Industri Digital Bisa Tekan Angka Pengangguran

Penulis: M Taufan SP Bustan/M-2 Pada: Minggu, 29 Okt 2017, 08:19 WIB Jeda
Industri Digital Bisa Tekan Angka Pengangguran

Puluhan karyawan Bukalapak bersukacita saat berfoto bersama di kantornya kawasan Kemang, Jakarta Selatan. -- Dok. Bukalapak

SETIAP orang, apalagi generasi muda, dapat menjadi entrepreneur dan berkarya sesuai dengan minat masing-masing. Mereka sudah pasti anugerah bagi bangsa ini di masa depan. Namun, mereka harus terus didorong dan dimotivasi sehingga semangat maju, berkarya, dan berusaha mereka terus ada. "Saya yakin setiap anak muda yang masuk generasi usia produktif bisa bersaing ke depan," aku Founder dan CEO of Bukalapak Achmad Zaky di Jakarta, Kamis (26/10).

Menurut pengusaha muda yang tengah di masa ketenaran itu, jika mau terus berusaha dan mengikuti tren yang sudah sangat berkembang ini, mereka tidak akan masuk kelompok orang-orang pengangguran.

Sebagaimana dilansir Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran terbuka per Februari 2017 mencapai 7,01 juta orang, turun 20 ribu orang daripada Agustus 2016, berkurang 10 ribu ketimbang periode yang sama 2016.

Dari tingkat pendidikan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) untuk kelompok berpendidikan sekolah menengah kejuruan paling tinggi di antara lulusan pendidikan yang lain, yaitu 9,27%, diikuti sekolah menengah atas (7,03%) serta diploma I/II/II 6,35%.

Sementara itu, warga berpendidikan rendah terlihat cenderung mau menerima pekerjaan apa saja karena TPT untuk lulusan SD hanya 3,54% atau paling kecil daripada lulusan lainnya.

"Jumlah pengangguran yang cukup tinggi ini cukup membuat miris dan itu harus terus menurun tiap tahun," harap Zaky.

Ke depan untuk menyiapkan generasi emas bangsa termasuk menyikapi bonus demografi Indonesia, pemerintah harus berperan penting.

Sebagai contoh pemerintahan Presiden Joko Widodo harus lebih memberikan perhatian dalam perkembangan industri digital yang sudah sangat pesat sehingga dapat mendukung pertumbuhan industri digital di Indonesia kelak.

Zaky percaya hal ini dapat membuka peluang bagi semua entrepreneur untuk berkontribusi menyediakan infrastruktur digital dan turut serta mengurangi kesenjangan digital bagi menghubungkan masyarakat Indonesia ke seluruh dunia.

"Dengan demikian, angka pengangguran pun bisa ditekan. Anak-anak usia produktif dengan keahlian masing-masing bisa terserap untuk menjadi pekerja yang menghasilkan," jelasnya.

Memang persoalan pendidikan menjadi hal yang paling penting diperhatikan pemerintah. Pun begitu, generasi muda juga harus mengembangkan ekosistem yang akan menghasilkan orang yang selalu haus akan pengetahuan dan berani mencoba tantangan.

Produktif dan giat bekerja
Sekarang pendidikan formal dan informal sama-sama penting sehingga jenis pendidikan ini dapat diteruskan ke anak-anak Indonesia agar mereka bisa punya bekal yang cukup untuk masa depan.

"Saya berharap pemuda Indonesia, orang-orang yang memiliki spirit yang kreatif, inovatif, adaptif, bisa turut mendukung upaya pemerintah agar generasi penerus bangsa bisa mendapatkan pendidikan yang sesuai untuk masa depan. Saya sendiri dari Sragen, Jawa Tengah, dan belajar terus supaya bisa ke perguruan tinggi. Apalagi kita punya banyak sekolah dan pendidikan yang berkualitas," ungkap Zaky.

Soal Indonesia menyongsong bonus demografi, diakuinya, generasi muda siap kerja itu sedang semangat-semangatnya berkarya dan jadi pengusaha. "Ini yang harus terus kita dukung dan tularkan ke seluruh masyarakat Indonesia, agar kita jadi bangsa yang produktif dan giat bekerja," ujarnya.

Zaky tidak jauh bicara mengenai apa yang kurang diantisipasi, tapi apa yang bisa dimanfaatkan dari apa yang ada sekarang. Dunia digital ini dunia yang baru buat semua. Lewat dunia digital, semua hal yang baik dan buruk dapat dengan mudah dilihat dan jadi contoh.

"Nah, sekarang bagaimana kita menggunakan dunia digital ini sebagai bentuk perubahan yang bisa membantu seluruh masyarakat Indonesia, mulai distribusi pendidikan hingga perekonomian," ajaknya.

Anak muda saat ini tahu apa yang mereka mau. Kalau tidak ada, mereka pasti bisa membuatnya, dengan terus fokus mengembangkan kreativitas dalam berkarya dan berbisnis.

"Saya yakin hal ini dapat mendukung setiap pelaku UKM yang nantinya diisi anak-anak muda di Indonesia untuk bersaing di kancah global," pungkas Zaky. (M Taufan SP Bustan/M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More