Social Enterprise Menjawab Tantangan

Penulis: Retno Hemawati Pada: Jumat, 03 Nov 2017, 12:34 WIB Humaniora
Social Enterprise Menjawab Tantangan

MI/ADAM DWI

SEBUAH bisnis yang baik setidaknya harus berorientasi pada 3P, yakni people, planet, and profit. Itu juga berlaku pada social enterprise yang tentu saja tidak mungkin hanya mementingkan profit. Namun, sayangnya, keberadaan social entrepreneur di Indonesia masih sangat sedikit. Padahal, hadirnya semangat social enterprise dapat menjawab tantangan dan kondisi sosial di berbagai sektor, seperti pendidikan, kesehatan, tenaga kerja, dan transportasi.

Tumbuhnya social enterprise di Indonesia seiring dan sejalan dengan banyaknya penanaman modal asing (PMA) yang kemudian berdatangan. Tak bisa dimungkiri, kehadiran PMA di Indonesia merupakan salah satu faktor penting dalam pembangunan negara.

Menjaring modal dari investor asing memiliki dua dampak yang saling bertolakan. Di satu sisi jika dikelola dengan baik, PMA dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Namun, di sisi yang lain, ada ancaman penguasaan asing yang berlebih terhadap sumber daya milik suatu negara.

Yang akan dibahas kali ini ialah Transformational Business Network (TBN). TBN merupakan organisasi nirlaba yang berfokus pada penggunaan bisnis dengan dampak sosial untuk mengurangi kemiskinan di Asia Tenggara. Perusahaan itu mempunya visi yang sangat mulia, yakni memerangi kemiskinan melalui pengusaha atau perusahaan.

Agar lebih dekat dan semakin me­ngenal, TBN memiliki 4-5 investasi di Indonesia. Salah satunya ialah Paloma Shopway. Paloma Shopway ialah bisnis katalog belanja rumahan, dan mereka punya 270 ribu perempuan sebagai agen penjual.

“Ya, ini untuk membantu pemberdayaan perempuan. Mereka mendapat keuntungan 25% dari harga yang ada di katalog. Yang menjadi perhatian saya dari bisnis ini adalah apakah ini bisa membantu orangtua tunggal,” kata Kim Tan, Co-founder TBN Asia, saat berbincang dengan Veronica Colondam dan Ben Soebiakto.

Dia menambahkan, dengan permasalahan imigrasi di Indonesia, ada banyak ibu tunggal yang tidak memiliki tumpuan. Jadi, bisnis itu membuat mereka bisa mengurus keluarga dan juga mendapat penghasilan. Itu merupakan salah satu investasi TBN di Indonesia.

Selain Paloma Shopway, ada Mahoni yang merupakan sebuah portal edukasi yang memungkinkan Anda mengunduh buku teks secara gratis. Sebanyak 2,5 juta buku teks telah diunduh sejak beberapa tahun terakhir.

“Kami juga akan memulai bisnis toilet yang telah kami investasikan di sini. Lalu kami sedang melihat plastik ramah lingkungan yang terbuat dari singkong, bagaimana kami bisa menghijaukan bumi melalui plastik.

Indonesia adalah wilayah yang sangat penting bagi kami, dan lebih mudah juga untuk dijangkau dari Singapura. Karena di sana tidak ada masalah kemiskinan, tidak banyak kesempatan untuk berbuat sesuatu, selain pusat layanan telepon di penjara Changi,” kata dia.

Kim Tan juga optimistis, kini banyak pengusaha besar dan sukses yang mengerjakan bisnis mereka dengan cara yang lebih bertanggung jawab dari segi sosial.

Perbincangan itu akan berlangsung panjang yang menarik dan penuh optimisme. Host Andy F Noya bersama Amanda Zevannya akan memandu acara ini, termasuk berdiskusi bersama para narasumber, yaitu Hari Santosa Sungkari (Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif), Kukuh Budi Santoso (Co-founder & COO Tanijoy), dan Muhamad Nanda Putra (Co-founder & CEO Tanijoy).

Kali ini, mereka didampingi mentor Veronica Colondam (Founder YCAB) & Ben Soebiakto (Founder Ideafest) yang akan memberikan banyak insight kepada narasumber. (H-3)

retnoretno@mediaindonesia.com

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More