwan Simatupang diterbitkan pertama kali oleh Djambatan pada 1969.

Meski naskah telah diterima penerbit Djambatan 1960, itu baru dicetak pada 1969.

Cetakan pertama itu bertiras 3.000 eksemplar.

Cetakan kedua diterbitkan pada 1976 dengan tiras 4.000 eksemplar. Cetakan ketiga dilakukan pada 1983 dengan tiras 4.000 eksemplar.

Dua tahun kemudian, pada cetakan keempat dengan tiras 12.500 eksemplar.

Pada 1988, novel Ziarah dibeli Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan sebagai bahan bacaan yang penting bagi siswa sekolah menengah atas (SMA).

Pada cetakan selanjutnya dengan tiras 3.000 eksemplar diterbitkan pada 2001.

Iwan Simatupang menunjukkan tren perkembangan novel parodi dan satire dengan memperlihatkan corak yang unik dengan pemikiran yang bernas dan orisinal sehingga menghasilkan sebuah karya yang utuh bagi dunia sastra dan gebrakan hebat pada masa itu.

Tak dapat dipungkiri, Ziarah bagi sebagian kalangan sangat fenomenal.

Karya sastra ini menarik dan berbeda dibandingkan dengan karya sastra Indonesia lainnya.

Oleh apa pun sebab itu, novel ini kembali lahir dengan wajah baru.

Tentunya, tidak ada perubahan dalam naskahnya. Semua masih seperti sedia kala hidup dan menggairahkan untuk dinikmati.

Di samping itu, Ziarah bukan tanpa cacat.

Tak sedikit para pakar sastra mengkritik pergulatan budaya Barat sehingga mereka menganggap Iwan Simatupang sebagai pengarang borjuis.

Sebab itu, dalam penerbitannya, Ziarah mengalami kesulitan hingga akhirnya Ziarah dapat diterbitkan pada 1969 pun atas surat rekomendasi HB Jassin dan Bangun Siagian ke penerbit.

Kritikus terkemuka Indonesia, HB Jassin, sangat mendorong terbitnya novel Ziarah.

Bahkan, ia menyebutkan sulit rasanya merumuskan permasalahan dalam novel Ziarah.

Walaupun demikian, gaya novel ini sangat modern, sederhana, dan meniadakan yang tidak perlu. Diperlukan waktu untuk dapat menghargai novel Ziarah.

Novel Ziarah merupakan halaman baru pernovelan dalam kesusastraan Indonesia.

Ada pula kritikus yang meragukan pembaharuan novel Ziarah. Sapardi Djoko Damono mempertanyakan kebesaran gagasan yang ada di dalam Ziarah.

Sapardi menganggap novel itu sangat lucu. Wing Karjo juga melihat adanya unsur penjelasan pengarang yang terasa agak mengganggu para pembaca.

Namun, ada persamaan yang dapat diambil dari semua pendapat para kritikus itu bahwa novel ini sulit dipahami.

Untuk memahaminya, diperlukan suatu kecermatan dan pengetahuan yang dalam tentang hal itu.

Bener adanya, terputus-putus.

Halaman demi halaman perlu ketelitian meresapi setiap kata hingga bait yang merangkai di novel ini.

Guna memahami Ziarah, pembaca perlu menggunakan kesadaran filsafat tentang kehidupan dan kematian manusia, pemberontakan, dan kesadaran sosial.

Begitu juga berdasarkan analisis, diketahui Ziarah melanggar kaidah novel tradisional.

Pengarang melakukan pemberontakan dalam sastra melalui tokoh pelukis yang tidak mau dijadikan sebagai budak birokrasi.

Fiktif hilang pada identitas tokoh pelukis tidak dikenal. Kerangka dan waktu pada peristiwa pernikahan hanya sebagai simbol hingga ia anggap penganut aliran kesusastraan Prancis.

Iwan Simatupang dilahirkan di Silbolga 18 Januari 1928.

Ia dikenal sebagai wartawan dan sastrawan. Sebagai penulis ia sudah memulainya pada 1952 di Majalah Siasat dan Mimbar Indonesia.

Ia terkenal karena 2 novelnya Merahnya Merah (1968) dan Ziarah (1970).

Ia juga menulis drama, antara lain Cactus dan Kemerdekaan dan Petang di Taman.

Bahkan, dua novelnya yang lain Kering (1972) dan Koong (1975) terbit setelah ia meninggal di Jakarta 4 Agustus 1970.

Ilmu filsafat

Ziarah memang novel yang menarik, tetapi diperlukan suatu pengetahuan psikologis untuk dapat memahaminya.

Penulisnya menempatkan tokoh-tokohnya di depan sebuah kaca gila, dalam proporsi dan dimensi yang tidak biasa.

Meski demikian, Ziarah tidak hanya menyampaikan sebuah cerita.

Lebih dari itu, ia juga menunjukkan bagaimana sebaiknya cerita disampaikan.

Tak kurang dalam setiap bagian novel terdapat kalimat-kalimat yang merupakan ilmu filsafat.

"Balas dendam memerlukan persiapan, pemikiran, memerlukan sistem filsafat tersendiri yang merentangkan isi, tujuan, faedah dan dalih balas dendam itu nanti kepada dirinya sendiri, kepada anak cucunya dan apabila masih ada juga umat manusia dan kemanusiaan sesudah kurun sejarah kini juga kepada umat manusia dan kemanusiaan yang akan datang."

Begitu juga dalam parodinya, seperti saat ketika opseter dan wali kota saling melihat bola mata.

Mereka saling terkejut dan saling berteriak.

Tentu saja mengundang tawa bagi pelukis yang menyaksikannya.

Kemudian saat menceritakan kisah ketenaran pelukis, yang justru membuat dia hampir bunuh diri sebelum akhirnya mengawini seorang gadis.

Dalam menghadirkan sebuah konflik, Iwan terlihat total dan mendramakan, tapi akhirnya juga sangat mengagumkan.

Penambahan cerita yang didramatisasi itu justru semakin membuat semangat pembaca.

Ini terlihat saat menceritakan kematian wali kota setelah gemetar mendengar kata-kata proporsi dari opseter dan saat sang istri kehilangan giginya. Setiap bagiannya begitu terasa dihati pembaca.

Ada pula yang menyebutkan keutuhan novel ini, ada pada diri pembaca. Karya sastra ini menggunakan aliran eksistensialisme.

Dalam filsafat muncul dari rasa ketidakpuasan terhadap dikotomi (dua kelompok yang saling bertentangan), yaitu aliran idealisme dan aliran materialisme dalam memaknai kehidupan ini.

Aliran idealisme hanya mementingkan ide sebagai sumber kebenaran kehidupan, sedangkan materialisme menganggap materi sebagai sumber kebenaran kehidupan sehingga mengabaikan manusia sebagai makhluk hidup yang mempunyai keberadaan sendiri serta tidak sama dengan makhluk lainnya.

(M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More